SEJARAH DOGMA KRISTOLOGI
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Kristus Pada Umat Kristen

Dr. C. Groenen OFM

4. Yesus Kritus tidak terbagi

Hidup Kristen dalam Gereja Katolik selama abad XV sangat merosot di segala bidang, tidak terkecuali bidang pemikiran teologik. Ada pelbagai sebab musababnya. Antara lain skisma besar yang melanda Gereja Katolik dan kekristenan antara tahun 1378 dan tahun 1417. Sekaligus berkembanglah suatu alam pikiran baru yang dikaitkan dengan apa yang diistilahkan sebagai "renaissance" dan yang menghasilkan alam pikiran humanisme. Pusat perhatian orang tidak lagi Allah dan dunia (kosmos), melainkan manusia sendiri. Ilmu pengetahuan juga maju dengan pesatnya, khususnya di bidang ilmu positif dan sejarah. Filsafat dan teologi skolastik mengalami suatu krisis hebat akibat Nominalisme (berasal dari Wilhelm dari Ockham ± th. 1350) yang merajalela di mana-mana.

Kemerosotan tersebut mencetuskan pelbagai reaksi dan usaha perbaikan tanpa banyak hasilnya sampai akhirnya meledaklah apa yang diistilahkan "reformasi." Sebagai titik awal reformasi itu disebutkan tahun 1517, ketika Martin Luther secara terbuka mulai menentang kemerosotan dalam Gereja Katolik. Reformasi yang cepat-cepat meluas ke mana-mana mencetuskan reaksi dari pihak Gereja Roma Katolik, yaitu "contra-reformasi" yang disuarakan oleh konsili Trente (th. 1545-1563).

Secara langsung kristologi tidak menjadi pusat perhatian para reformator (Luther, ± 1546; Kalvinus, ± th. 1564; Zwingli, ± th. 1531). Karena itu pun kristologi tidak menjadi tema pada konsili Trente. Pada reformator menerima konsili-konsili lama, antara lain Khalkedon dan Konstantinopolis III, kalaupun tidak memberinya wewenang seperti yang diberi oleh Gereja Roma Katolik. Para reformator terlebih memikirkan masalah dosa dan rahmat, pembenaran manusia dan Gereja. Teologi para reformator pada dasarnya terlebih antropologi teologis.

Martin Luther, seorang rahib pengikut Augustinus, sebenarnya melanjutkan dan memperuncing garis pemikiran yang dimulai dengan Augustinus. Maka kristologi Luther (dan lain-lain reformator) pada dasarnya soteriologi. Luther terlebih memikirkan mana makna dan relevansi Yesus Kristus bagi manusia (yang berdosa). Luther memang kritis terhadap teologi (termasuk kristologi) spekulatif-skolastik, sebagaimana ia mengenal dan mempelajarinya. Ia tidak dapat menyetujui pemakaian filsafat dalam teologi. Teologi macam itu dinilainya sebagai "theologia gloriae," kesombongan manusia yang dengan otaknya mencoba memahami Allah dan menjelaskan Yesus Kristus. Luther tidak senang dengan caranya para teolog skolastik menganalisis diri Yesus Kristus. Menguraikan "struktur" intern Allah-manusia, Juru Selamat orang berdosa. Jauh lebih penting daripada masalah-masalah halus sekitar diri Yesus Kristus ialah: bagaimana Yesus Kristus menyelamatkan manusia berdosa yang tidak mampu sama sekali. Oleh karena Luther dan lain-lain reformator langsung kembali kepada Alkitab dengan melepaskan teologi skolastik, mereka tentu saja memperkaya kristologi dengan banyak bahan dari Alkitab yang kurang berperan dalam kristologi skolastik. Dan dengan demikian kristologi Luther toh sedikit lebih dekat dengan kristologi yang tercantum dalam Perjanjian Baru.

Maka Luther dan para reformator terutama mengembangkan kristologi dari segi soteriologisnya. Tetapi sekaligus mereka mempersempit segi itu dibandingkan dengan apa yang diwartakan Perjanjian Baru. Agak sehaluan dengan pendekatan Augustinus Luther dan para reformator memusatkan perhatiannya pada penebusan aktual, pada rahmat dan pembenaran, sebagaimana kini sampai kepada manusia secara pribadi dan perorangan. Segi historis pada peristiwa Yesus kurang mendapat perhatian. Dan tekanan diletakkan pada kematian Yesus sebagai dasar penebusan manusia serta pembenaran orang berdosa. Dalam peristiwa Yesus, tegasnya dalam kematian-Nya di salib, terjadilah suatu "penggantian yang membahagiakan." Sebagai pengganti manusia berdosa Yesus terkena penghakiman, murka Allah, dan menjalani seluruh hukuman atas dosa manusia sampai dengan tertinggal oleh Allah. Tetapi dengan demikian "kebenaran" (justitia) Yesus dikenakan pada manusia. Dalam peristiwa Yesus itu Allah dalam rupa penghakiman dan murka (sub contrario) mendamaikan manusia berdosa dengan diri-Nya. Kristus, Anak Allah, menjadi kebenaran manusia berdosa dan dengan iman, berarti mempercayakan diri kepada Allah, kebenaran Kristus itu dikenakan pada manusia yang lalu dapat berbuah dalam kasih. Luther sebenarnya tidak menerima ajaran Anselmus tentang "satisfactio vicaria," oleh karena nampaknya manusia toh dapat melunasi hutangnya kepada Allah. Paham juridik semacam itu tidak sesuai dengan pendekatan Luther. Menurut pendekatan Luther ajaran Anseimus belum cukup radikal. Menurutnya Yesus Kristus seluruhnya menjadi pengganti manusia, baik dalam dosa maupun dalam rahmat. Rahmat Allah yang membenarkan manusia berdosa sesungguhnya berupa Yesus Kristus di salib. Allah dan Rahmat-Nya itu memang suatu paradoks yang tidak terselami oleh akal manusia. Maka Luther habis-habisan mengeritik teologi skolastik, oleh karena dengan filsafatnya mengira dapat "mengupas" Allah dan Yesus Kristus, yang dengan demikian ditaklukkan oleh akal manusia. Manusia tidak dapat "mengupas Allah," tetapi hanya dengan iman mempercayakan diri kepada rahasia-Nya.

Reformasi yang dirintis oleh Luther memecahkan kekristenan Eropa dan membagi-bagi Gereja, tetapi, syukurlah, Yesus Kristus secara langsung tak terkena dan tidak menjadi terbagi-bagi. Lain daripada di masa yang lampau (Nestorian, Monophysit) pemikiran umat Kristen tentang Yesus Kristus pada dasarnya sama. Tentu saja selanjutnya pemikiran umat Reformasi menempuh jalannya sendiri lepas dari skolastik, sedangkan pemikiran umat Kristen Roma Katolik masih lama meneruskan jalur skolastik.

Tetapi Reformasi toh menggalakkan pembaharuan dalam teologi skolastik. Pada awal abad XVI pembaharuan itu sudah dimulai di negeri Spanyol, khususnya pada universitas di Salamanca yang didirikan oleh Fransiskus de Victoria (± th. 1546). Sejak tahun 1526 di sana Summa Theologica, karya matang Thomas Aquinas, menjadi buku pedoman dalam teologi. Dan dari Salamanca Summa Theologica itu cepat-cepat pindah ke universitas-universitas dan sekolah-sekolah teologi lainnya sebagai buku pedoman. Dengan jalan demikian skolastik abad XIII dihidupkan kembali, khususnya setelah Thomas Aquinas (th. 1567) dan Bonaventura (th. 1587) diangkat oleh paus menjadi pemimpin-pemimpin teologi Gereja roma Katolik. Kedudukan dan peranan Thomas itu masih diperteguh oleh P. Leo XIII (bandingkan dengan DS 3139-3140) pada tahun 1879. Maka teologi spekulatif, termasuk kristologi dan soteriologi, berupa komentar-komentar atas Summa Theologica Thomas Aquinas. Yesus Kristus tetap Yesus Kristus konsili Khalkedon/Konstantinopolis, sebagaimana ditafsirkan oleh para skolastisi dahulu. Reformasi menolak tafsiran itu.

Neoskolastik tersebut (contrareformasi) banyak terlibat dalam pertikaian dengan reformasi. Dan pertikaian itu tentu saja merangsang pemikiran para teolog Katolik. Oleh karena pertikaian itu terutama mengenai dosa dan rahmat dan kebebasan manusia di bawah rahmat Allah, maka kurang menyuburkan kristologi. Namun demikian, suatu unsur baru disumbangkan oleh humanisme bersama dengan reformasi. Humanisme antara lain mengarahkan perhatian ke masa yang lampau, kepada masa awal. Dengan perkataan lain perhatian terpikat oleh sejarah. Mulai berkembanglah ilmu sejarah, juga dalam rangka teologi. Orang mempelajari bahasa-bahasa kuno, khususnya bahasa Alkitab, yaitu Latin, Yunani dan Ibrani, dan karya-karya para pujangga Gereja serta Kitab Suci dibaca dalam bahasa aslinya. Berkembanglah teologi historis dan patristik, antara lain untuk membela tradisi Roma Katolik terhadap serangan dan kecaman dari pihak Reformasi. Reformasi itu, yang menjadikan Kitab Suci sumber tertinggi seluruh teologi, memaksa teolog-teolog Katolik menyibukkan diri dengan Alkitab dan menulis tafsiran-tafsiran baru. Dengan demikian juga teologi Katolik tnenjadi lebih alkitabiah. Karya pertama yang memperlihatkan tendensi baru itu ialah "De locis theologicis," karangan Melkhior Cano (± th. 1560). Karya itu menjadi mendasar untuk teologi Katolik selanjutnya.

Hanya hasil penelitian sejarah dan Alkitab oleh pihak Katolik biasanya ditampung dan dipasang dalam kerangka teologi skolastik seperti digariskan Thomas Aquinas dan Bonaventura. Teologi spekulatif tetap diutamakan, meskipun terangsang dan tersuburkan oleh penelitian sejarah dan Kitab Suci. Maka sejarah dan Kitab Suci kurang dimanfaatkan untuk memperluas dan meninjau kembali pemikiran skolastik yang sudah tradisional di kalangan Gereja Roma Katolik.

Kristologi tidak menjadi pokok pertikaian, entah antara Gereja Roma Katolik dan Reformasi, entah antara berbagai aliran di kalangan umat Roma Katolik sendiri. Apa yang dipertikaikan dan dipikirkan di kalangan Katolik sendiri ialah masalah rahmat dan kebebasan manusia (Baius, ± th. 1564, Molina ± th. 1600; pendukung-pendukung C. Jansenius, ± th. 1638; bandingkan dengan DS 1901 dst.; 1997 dst.; 2001 dst.; 2301 dst.). Maka di kalangan Gereja Katolik selama abad XVI-XVIII kristologi - terpisah dari soteriologi dan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus - tidak mengalami perubahan atau pembaharuan yang berarti. Kristologi spekulatif yang menafsirkan, menjernihkan, antara lain atas latar belakang historiknya, menjelaskan lebih jauh syahadat konsili Khalkedon-Konstantinopolis dan menjabarkan dari padanya beberapa pikiran lebih terperinci. Kristologi tetap tinggal "kristologi dari atas" melulu. Baru melalui kristologi afektif dan kerakyatan Yesus Kristus menjadi berdarah daging, konkret dan bermakna bagi umat beriman.

(sebelum, sesudah)


SEJARAH DOGMA KRISTOLOGI
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Kristus Pada Umat Kristen
PENERBIT KANISIUS (Anggota IKAPI)
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Telepon (0274) 588783, 565996, Fax (0274) 563349
E-Mail: office@kanisiusmedia.com
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Sumbangan Salib Bening [salib.bening@gmail.com]

Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.