SEJARAH DOGMA KRISTOLOGI
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Kristus Pada Umat Kristen

Dr. C. Groenen OFM

2. Umat Kristen Reformasi menjadi bingung tentang Yesus Kristus

Soal pokok yang mau tak mau mesti dihadapi umat Kristen selama abad XIX dan XX ialah: Bagaimana mewartakan Yesus Kristus kepada manusia yang hidup dan bergerak dalam alam pikiran barat yang baru. Alam pikiran itu ditentukan oleh otonomi manusia, oleh ilmu pengetahuan empiris yang melalui teknik menciptakan dunia manusia dan mengatur segala sesuatu, pemikiran yang menjadi sadar akan sejarah dan ciri historis segala apa. Ini suatu alam pikiran dan dunia yang berpusatkan manusia sendiri, di mana bukan manusia melainkan Allah menjadi problem. Dalam dunia ini metafisik Yunani kehilangan dampaknya. Kristologi tradisional justru memakai metafisik itu untuk mewartakan Yesus Kristus. Tetapi pewartaan serta pengungkapan dan konsep-konsep yang dipakai tidak lagi dipahami oleh dunia baru. Tidak sedikit dari soteriologi tradisional (dosa, dosa asal, penebusan, penyilihan ganti orang lain - satisfactio vicaria dsb.) dirasakan sebagai serangan atas otonomi manusia. Pokoknya seluruh dogma Kristen tradisional serta ajaran biasa tidak dipahami lagi dan dirasakan sebagai berlawanan dengan "ratio," daya pikir manusia yang menjadi ukuran realitas sendiri.

Para pemikir di kalangan umat Kristen Reformasi paling peka dan terbuka bagi dunia baru itu. Mereka mulai memprihatinkan nasib iman kepercayaan Kristen. Para reformator dahulu (Luther, Kalvinus) menerima kristologi seperti dirumuskan konsili-konsili kuno. Mereka hanya lebih jauh memikirkan soteriologi tradisional. Para pengikut reformator-reformator malah lebih lagi kembali kepada kristologi/soteriologi tradisional. Mereka pun kembali mulai memanfaatkan filsafat, tegasnya metafisik Yunani. Luther dan Kalvinus sendiri menganggap filsafat tidak pada tempatnya dalam teologi. Dengan pedas mereka mengecam teologi skolastik yang menurutnya, terjerat dalam filsafat, dalam apa yang oleh Luther diistilahkan sebagai "theologia gloriae," teologi kebanggaan manusia yang dengan otaknya (filsafat) rnau menguasai dan menaklukkan Allah.

Berdasarkan pandangan Luther dan Kalvinus para pemikir Reformasi kurang terikat pada tradisi, pada dogma-dogma tradisional, apalagi kepada suatu instansi yang berkuasa untuk mengajar dengan tidak sesat (tradisi, konsili-konsili). Alkitablah yang menjadi satu-satunya tolok ukur dan instansi yang berwewenang. Maka tradisi dapat dilepaskan dan Alkitab ditafsirkan secara ilmiah dan dengan lebih bebas. Sejak awal Reformasi berusaha secara ilmiah menafsirkan Kitab Suci dengan menekankan arti harafiah dan menolak tafsiran alegoris. Dengan timbulnya kesadaran historis orang pun menjadi sadar bahwa juga Alkitab mempunyai ciri historis, sehingga dalam menafsirkan Kitab Suci boleh saja dipakai patokan ilmu sejarah.

Pendirian itulan menyebabkan sementara pemikir di kalangan Reformasi condong dan berusaha menyesuaikan pewartaan dengan alam pikiran baru itu. Dan usaha itu tentu saja pertama-tama mengenai pokok utama iman dan pewartaan Kristen, yaitu Yesus Kristus serta hal ihwal-Nya. Dicari jalan dan akal, supaya Yesus Kristus tetap bermakna dan relevan bagi manusia yang hidup di dunia baru itu. Dengan mengulang-ulang dogma masa yang lampau orang tidak lagi mencapai manusia modern. Yesus Kristus harus dipikirkan kembali, mesti disusun kristologi dan soteriologi baru. Selama abad XVIII dan XIX rasionalisme dan empirisme merajalela di dunia barat. Demikian pun ilmu sejarah (dalam arti positivis: menentukan apa yang persis terjadi dahulu dan bagaimana peristiwa-peristiwa berkaitan satu sama lain) berkembang. Dogma-dogma kristologis dan soteriologis tradisional (yang didasarkan pada "wahyu" dengan arti: pemberitahuan) tidak masuk akal rasionalis (tidak dapat dipikirkan). Maka dicari pegangan dalam sejarah. Ada usaha memperlihatkan bahwa Yesus seperti dahulu tampil di muka bumi sebagai manusia tetap relevan sepanjang masa, Kalau kristologi tradisional terutama mengembangkan dan menekankan bahwa Yesus Kristus "sehakikat dengan Bapa" (jadi: Allah), maka pendekatan historis itu mengembangkan dan menekankan segi lain, yaitu: Yesus "sehakikat dengan kita," (jadi: manusia). Begitulah "kristologi dari atas" diganti dengan "kristologi dari bawah." Dengan menekankan (malah secara eksklusif) "manusia" Yesus Kristus, pewartaan menjadi lebih sesuai dengan alam pikiran yang berpusatkan manusia, mendasarkan diri pada pengamatan (empirisme, historisisme) dan akal manusia (rasionalisme, ideal isme).

Usaha pertama yang cukup radikal dilontarkan oleh seorang orientalis Jerman, H. S. Reimarus (± th. 1766). Pikirannya tertuang dalam karya: Apologie oder Schutzschrift für die vernunftigen Verehrer Gottes. Ia sendiri tidak berani menerbitkan tulisannya. Kemudian (th. 1774-1776) beberapa bagian karya Reimarus diterbitkan oleh G. E. Lessing dengan judul: Fragmente eines Wolfenbüteler Ungenannten. Lessing seorang filsuf rasionalis dan sama seperti Reimarus berpegang pada adanya Allah (Deis). Reimarus mencoba menerapkan patokan ilmu sejarah pada Perjanjian Baru untuk menemukan Yesus yang sebenarnya, bersih dari segala dogma. Reimarus menjadi yakin bahwa umat Kristen semula memindahkan kepada Yesus banyak "mitos" dan dengan demikian mengubah Yesus yang sebenarnya menjadi Anak Allah, Allah dan Juru Selamat. Sejarah dipalsukan. Mitos-mitos itu tidak lagi dapat diterima oleh manusia baru, yang maju dan berkembang dalam pikirannya, menjadi ilmiah. Segala apa yang tidak masuk akal tidak berkaitan dengan Yesus yang sebenarnya. Yesus yang sebenarnya menurut Reimarus sebagai berikut: Yesus tampil di dunia Yahudi sebagai Mesias politik yang memperjuangkan kebebasan politik bangsa-Nya. Tetapi Yesus dalam hal itu gagal. Dari segi itu Yesus tidak lagi relevan. Tetapi Yesus juga seorang "guru," yang mengajar suatu etika luhur dan mulia serta merohanikan agama Yahudi. Yesus sendiri secara konsisten melaksanakan ajaran-Nya dan dengan demikian menjadi suatu teladan dan contoh untuk sekalian abad. Yesus mau menobatkan dan mengubah manusia menjadi lurus dan benar, rajin bekerja dan menyempurnakan dirinya. Sebagai manusia luhur serta guru etika yang mulia Yesus memang dapat diterima oleh rasionalis abad XIX, sebab Yesus yang ditemukan Reimarus persis cocok dengan cita-cita rasionalisme, cita-cita seperti disebarluaskan oleh Voltaire dan Rousseau. Sebagai guru dan teladan Yesus menjadi awal historis agama (natural) Kristen dan agama itu tentu saja unggul oleh karena rasional.

Pikiran Reimarus banyak dikritik oleh orang sezamannya, oleh karena metode yang dipakai tidak sesuai dengan patokan ilmu sejarah dan hasilnya terlalu berdasarkan daya khayal belaka. Namun demikian pendekatan Reimarus dan berbagai gagasan mendasarnya selama seratus tahun lebih berpengaruh. Jalur Reimarus, tentu dengan banyak variasi, ditempuh misalnya oleh H. E. G. Paulus (Das Leben Jesu als Grundlage einer reinen Geschichte des Christentums, 1828), K. Hase (Dan Leben Jesu, Ein Lehrbuch, 1829; Vorlesungen über die Geschichte Jesu, 1876). Reimarus dan para rasionalis itu puas, bila dapat menggali dan menemukan seorang Yesus yang sesuai dengan cita-cita para intelektual di masanya. Mereka sebenarnya tidak mengambil pusing tentang sejarah yang sesungguhnya. Sebab akal menjadi ukuran realitas.

Tokoh berikut yang amat besar dampaknya ialah D. F. Strauss dengan karyanya: Leben Jesu kritisch bearbeitet, 2 jilid (1835) dan; Das Leben Jesu für das deutsche Volk (1864). Strauss secara konsisten menerapkan gagasan yang sudah dikemukakan Reimarus, yaitu: Mitos. Riwayat Yesus yang menurut Strauss masih dapat digali dari Perjanjian Baru ialah sebagai berikut: Yesus dibesarkan di Nazarethh, dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, mengumpulkan pengikut. Sebagai guru Ia berkeliling di Palestina, mengajak orang untuk mempersiapkan diri bagi kerajaan Mesias. Tetapi Yesus dilawan oleh kaum Farisi dan akibat kebencian dan iri hati mereka Yesus akhirnya mati disalibkan. Tetapi riwayat yang amat sederhana dan manusiawi itu oleh umat Kristen semula ditutupi dengan segala macam mitos yang dipinjam dari segala jurusan. Dalam mitos-mitos itu pikiran dan pandangan umat dijadikan peristiwa-peristiwa. "Gambar" Yesus historis yang toh masih disajikan Strauss tidak banyak berbeda dengan yang diberikan Reimarus.

Strauss sebenarnya seorang penganut filsafat idealisme, tegasnya filsafat Hegel. Maka yang penting baginya bukan "sejarah" sebagai peristiwa, melainkan "idea." Idea itu dikonkretkan dalam (ceritera) mitos-mitos sekitar Yesus. Apa yang penting dan relevan serta tetap bermakna justru "idea" itu. Sasaran iman kepercayaan Kristen bukanlah Yesus hitoris, apalagi Yesus Kristus dari dogma, melainkan idea abadi. Puncak perkembangan "roh mutlak" (= Allah) ialah Allah-manusia. Yesus, seperti diwartakan umat Kristen, justru "idea" Allah-manusia itu. Dengan demikian diri Yesus, sebagai tokoh individual, biar manusia sekali pun, hilang dari iman Kristen. Dalam alam pemikiran Hegel memang yang real dan bermakna justru "idea," seperti diwartakan umat Kristen.

Jalur yang sama (filsafat Hegel) ditempuh oleh F. Chr. Baur (Die christliche Lehre von der Versöhnung in ihrer geschichtlichen Entwikkelung von der ältesten Zeit bis auf die neueste, 1838; Die christliche Lehre von der Dreieinigkeit und Menschwerdung Góttes in ihrer geschichtlichen Entwickelung, 3 jilid, 1843). Menurut Baur Yesus Kristus seperti yang diwartakan Perjanjian Baru merupakan puncak perkembangan "idea" yang terungkap dalam mitos. Gaya "mitologis" itu sesuai dengan tahap perkembangan di masa Perjanjian Baru. Tetapi pada tahap perkembangan berikut mitos itu kembali menjadi "idea." Tokoh individual (Yesus historis) tidak relevan sama sekali. Baur tidak menyangkal historisitas Yesus, Tetapi Yesus sebagai guru hanya menjadi awal dan perintis bagi apa yang kemudian berkembang pada umat Kristen dan olehnya dikaitkan pada Yesus. Dan ajaran Yesus historis hanya berisikan etika luhur dan religiositas rasional abad XIX. Maka abad XIX itulah yang menjadi titik pangkal dan ukuran segala sesuatu. Diri Yesus sendiri tidak relevan sepanjang sejarah. Ia dijadikan seorang tokoh religius, bahkan tokoh religius yang unggul, tetapi sudah hilang lenyap dari panggung sejarah, sama seperti manusia lain.

Rasionalisme ala Reimarus, Strauss dan Baur tersebut memancing reaksi dari pihak seorang tokoh yang amat penting dalam teologi Reformasi di Jerman, yaitu F. Schleiermacher (± th. 1834). Pikirannya tertuang terutama dalam karyanya: Vorlesungen über das Leben Jesu, 1932, dan: Rede über die Religion, 1799. Schleiermacher mengecam rasionalisme yang mereduksikan iman Kristen menjadi sejumlah kebenaran rasional yang umum dan membuat Yesus menjadi seorang guru saja. Ia pun mengkritik idealisme yang membuat Yesus, sasaran iman Kristen, menjadi suatu "idea" abstrak belaka. Religiositas manusia bukan perkara otak dan pikiran, melainkan perkara hati dan "perasaan." Schleiermacher berpihak pada pietisme.

Schleiermacher boleh dikatakan seorang "empiris" religius. Titik tolak pikirannya bukanlah Yesus dahulu (historis), tetapi sikap dan rasa keagamaan aktual pada umat Kristen. Rasa keagamaan Kristen itu memang luhur dan unggul. Lalu timbul pertanyaan: Dari mana rasa keagamaan khusus itu, rasa ketergantungan mendasar pada Allah? Asal-usul rasa religius itu ialah Yesus dari Nazarethh, pengalaman Yesus terhadap Allah. Dalam Yesus pengalaman religius manusia memuncak, mencapai bentuk unggul, tak terulang dan tak teratasi. Dari pengalaman Yesus itu berpancarlah pengaruh yang menciptakan kepercayaan (rasa keagamaan) Kristen. Sebab dalam pengalaman Yesus Allah menjadi nyata teralami secara unggul. Dan dengan demikian dalam Yesus Kristus Allah menjadi Juru Selamat manusia.

Dalam pendekatan Schleiermacher historisitas Yesus menjadi pra-syarat mutlak bagi kepercayaan Kristen. Injil-injil memang bukan laporan tentang hal ihwal Yesus, melainkan ungkapan caranya umat semula memikirkan Yesus. Namun demikian "factum" Yesus menjadi postulat bagi semua dogmata kristologis dan turut menjadi sasaran iman. Schleiermacher membedakan "Yesus historis" dengan "Kristus kepercayaan." Dan Kristus kepercayaan itu ialah: pengaruh Yesus, Yesus sebagai "Urbild." Yesus historis memang menyebabkan iman, tetapi iman kemudian menciptakan gambar Yesus Kristus. Gambar yang berdasarkan pengaruh Yesus mengungkapkan hakikat terdalam Yesus sendiri. yakni "Yang Ilahi".

Kesadaran religius yang unggul pada Yesus bertepatan dengan kesadaran diri Yesus. Itulah yang namanya "inkarnasi." Dan justru dalam pengalaman itu Yesus menjadi "Urbild" dan sebab kesadaran religius Kristen, yang juga bertepatan dengan kesadaran diri sebagai manusia.

Dengan jalan yang sedemikian Schleiermacher mencoba memasang jembatan antara Yesus sebagai tokoh historis dan kepercayaan Kristen aktual. Sebagai tokoh historis Yesus terbatas dalam waktu dan hilang lenyap. Ia tidak dapat menjadi penentu iman (ialah pengalaman religius) sepanjang masa. Jurang itu diatasi Schleiermacher dengan menempatkan antara Yesus historis dan Kristus kepercayaan Kristen Yesus sebagai "Urbild," ialah pengaruh Yesus yang disalurkan melalui tradisi umat Kristen.

Maka dalam kristologi Schleiermacher yang tetap relevan bukannya Yesus (historis) melainkan "pengaruh Yesus," Yesus sebagai "Urbild," pola dasar kepercayaan Kristen, orang yang diselamatkan. Kristologi serentak soteriologi. Sebab tindakan penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus dan yang tetap dialami umat Kristen, menjadi inti pokok kristologi Schleiermacher. Tetapi hal ihwal historis Yesus, seperti kematian dan kebangkitan, dan diri historis Yesus tidak relevan lagi bagi umat beriman. Historisitas Yesus hanya menjadi praandaian bagi kristologi/soteriologi Schleiermacher. Tentu saja Yesus historis itu tidak dapat - menurut Schleiermacher - disamakan dengan manusia lain atau tokoh religius lain. Kepercayaan Kristen berpangkal pada Yesus historis dan merupakan hasil "pengaruh" Yesus, kesan yang didapat oleh para pengikut Yesus.

Tendensi yang sudah tampil pada Schleiermacher, yaitu mempertahankan historisitas Yesus sebagai prasyarat mutlak bagi iman Kristen, selama abad XIX semakin kuat di kalangan para pemikir Reformasi. Tetapi ada perbedaan dengan pendekatan Schleiermacher juga. Titik tolak Schleiermacher ialah kepercayaan umat Kristen aktual (pengalaman religius) yang mesti ada sebabnya (Yesus historis). Tetapi pemikir-pemikir lain (yang kerap tercakup dalam istilah "teologi liberal") bertitik tolak pada Yesus historis. Mereka tidak menerima dogma-kristologis tradisional (yang tidak perlu disangkal) dan mereka pun tahu bahwa Injil-injil bukan suatu laporan. Namun, mereka yakin bahwa dengan penyelidikan historis-positif dapat menembus karangan-karangan Perjanjian Baru dan menemukan Yesus historis. Secara khusus mereka mendasarkan diri pada Injil karangan Markus yang dianggap paling dekat dengan Yesus, belum diolah oleh uniat Kristen dengan memasukkan ke dalamnya pelbagai unsur "mitologis." Sementara pemikir berusaha merekonstruksikan Injil Markus yang asli (Urmarkus, Ch. Weisse, Ch. Wilke) dengan maksud menemukan Yesus historis. Kepribadian Yesus historislah yang menjadi pangkal agama Kristen dan sasaran iman. Tidak boleh dibedakan antara "Yesus historis" dan "Kristus kepercayaan." Yesus historis itulah Kristus kepercayaan. Dia itu pun menjadi tolok ukur iman kristen. Maka tugas para teolog (ahli kitab) ialah menggali dan menyajikan "gambaran" Yesus yang semurni mungkin. Dan Yesus historis itu mesti diaktualkan. Kepribadian Yesus itu menjadi awal dan akhir kepercayaan Kristen dan tetap relevan serta aktif berkarya dalam umat Kristen. Dalam kepribadian Yesus dicari unsur yang memperlihatkan bahwa Yesus itu menjadi penyataan Allah. Unsur itu ditemukan dalam kesadaran diri pada Yesus sebagai Mesias atau dalam wewenang khusus, yang dengannya Ia bertindak dan mengajar dan memberikan ajaran yang menyimpang dari segala apa yang sudah tersedia dalam tradisi Yahudi. Dalam gambaran Yesus historis yang masih dapat ditemukan itu Allah menjadi nyata dan Yesus tampil sebagai tokoh ilahi, berarti: tokoh unik, tunggal yang tidak ada banding dan taranya.

Maka para pemikir "liberal" itu menggambarkan Yesus, berdasarkan penyelidikan Injil karangan Markus dan apa yang diistilahkan sebagai "Quelle" (Q), sebagai tokoh unik. Yesus yang tampil cukup sesuai dengan apa yang dipikirkan para rasionalis sebagai tokoh religius yang ideal yang dibesarkan sedikit. Semua unsur yang "tidak masuk akal" disingkirkan. Yesus digambarkan sebagai tokoh religius yang memberitakan Allah sebagai Bapa dan suatu kerajaan Allah "rohani" yang ditegakkan dalam hati manusia sebagai sikap religius yang secara batiniah mengubah manusia. Yesus historis seperti Ia menyatakan diri itulah Kristus kepercayaan, pangkal agama Kristen dan tetap relevan serta bermakna.

Pendekatan historis-liberal itu tidak berarti bahwa Yesus Kristus direduksikan menjadi manusia belaka. Sebaliknya para pemikir yang menolak dogma tradisional justru berusaha mendasarkan kepercayaan akan "keilahian" Yesus Kristus pada Yesus historis seperti yang mereka temukan. Misalnya I. A. Dorner (Die Lehre der Person Christi geschichtlich und biblisch-dogmatisch dargestellt, 1845) menekankan bahwa Yesus Kristus seorang tokoh (historis) yang unik, pusat, kepala dan pempribadian umat manusia yang melampaui segala individu lain. Dan itu nampak pada Yesus historis yang secara ilmiah dapat diselidiki. Ditemukan semacam "keilahian etik," keunggulan religioetis Yesus yang mengalami perkembangan. Dalam "keilahian etis" pada Yesus historis itu terekspresikan "keilahian kodrati." Dengan demikian tampillah "kemanusiaan ilahi" dan "keallahan manusiawi".

Dengan tendensi liberal-apologetis macam itu dikarang entahlah berapa "Riwayat hidup Yesus." Boleh disebutkan: Chr. H. Weisze, Die evangelische Geschichte, kritisch und philosophish bearbeitet, 1838; A. Neander, Das Leben Jesu Christi in seinem geschichtlichen Zusammenhang und seiner geschichtlichen Entwickeling, 1837; Th. Keim, Geschichte Jesu von Nazara in ihrer Verkettung mit dem Gesammtleben seines Volkes frei untersucht und ausführlich erzählt, 1872; K. Hase, Geschichte Jesu nach akademischen Vorlesungen, 1876; D. Schenkel, Das Charakterbild Jesu nach biblishen Urkunden wissenschaftlich untersucht und dargestellt, 1870; B. Weisz, Das Leben Jesu, 2 jilid, 1884; W. Beyschlag, Das Leben Jesu, 2 jilid, 1887. H. E. Ewald, Der geschichtliche Christus und die synoptische Evangelien, 1892; O. Holzmann, Leben Jesu, 1901; W. Bousset, Yesus, 1906. Di samping itu masih boleh disebutkan sekian banyak karangan yang khususnya menggambarkan kesadaran diri Yesus historis. Misalnya: J. Ninck, Jesus als Charakter, 1925; D. A. Froevig, Das Selbstbewusstsein Jesu als Leher und Wundertäter, 1918; Das Sendungbewusstsein Jesu und der Geist. Ein Betrag zur Frage nach dem Berufsbewusztsein Jesu, 1924; A. Reiss, Das Selbsbewusstsein Jesu im Lichte der Religonspsychologie, 1921.

Pendekatan historis terhadap Yesus yang mau melandaskan iman Kristen pada sejarah tidak pernah menjadi umum dan langkah demi langkah dibongkar seluruhnya. Seluruh problematik itu hampir saja secara eksklusif direpotkan para pemikir yang berbahasa Jerman. Di Francis pendekatan itu dipopulerkan oleh E. Renan (± th. 1892) yang menulis semacam "roman historis," "Vie de Jesus" (th 1863). Berkat mutu sastranya karya itu menjadi amat laris sehingga sampai 205 kali diterbitkan dan diterjemahkan ke dalarn 216 bahasa.

Namun gejolak pemikiran tersebut umumnya tidak banyak dampaknya pada "umat biasa" dan untuk sementara waktu hanya menyangkut para inteligensi saja. Bahkan di kalangan umat biasa ada suatu reaksi terhadap pendekatan historis dan rasionalis terhadap Yesus Kristus. Ajaran tradisional yang karib pada umat Reformasi, khususnya kewibawaan mutlak Alkitab, dirongrong. Tercetuslah pelbagai "revival movements" yang cukup pietistis dan fundamentalistis dan yang bertolak belakang dengan pendekatan para akademik. Pendekatan seperti dilontarkan F. Schleiermacher mendukung ciri pietistis dan romantis "revival movements" itu. Sebagai contoh pendirian gerakan itu boleh dikutip asas-asas dasar "Persekutuan injili" seperti diterima pada tahun 1846. "Persekutuan injili" itu secara organisasi mempersatukan anggota-anggota segala macam jemaah Reformasi. Mereka yang bergabung antara lain menerima: Inspirasi (harafiah), wewenang dan kecukupan Alkitab, Keesaan Allah dan Tritunggal, inkarnasi Anak Allah, penyilihan dosa manusia yang kodratnya jahat. Diterima pula kebakaan jiwa manusia, kebangkitan badan, kebahagiaan kekal dan hukuman kekal serta pengadilan terakhir oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Dari kalangan "injili" itu pun berpancarlah beberapa gerakan kaum muda-mudi (Y. M. C. A dan Y. W. C. A.) dan mahasiswa yang juga mempertahankan ajaran tradisional a. l. mengenai Yesus Kristus. Dari kalangan "pembaharuan injili" itu pun lahirlah fundamentalisme yang selama abad XX semakin besar pengaruhnya. Meskipun reaksi tersebut terutama berpangkal di daerah yang berbahasa Inggris, namun pengaruhnya meluas ke mana-mana.

Reaksi tersebut dapat dipahami juga, sebab memang ada dasarnya. Ilmu yang semakin berbelit-belit dengan hasil yang berbeda-beda menyamakan Alkitab, unsur mendasar seluruh Reformasi, dengan lain-lain kitab. Dengan ilmunya para ahli menjauhkan Alkitab dari umat biasa dan menempatkan Kitab Suci di masa lampau. Hilanglah segala apa yang digemari umat. Yesus Kristus menjadi tokoh abstrak yang secara ilmiah dapat dikupas tanpa keterlibatan pribadi. Para ahli dengan ilmunya memang bermaksud mewartakan Yesus Kristus begitu rupa, sehingga relevan bagi alam pikiran modern, tetapi dengan itu mereka menghilangkan Yesus yang disenangi umat Reformasi.

Tetapi tidak hanya di kalangan umat biasa bercetuslah reaksi terhadap pendekatan historis-ilmiah. Juga di kalangan para ahli ada yang blak-blakan menolak pendekatan itu. Tokoh yang penting dan besar dampaknya ialah A. Ritschl (± th. 1889). Karya utamanya ialah: Die christliche Lehre von der Rechtfertigung und Versöhnung, 3 jilid, (1892). Judul karya itu sudah memperlihatkan apa yang paling penting bagi Ritschl, yaitu pembenaran dan pendamaian, sesuai dengan tradisi Reformasi. Maka yang paling utama bukan diri Yesus melainkan karya-Nya, meskipun kedua itu tentu saja tidak dapat dipisahkan.

Menurut Ritschl sasaran iman dan kristologi bukanlah Yesus historis, dan iman Kristen tidak dapat didasarkan pada sejarah. Yesus historis murni tidak dapat dijadikan pokok iman kepercayaan Kristen. Kristologi yang sebenarnya mesti bertitik tolak paham dan pengertian umat Kristen terhadap Yesus Kristus. Yesus Kristus sebagaimana kini dialami dan dinilai umat Kristen mesti menjadi pangkal semua refleksi. Iman Kristen itu tidak bergantung pada penyelidikan dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan religius lain sekali sifatnya. Tentu saja Ritschl tidak menolak diri Yesus historis. Sebagai "factum" itu tidak terganggu gugat. Dan adanya Yesus historis bahkan menjadi dasar/objektif (Realgrund) kepercayaan Kristen, tetapi bukan sasaran iman itu. Sasaran iman ialah Yesus Kristus sebagaimana diartikan dan dinilai oleh umat Kristen. Siapa sebenarnya Yesus Kristus, apa yang dikehendaki-Nya, hanya diketahui berdasarkan pengrealisasiannya pada umat Kristen. Yesus Kristus, sebagai sasaran iman, tidak dapat dilepaskan dari pengalaman umat. Antara pengalaman jemaah dan Yesus Kristus terjalinlah suatu relasi yang selalu aktual-real. Dan menurut pemahaman Kristen itu Allah dalam Yesus Kristus (historis) menyatakan diri dan penuh rahmat dan belas kasihan mendekati manusia, seperti terus-menerus dialami. Dalam Yesus Kristus, khususnya dalam wafat-Nya di salib, Allah menjadi nyata sebagai Allah yang membenarkan orang berdosa. Dalam diri Yesus historis dan manusiawi Allah menjadi nyata sebagai kepribadian yang bertindak berdasarkan kasih. Dan Yesus Kristus hirtoris itulah yang menjadi ukuran segala apa yang dikatakan tentang Dia: kesadaran diri Yesus Kristus, penampilan-Nya dan penilaian diri-Nya. Tetapi Yesus Kristus "historis" itu dapat diketahui oleh umat yang percaya saja. Ia tidak dapat menjadi objek penyelidikan ilmiah-historis. Hanya mereka yang mengalami penebusan dalam Yesus Kristus dapat mengenal Dia, sekaligus mereka dinilai dan dikritik oleh-Nya. Ritschl membedakan dua keadaan (status) Yesus Kristus: Yesus historis sebagaimana dapat diselidiki oleh ilmu sejarah ialah Kristus yang menghampakan diri, sedangkan Kristus yang "mulia" ialah Yesus Kristus sebagaimana diketahui umat beriman berdasarkan pengalaman akan penebusan. Dengan jalan itu terjalinlah hubungan pribadi dan timbal balik antara manusia (beriman) dan Yesus Kristus. Dan hanya dengan jalan itulah Yesus Kristus tetap relevan.

Ritschl tidak mau mengulang-ulang saja dogma dan meneruskan ajaran tradisional tanpa berubah-ubah. Ia ingin mewartakan Yesus Kristus pada orang sezamannya. Rischl dapat berkata tentang "keallahan" Yesus Kristus, tetapi artinya tidak sama dengan apa yang dalam dogma (dan ajaran tradisional) disebutkan sebagai "kodrat ilahi." Keilahian Kristus dalam pemahaman Ritschl bukan keallahan abadi dan kekal, melainkan keallahan yang nyata sebagai kasih yang diamalkan. Keallahan yang nyata itu perlu dengan tegas dibedakan dengan keallahan kekal dan abadi. Keilahian Yesus Kristus ialah tindakan Allah, bukan "kodrat ilahi." Dengan perkataan lain: Keilahian Yesus Kristus adalah keallahan relational.

Sama seperti Ritschl demikian pun M. Kahler (± th. 1912) secara radikal menolak kristologi historis, terutama dalam karya "Der sogenannte historische Jesus und der geschichtliche, biblische Christus" (1892). Pendekatan Kahler tidaklah sama dengan pendekatan Ritschl. Kristologi Ritschl pada dasarnya kristologi pengalaman. Refleksi bertitik tolak kesadaran religius umat Kristen yang aktual, sebagaimana juga dikemukakan oleh H. Schultz, Die Lehre von der Gottheit Christi, 1881. Jelaslah Ritschl sehaluan dengan Schleiermacher, Schultz dan beberapa tokoh lain seperti terutama W. Hermann (Die mit der Theologie verkniipfte Not der evangelischen Kirche, 1913).

M. Kahler menolak kristologi pengalaman Ritschl dan mereka yang sehaluan. Kahler membedakan antara "Historie" dan "Geschichte." "Historic" ialah serangkaian kejadian belaka "nuda facta," tanpa kaitan dengan masa sekarang. Sebaliknya "Geschichte" ialah kejadian-kejadian di masa yang lampau sejauh relevan, bermakna bagi manusia sekarang; kejadian sebagaimana dipahami dari diartikan di kemudian hari. Menurut Kahler Yesus sebagai peristiwa historis belaka tidak relevan sama sekali bagi iman dan iman itu sama sekali tidak bergantung pada penyelidikan ilmiah-historis. Maka sasaran iman kepercayaan Kristen ialah Yesus Kristus sebagaimana diwartakan Perjanjian Baru. Hanya Dia itulah yang relevan bagi orang beriman dan Dia itulah "Kristus sejarah" (geschichlich). Dan hanya Yesus Kristus yang diwartakan itulah Yesus Kristus real. "Kristus kepercayaan" tegas dibedakan dengan "Yesus historis," kalau pun kedua itu tidak terlepas satu sama lain. Kahler menerima bahwa masih mungkin sedikit banyak mengenal Yesus historis. Hanya pengetahuan historis (yang selalu kurang pasti) itu tidak dapat menjadi titik tolak kristologi.

Titik tolak kristologi, menurut Kahler, ialah: pewartaan yang tercetus oleh pengalaman para murid dengan Yesus yang dibangkitkan. Berpangkal pada pengalaman itu murid-murid Yesus mengartikan kehidupan Yesus, khususnya penderitaan dan kematian-Nya. Pewartaan itu menyajikan suatu "gambar" Yesus historis, tetapi bukan Yesus historis sendiri, yang tidak dapat diketahui lagi dengan pasti.

Schleiermacher, Ritschl, Kahler dan semua yang sehaluan dengan tokoh-tokoh itu menolak pendekatan historis (teologi liberal) atas dasar pertimbangan dogmatis, tetapi pendekatan itu pun dirongrong dari pihak lain. Pendekatan historis itu yakin bahwa dari Injil-injil, khususnya dari Injil karangan Markus, orang dapat kembali kepada Yesus "yang sebenarnya" melalui penyelidikan historis. Begitu orang dapat menemukan "gambaran real." Tetapi justru penyelidikan historis itu sendiri menggoncangkan pra-andaian itu. J. Weiss pada tahun 1892 menerbitkan karangan kecil (Die Predigt Jesu von Reich Gottes), yang memperlihatkan bahwa Yesus mewartakan Kerajaan Allah eskatologis/apokaliptis belaka. Yesus memberitakan bahwa tidak lama lagi akhir zaman tiba. Hanya nyatanya Yesus keliru. Jadi Yesus sama sekali tidak mewartakan apa yang sampai saat itu menjadi unsur paling penting dalam pendekatan historis-liberal. W. Wrede (Das Messiasgeheimnis in den Evangelien) pada tahun 1901 memperlihatkan bahwa juga Injil karangan Markus (andalan pendekatan historis) sekali-kali tidak bermaksud memberi laporan. Injil ini tidak kurang teologis daripada Injil-injil lain. Penulis Markus jelas tidak tahu (dan tidak ambil pusing) tentang duduk perkara yang sebenarnya. Pendapat Weiss itu diteruskan oleh A. Schweitzer (Das Messianitäts- und Leidensgeheimnis. Eine Skizze des Lebens Jesu, 1901). Menurut Schweitzer Injil karangan Markus tidak dapat dipakai untuk mengenal Yesus historis. Dari Injil karangan Malius Schweitzer menggali sejumlah ucapan Yesus yang dianggapnya asli. Atas dasar itu Schweitzer menggambarkan Yesus sebagai berikut: Yesus menganggap diri sebagai Mesias yang akan datang. Ia mewartakan Kerajaan Allah eskatologis/apokaliptis yang sudah dekat. Dalam rangka harapan itu Yesus memberitakan suatu "etika ad interim," etik sementara untuk mempersiapkan diri bagi Kerajaan Allah itu. Tetapi semuanya tidak terjadi menurut harapan Yesus. Lalu Yesus menjadi yakin, bahwa dengan penderitaan pribadi mesti mempercepat kedatangan Kerajaan Allah. Tetapi setelah Yesus mati di salib, Kerajaan itu belum juga kunjung datang. Jelaslah Yesus keliru, seorang tokoh yang amat tragis. Dengan uraian itu Schweitzer mau memperlihatkan bahwa seluruh "pendekatan historis" yang lazim sebenarnya tidak historis sama sekali, tidak mendasarkan diri pada sumber-sumber yang ada. Yang ditemukan bukan Yesus historis, melainkan seorang Yesus ciptaan para ahli sendiri, ciptaan yang sesuai dengan alam pikiran abad XIX.

A. Schweitzer akhirnya menulis sebuah karya yang dengan tegas memperlihatkan kegagalan pendekatan historis (Leben-Jesu-Forschung) selama abad XIX. Judulnya: Von Reimarus zu Wrede. Geschichte der Leben-Jesu-Forschung (1906). Nyatanya seluruh pendekatan historis itu serba simpang siur, kurang mantap dan terus perlu ditinjau kembali sesuai dengan kemajuan penyelidikan ilmiah. Ternyata pula setiap kali "gambar" Yesus disesuaikan saja dengan filsafat yang pada saat tertentu laris dan dianut oleh penulis "Riwayat hidup Yesus." Bagaimana Yesus macam itu dapat melandaskan iman kepercayaan Kristen?

Dalam pada itu dalam ilmu tafsir berkembanglah suatu metode baru yang turut menggoncangkan dasar pendekatan historis. Metode itu diistilahkan sebagai "Formgeschichte." Metode itu sudah dipakai dalam tafsiran Perjanjian Lama oleh H. Gunkel (Die Israelitische Literatur, 1906) dan diambil alih dari ilmu sastra. Oleh M. Dibelius (Die Formgeschichte des Evangeliums, 1919), K. L. Schmidt (Der Rahmen der Geschichte Jesu, 1919) dan R. Bultmann (Geschichte der synoptischen Tradition, 1921) diterapkan pada Injil-injil. Menjadi nyata bahwa Injil-injil itu bukan pemberitahuan historis oleh saksi mata. Sebaliknya Injil-injil itu merupakan hasil tradisi lisan yang berkembang pada umat Kristen semula. Injil-injil itu merupakan kumpulan tradisi yang beredar tersendiri pada jemaah-jemaah Kristen selama abad I. Dengan caranya sendiri tiap-tiap tradisi berperan dalam kerangka tertentu, seperti misalnya: ibadat, pewartaan, katekese, pembelaan diri dsb. Itulah yang diistilahkan sebagai "Sitz im Leben," yaitu peranan tradisi-tradisi itu dalam kehidupan jemaah-jemaah. Dan justru "Sitz im Leben" itulah yang menentukan bagaimana tradisi-tradisi itu terbentuk (Form) dan berkembang (Geschichte). Maka dalam tradisi-tradisi yang terkumpul dalam Injil-injil (termasuk Injil karangan Markus) orang menemukan pikiran dan pandangan jemaah-jemaah Kristen (yang jauh dari seragam) a. l. tentang Yesus.

Berpangkal pada "Formgeschichte" tetsebut kemudian masih berkembanglah apa yang disebutkan sebagai "Traditionsgeschichte" (G. Born-kamm, Wort und Dienst, 1948) dan "Redaktionsgeschichte." Dengan metode itu dicarilah mana persis maksud dan pikiran penyusun Injil-injil sendiri. Mereka jelas bukan hanya pengumpul bahan, tetapi mengolah dan menyusun bahannya dengan maksud tertentu dan sesuai pikiran tertentu (bandingkan dengan misalnya: H. Conzelmann, Die Mitte der Zeit. Studien zur Theologie des Lukas, 1953).

Penyelidikan menurut metode-metode baru itu semakin memperlemah dasar untuk pendekatan historis. Yesus "yang sebenarnya" dan hal-ihwal-Nya semakin kabur dan semakin kurang dapat diketahui.

Kegagalan pendekatan historis yang mencari landasan bagi kristologi dalam sejarah mencetuskan suatu reaksi lagi. Reaksi itu diistilahkan sebagai "teologi dialektis." Wakil-wakil utama teologi dialektis itu ialah K. Barth (± 1968) dan R. Bultmann (± 1976). Earth mendekati soalnya dari segi dogmatis dan R. Bultmann terlebih dari segi ilmu tafsir. Teologi dialektis itu sebenarnya mengangkat kembali gagasan yang sudah dilontarkan M. Kahler pada thaun 1892. "Kristus kepercayaan" tidak bersangkutan dengan "Yesus historis".

K. Barth menolak sama sekali "kristologi dari bawah" (seperti ditekankan oleh pendekatan historis) dan kembali kepada "kristologi dari atas," berarti: kepada kristologi tradisional seperti yang dirumuskan konsili-konsili Khalkedon dan Konstantinopolis III. Sesuai dengan tradisi Reformasi Barth tentu saja mengecam kristologi skolastik (Katolik) dengan metafisik Yunaninya dan mengkritik pula "ortodoksi" Protestan. Pikiran Barth tertuang dalam karya-karya "Die dogmatische Prinzipienlehre bei Wilhelm Hermann," 1925, dan: Kirchliche Dogmatik IV: Die Lehre von der Versöhnung," 1960.

Menurut K. Barth Yesus Kristus yang sebenarnya, sasaran iman Kristen, tidak mungkin didekati "dari bawah," dari Yesus historis. Yesus Kristus itu tidak terbuka untuk penyelidikan ilmiah belaka. Hanya Allah saja dapat menyatakan Yesus Kristus dengan "firman-Nya." Firman Allah itu termaktub dalam Alkitab. Kitab Suci membutuhkan tafsiran dan dalam hal itu metode ilmiah - kritik historis - pada tempatnya. Tetapi tidak mungkin melalui tradisi alkitabiah itu orang kembali kepada Yesus historis, seolah-olah Dia itu dasar dan sasaran iman Kristen. Yesus Kristus hanya dikenal berkat firman Allah. Firman itu menghukum segala sesuatu manusiawi yang mau "menguasai Allah." Allah adalah Allah dan manusia adalah manusia.

Maka K. Barth membangun seluruh kristologinya atas dasar Alkitab. Tetapi Barth juga menarik dari Kitab Suci segala kekayaan yang terkandung di dalamnya dan yang hilang dari kristologi tradisional. Dan dengan demikian K. Barth amat memperkaya kristologi tradisional, baik Protestan maupun Katolik. Barth secara teologis menafsirkan Alkitab, sehingga firman Allah benar-benar menyapa manusia sekarang dan Yesus Kristus oleh firman Allah secara aktual dinyatakan. Iman tentu saja suatu praandaian dan prasyarat mutlak. Pendekatan historis adalah antroposentris, sedangkan Barth berpikir secara teosentris.

R. Bultmann dari segi ilmu tafsir juga secara mutlak membuang pendekatan historis yang tidak sampai ke sasarannya. Hanya Bultmann menempatkan tafsirannya dalam rangka filsafat eksistensialis yang dianggapnya sesuai juga. Bultmann menulis sebuah karya kecil yang berjudul "Yesus" (1926). Tetapi di dalamnya tidak disajikan sebuah "riwayat hidup Yesus." Bultmann, yang turut mengembangkan Formgeschichte, yakin bahwa orang tidak dapat tahu lagi tentang hal-ihwal, pikiran dan perasaan Yesus. Meskipun Bultmann menerima bahwa Yesus pernah ada, namun di samping itu orang dengan pasti tidak tahu apa-apa tentang riwayat-Nya. Dan bagi iman pengetahuan macam itu juga tidak relevan. Tidak perlu dan tidak mungkin pewartaan yang tercantum dalam Perjanjian Baru ditembusi untuk menemukan Yesus historis.

Maka menurut Bultmann "Kristus kepercayaan" ialah Yesus yang diwartakan Perjanjian Baru (bandingkan dengan Zur Frage der Christologie, 1959). Perjanjian Baru menggunakan dalam pewartaannya gaya bahasa dan cara berpikir yang di masa itu umum, yaitu: cara pikir dan gaya bahasa mitologis (bandingkan dengan Neues Testament und Mythologie; Jesus Christus und die Mythologie; Dan Neue Testament im Lichte der Bibelkritik, 1964). Itu berarti bahwa gagasan teologis terungkap dalam ceritera dan sebagainya yang mementaskan pikiran seolah-olah kejadian. Apa yang dimaksud perlu digali lalu dipindahkan ke dalam alam pikiran modern, alam pikiran ilmiah, teknis dan humanistis.

Sebagai ahli kitab Bultmann yakin masih dapat menemukan gambaran umum tentang pewartaan Yesus sendiri. Tetapi seandainya gambaran itu tidak kena, tidak mengapa. Mencoba mendasarkan iman pada (ilmu) sejarah berarti: tidak beriman. Sebab apa yang penting bagi iman ialah pewartaan (Perjanjian Baru). Apa yang diwartakan ialah: Allah dalam Yesus Kristus menawarkan kepada setiap manusia dan pada setiap saat suatu "eksistensi baru," suatu kemungkinan baru untuk merealisasikan hidup manusia. Kepada manusia diwartakan dan dinyatakan siapa dirinya yang sebenarnya, mana eksistensinya yang nyata (gadungan) dan ditawarkan kemungkinan baru. Dan manusia dituntut mengambil pendirian, keputusan, menerima atau menolak eksistensi baru, eksistensi sejati mengganti eksistensi palsu dan gadungan. Dituntut, bahwa manusia yang percaya pada dirinya, pada kekuatan dan ciptaannya sendiri bertobat menjadi manusia yang mempercayakan diri kepada Allah semata-mata. Dalam pewartaan (kerygma) Yesus tampil sebagai penyalur firman dan dengan firman itu Yesus menjamin bagi manusia pengampunan. Firman pengampunan itu adalah suatu kejadian, terus-menerus terjadi. Semuanya itu, yakni pewartaan yang secara aktual menyapa manusia, tidak dapat dan tidak boleh "diobjektivasikan," menjadi peristiwa di masa yang lampau dan hal-ihwal historis. Itu hanya mitologi belaka. Diri Yesus historis sebagai historis tidak menjadi relevan bagi orang beriman. Cara konsili Khalkedon dan sebagainya mengobjektivasikan Yesus Kristus, diri ilahi yang padanya ada kodrat ilahi dan kodrat manusiawi, turut ditolak oleh Bultmann sebagai objektivasi dan mitologi. Yesus Kristus hanya real dalam pewartaan dan sebagaimana Ia diwartakan. Keilahian Yesus diwartakan, oleh karena Ia diwartakan sebagai kasih karunia Allah yang kini menyatakan diri kepada mereka yang beriman.

Kristologi Bultmann nyatanya soteriologi, sesuai dengan tradisi Reformasi. Dan kristologi/soteriologi itu pada dasarnya "kerygmalogi." Yesus Kristus, diri-Nya, kepribadian-Nya, hal-ihwal-Nya dan ajaran-Nya tidak berarti apa-apa bagi orang beriman. Tentu saja para ahli ilmu tafsir dan ilmu sejarah, termasuk Bultmann sendiri, boleh menyelidiki Yesus historis dan menempatkan-Nya dalam lingkup (religiusnya) sendiri. Tetapi iman sekali-kali tidak bergantung pada hasil penyelidikan itu. Dan dengan demikian menjadi jelas bahwa Bultmann, seorang beriman, sebenarnya mau menyelamatkan iman (dan agama) Kristen dan terus mewartakan Yesus Kristus dalam alam pikiran modern, yang mengrongrong iman Kristen seperti secara tradisional diwartakan dan diungkapkan. Bultmann sedang mencari suatu paradigma baru bagi kristologi, yang dianggap sesuai dengan alam pikiran modern. Dengan iman tebal dan kebal Bultmann bergulat dengan dunia modern dan pertaruhannya ialah Yesus Kristus yang diimani.

Meskipun radikalisme Barth dan Bultmann mendapat banyak pendukung (E. Brunner, J, Iwand, O. Weber, Vogel, pengikut Barth; H. Conzelmann, G. Ebeling, E. Fucks, H. Koster, pengikut Bultmann), namun banyak pemikir di kalangan Reformasi tidak pernah dapat ikut serta. Mereka tetap yakin bahwa Yesus historis bagi iman sendiri relevan, entahlah bagaimana. Pendekatan dogmatis K. Barth menjadi mengawang dan mirip idealisme abad yang lampau, sedangkan pendekatan Bultmann menghasilkan pewartaan murni, tanpa isi. Eksistensi baru yang diwartakan akhirnya menjadi ciptaan manusia sendiri.

Seorang teman seperjalanan Bultmann dalam hal Formgeschichte, yaitu M. Dibelius, menulis sebuah "Riwayat hidup Yesus" (Jesus, 1939). Menurutnya harus dikatakan: Meskipun pengetahuan kita terbatas, namun tetap mungkin orang menemukan suatu "gambaran" Yesus yang cukup tepat. Tradisi umat semula menyalurkan banyak hal-ihwal dan ucapan Yesus sendiri Tentu saja penyelidikan ilmiah tidak melandaskan iman Kristen, namun iman itu mengenai suatu realitas historis. Yesus historis, dalam tindakan dan perkataan-Nya, adalah tanda Kerajaan Allah. Dan tanda itu ialah tanda yang memutuskan. Yesus tidak dapat disamakan dengan seorang rabi. Yesus melebihi semua dan Allah sendiri berkarya dan berbicara dalam Yesus historis. Yesus bertindak dan berkata sebagai utusan Allah yang terakhir. Dan realitas historis itulah yang menjadi titik tolak kristologi Perjanjian Baru dan kristologi selanjutnya.

Demikian pun di Francis M. Goguel (La vie de Jesus, 1932) tetap yakin bahwa orang dapat mengenal Yesus historis secara agak terinci. Dan pandangan serupa dipertahankan di Inggris oleh V. Taylor (The Life and Ministry of Jesus, 1954). Dan juga E. Stauffer (Jesus, Gestalt und Geschichte, 1957) di Jerman mempertahankan relevansi historisitas terinci Yesus bagi iman.

Kecuali itu sejumlah tokoh besar dalam ilmu tafsir tidak dapat mengikuti radikalismus Bultmann. Mereka tidak hanya yakin bahwa masih mungkin menemukan cukup banyak sehubungan dengan Yesus historis, tetapi juga yakin bahwa hanya Yesus historis dapat melegitimasikan pewartaan Perjanjian Baru dan iman kepercayaan Kristen. Yesus historis merupakan unsur mendasar bagi iman Kristen dan menjadi akar seluruh kristologi. Pendirian semacam itu ditemukan pada J. Jeremias (Neutestamentliche Theologie I. Die Verkündigung Jesu, 1971), L. Goppelt (Theologie des Neuen Testaments I. Jesu Wirken in seiner theologischen Bedeutung, 1974), G. W. Kümmel (Die Theologie des Neuen Testaments nach seiner Hauptzeugen Jesus, Paulus, Johannes, 1969), H. Dodd (The Founder of Christianity, 1969; The Apostolic Preaching and its Development, 1936), O. Cullmann, Die Christologie des Neuen Testaments, 1963).

Tetapi juga pengikut Bultmann menjadi insaf bahwa radikalisme gurunya tidak dapat dipertahankan. Iman Kristen tanpa dasar historis menjadi hampa dan mitologi serta ideologi belaka dan kehilangan relevansinya. Tambah pula bahwa filsafat eksistensialisme semakin kurang berdampak dan paham tentang apa itu "sejarah" berubah. Yang sebagai yang pertama menyuarakan perubahan pendekatan di kalangan pengikut Bultmann ialah E. Kasemann (Das Problem des historischen Jesus 1954). Menurutnya Perjanjian Baru sendiri memaksa orang menanyakan Yesus historis sebagai pangkalnya. Sebab Perjanjian Baru memperkenalkan Yesus historis sebagai otoritas mendasarnya. Maka mesti diselidiki kalau-kalau dasar itu benar-benar ada. Keselamatan yang diwartakan Perjanjian Baru menjadi hampa dan produk manusia sendiri kalau tidak ada kejadian real historis. Dasar pewartaan Kristen ialah pewartaan Yesus historis. Dan isi pewartaan Kristen itu bukan hanya pemahaman tentang eksistensi manusia, melainkan: Yesus tersalib yang dibangkitkan adalah Tuhan, Realitas historis Yesus yang tersalib tidak dapat dihilangkan. Yesus itulah tetap hadir dalam pewartaan dan dijumpai oleh orang beriman. Ada kesinambungan antara Yesus historis dan Kristus kepercayaan. Dan itulah yang menjadi problem dasar: bagaimana kesinambungan itu dapat dipikirkan, padahal jelas juga ada ketidaksinambungan.

Sejak E. Kasemann melontarkan kritiknya dan. mengemukakan pendekatan lain, pengikut-pengikut Bultmann kembali mencari "Yesus historis." Misalnya G. Ebeling (Theologie und Verkündigung. Ein Gesprach mit R. Bultmann, 1960), E. Fuchs (Zur Frage nach dem historischen Jesus, 1963). Tetapi para pemikir itu jauh dari sepakat dalam menentukan apa persis yang mendasarkan kesinambungan antara Yesus historis dan Kristus kepercayaan (pewartaan Yesus? Iman Yesus? Diri Yesus?). Umumnya kebangkitan Yesus disingkirkan sebagai realitas, seperti sudah disingkirkan oleh Bultmann. Kebangkitan hanya suatu cara (apokaliptis/mitologis) umat Kristen semula untuk mengungkapkan kesinambungan dan relevansi aktual Yesus Kristus dan kematian-Nya di salib. Kerap kali orang tidak berkata lagi temang "Yesus historis," tetapi tentang "Yesus di dunia," "Yesus di bumi" dsb. yang dilawankan dengan "Kristus pewartaan" atau "Kristus mulia." Penggantian istilah itu bersangkutan dengan perubahan paham tentang: Apa itu sejarah? Kalau dahulu dikatakan: tugas ilmu sejarah ialah secara "objektif (tanpa praduga, prapaham, prakeputusan) menentukan apa yang terjadi, maka paham itu sudah diganti dengan paham lain. Kejadian "objektif" tidak pernah "objektif" saja. Selalu mesti disertai pengartian dan penafsiran. Makna arti dan makna peristiwa tertentu bagi manusia di masa mendatang perlu dicari dan diperlihatkan. Si penyelidik selalu mesti (dan tidak dapat tidak) secara pribadi terlibat. Hanya dengan cara demikian ia dapat memahami masa yang lampau. Ilmu sejarah bukan perkara pengetahuan belaka, melainkan perkara pemahaman.

Tentu saja mereka yang selama abad XX ini mencari "Yesus di dunia" tidak mau menghidupkan kembali "Leben-Jesus-Forschung" (teologi liberal) abad XIX. Mereka sadar bahwa sumber-sumber yang tersedia (Perjanjian Baru) tidak mengizinkan menyusun suatu "riwayat hidup" Yesus atau menggali "kesadaran diri Yesus." Dalam sumber-sumber yang tersedia pemberitahuan (laporan) dan pewartaan (pengartian, penafsiran) tercampur dan melebur begitu rupa, sehingga tidak dapat dipisahkan. Namun permasalahannya sebenarnya tetap sama: Mana hubungan dan kesinambungan antara manusia Yesus dan Kristus yang diwartakan, diimani dan dipuja umat Kristen? Bagaimana Yesus, seorang tokoh historis yang hilang lenyap dari panggung sejarah, tetap bermakna bagi manusia sepanjang masa? Yang dipertanyakan bukankah kalau-kalau ajaran Yesus, "teladan-Nya" bermakna terus-menerus, melainkan diri pribadi Yesus. Maka rupanya problematiknya tetap sama.

Tetapi ada orang seperti W. Marxsen (Anfangsprobleme der Christologie, 1960) yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya mencari Yesus historis dengan arti: Yesus lepas dari pemberitaan dan iman. Namun demikian, justru Yesus (historis) menyebabkan iman yang kemudian mewartakan Yesus Kristus. Dan iman itulah, sebagai gejala historis, dapat digali dan diketahui melalui Perjanjian Baru. Yesus menjalin suatu relasi pribadi dengan pengikut-pengikut-Nya, yaitu relasi iman dan relasi itu dialami sebagai relasi yang memutuskan, relasi definitif. Relasi itu sudah terjalin sebelum Yesus mati di salib dan kemudian diwartakan. Kalau diberitakan bahwa Yesus dibangkitkan, maka artinya ialah: Relasi Yesus dengan mereka yang beriman tetap terjalin dan diberitakan sebagai relasi yang memutuskan nasib manusia.

Dengan pendekatannya itu W. Marxsen mencoba membangun suatu kristologi fungsional atau "relasional." Kristologi itu mengandaikan sejarah, tetapi sejarah itu tidak lagi tercapai kecuali kalau iman - relasi - turut berperan. Tapi tetap tinggal masalah: mana dasar real iman Kristen yang tidak ditentukan oleh iman itu sendiri? Maka tetap ada pemikir yang mencari dasar historis pada Yesus.

Karena itu tidak terlalu mengherankan bahwa kembali muncullah "Riwayat hidup Yesus." Oleh karena orang sadar akan ciri-corak sumber-sumber yang tersedia, maka diperkembangkan semacam "kriteriologi," kriteria, ukuran untuk bisa dengan lebih kurang pasti menentukan apa yang asli dari Yesus dan sungguh mengenai Yesus historis, dan apa yang berasal dari umat Kristen (J. Jeremias, N, Dahl, R. Stulmacher, V. Taylor, E. Fuchs, W. G. Kümmel, W. Heitmuller, I. Roloff, N. Perrin, L. Goppelt, dll.). Sayanglah belum juga ada kesepakatan.

Kendati demikian, seorang pengikut Bultmann, G. Bornkamm (Jesus von Nazarethh, 1956) yakin bahwa atas dasar Perjanjian Baru orang dapat menemukan suatu "gambaran" atau "kesan" (istilah sudah mengingatkan abad XIX) Yesus, yang cukup tepat, khususnya mengenai pewartaan-Nya. Yesus historis benar-benar Mesias, seperti menjadi nyata dalam perkataan dan tindakan-Nya. Ia suatu rahasia bagi pengikut-pengikut-Nya dan akibat kebangkitan barulah mereka sedikit memahami. Yesus historis melampaui segala kategori pemikiran dan gelar-gelar yang tersedia dalam tradisi Yahudi. Ia mengatasi segala ukuran manusiawi. Dan diri Yesus itu tetap hadir dalam pewartaan.

Dalam karya H. Braun (Jesus. Der Mann aus Nazarethh und seine Zeit, 1968) Yesus kembali ditampilkan sebagai "guru" besar. Braun yakin bahwa masih dapat menemukan ucapan-ucapan Yesus yang asli, sedangkan kurang pasti mengenai tindak-tanduk Yesus. Yesus nyatanya menghaki suatu wewenang yang melampaui seluruh tradisi Yahudi dan segala otoritas di zaman-Nya. Yesus memanggil dan serentak menyanggupkan manusia untuk kemerdekaan bertanggung jawab. Wewenang-Nya diperoleh Yesus bukan dari Allah, melainkan dari apa yang Ia tuntut dan dari apa yang dengan-Nya Yesus memerdekakan manusia dari semua belenggu dan keterasingan dari dirinya. Yesus mewartakan peri kemanusiaan sempurna. Allah yang diberitakan Yesus tidak lain kecuali hubungan antara manusia, hubungan yang bercirikan: orang "boleh" dan orang "harus," perlindungan dan kewajiban. Yesus tidak membawa sesuatu dari luar, tetapi sebagai manusia di antara manusia Yesus menyembuhkan manusia dengan ajaran-Nya. Dengan demikian Yesus menyingkapkan realitas terdalam peri kemanusiaan. Itulah yang oleh Yesus disebut "Allah," bahasa mitologis yang perlu didemitologisasikan. Yesus tampil tanpa Allah sebagai guru penyelamat, mirip dengan Budha. Apa yang diberitakan Yesus dan Perjanjian Baru bukan suatu teologi apalagi suatu kristologi, melainkan suatu antropologi, yang sesuai dengan antropologi abad XX. Tidak dapat tidak orang berpikir kepada para liberal abad XIX.

Seperti para ahli kitab lama-kelamaan meninggalkan radikalisme Bultmann, demikian pun para ahli teologi sistematis di kalangan Reformasi meninggalkan radikalisme Barth. Pendekatan Bultmann dan Barth, khususnya dalam kristologi dari segi soteriologis, nampaknya cukup individualis (tetapi baik Bultmann maupun Barth cukup terlibat dalam masalah politik dan sosial di zamannya) dan perorangan. Teologi itu seolah-olah "mengasingkan" manusia beriman dari dunia. Segi publik, implikasi sosio-politik yang ada pada diri Yesus serta karya-Nya kurang mendapat perhatian. Dan pendekatan individualis itu tidak sesuai lagi dengan alam pikiran seperti yang berkembang di Eropa Barat dalam pertengahan kedua abad XX. Eksistensialisme diganti dengan apa yang kami istilahkan sebagai "pragmatik." Apa yang ditekankan ialah "praxis," bukan "teori." Tidak perlu disangsikan bahwa pendekatan baru itu terpengaruh oleh marksisme, yang dalam salah satu bentuknya meresap ke dalam alam pikiran Eropa, yang juga menghasilkan marksisme itu. Para teolog (baik Reformasi maupun Katolik) amat peka terhadap tuduhan dan kritik agama seperti dilontarkan Marx dan pengikut-pengikutnya. Muncul apa yang diistilahkan sebagai "teologi politik" yang berusaha memperlihatkan relevansi sosio-politik iman Kristen. Dalam rangka itu kristologi pun ditinjau kembali.

Seorang tokoh yang cukup luas pengaruhnya, juga di luar kalangan Reformasi, ialah W. Pannenberg. Karya utamanya ialah: Offenbarung als Geschichte (1961, diterbitkan oleh Pannenberg dan mereka yang sehaluan) dan Grundzüge der Christologie (1964), Pannenberg, sama seperti Barth, ingin mempertahankan kristologi seperti dirumuskan oleh konsili-konsili kuno. Tetapi ia mencari perumusan baru untuk ajaran lama itu. Ia mencoba menyusun suatu kristologi "dari bawah." Tetapi dalam kerangka itu ia menampung apa yang dimaksudkan dogma lama yang menganut suatu "kristologi dari atas" (meskipun segi "dari bawah" juga ada). Sesuai dengan tendensi yang sudah lama ada, Pannenberg sangat menekankan bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh manusia dengan segala implikasinya. Maka titik tolak ialah Yesus historis yang masih dapat diketahui melalui Perjanjian Baru. Yesus adalah seorang manusia yang sama seperti manusia lain menempuh sejarah dan terbentuk oleh sejarah real, sebagaimana juga diandaikan pemberitaan Perjanjian Baru. Sejarah Yesus itulah yang menjadi penyataan diri Allah. Kebangkitan termasuk sejarah Yesus itu. Kebangkitan sebagai kejadian real dan perorangan kerap kali dihilangkan oleh para pemikir. Tetapi menurut Pannenberg kebangkitan sebagai kejadian real dan historis menjadi hakiki. Karena itu Pannenberg mencoba mem-buktikan bahwa kebangkitan itu sungguh-sungguh boleh disebut peristiwa historis yang dapat diselidiki (dan dibuktikan) oleh ilmu sejarah. Tentu saja "kebangkitan" adalah suatu gagasan dari apokaliptik Yahudi. Tetapi itu bukan suatu "mitos" yang dapat dan mesti "diterjemahkan" ke dalam bahasa ilmiah-modern, sehingga realitas kebangkitan hilang.

Maka kristologi Pannenberg bertitik tolak seluruh eksistensi keduniaan Yesus sampai dengan kebangkitan-Nya. Pannenberg berkeberatan terhadap "kristologi dari atas" dan perumusan konsili Khalkedon. Nampaknya Yesus Kristus dipotong menjadi "dua" dan statis. Ada dua kodrat (yang tetap sama) dan satu diri ilahi yang identik dengan kodrat ilahi. Diri ilahi (kodrat ilahi) itu mempersatukan dengan dirinya "kodrat manusiawi." Dalam kerangka itu hal ihwal Yesus historis sukar diberi tempat dan sebenarnya tidak mempunyai arti khusus. Karena itu Pannenberg bertitik tolak kehidupan Yesus serta hal-ihwal-Nya. Subjek yang menempuh sejarah itu dan terbentuk oleh sejarah itu hanyalah satu. Tetapi nyata pula bahwa Yesus mempunyai suatu relasi unik dengan Allah, Bapa-Nya, relasi anak yang terwujud dalam ketaatan dan penyerahan mutlak. Berdasarkan relasi tunggal itu Yesus menghaki wewenang khusus, bahkan wewenang dan kuasa ilahi. Diri, kepribadian manusiawi, Yesus nyatanya terbuka sama sekali bagi Allah dan seolah-olah diserap oleh Allah. Adapun "diri" (persona) menurut Pannenberg (sesuai dengan pendekatan filsafat) adalah suatu gagasan relasional. Maka "pribadi manusiawi" Yesus ialah pertama-tama relasi unik-Nya dengan Allah. Dari situ berpancarlah relasi-Nya dengan sesama manusia. Relasi ini pun termasuk "diri" Yesus. Dalam kebangkitan Yesus menjadi nyata bahwa apa yang nampak selama eksistensi-Nya di dunia sungguh-sungguh benar.

Relasi dengan Allah seperti nampak dalam kehidupan Yesus ialah suatu relasi yang termasuk ke dalam keallahan sendiri. Maka "diri" (persona) Yesus tidak lain kecuali diri ilahi. Yesus ternyata berurat berakar dalam Allah. Ia menjadi titik sambung (pengantara) antara Allah dan manusia. Maka Yesus yang berpancar dari Allah pada hakikatnya teruntuk bagi manusia. Dalam adanya Yesus sebagai manusia adanya Kristus sebagai Allah menjadi nyata. Pada Yesus ada dua segi (bukan "kodrat") yang saling melengkapi menjadi satu subjek. Yesus Kristus benar-benar Allah-manusia. Dan semua manusia dipanggil untuk menjadi serupa dengan Dia, yang merupakan "model" bagi manusia utuh lengkap. Dan model itu membuat mereka yang percaya kepada-Nya menjadi juga "manusia untuk lain orang," sehingga iman itu secara sosiopolitik memang relevan.

Seorang tokoh lain yang amat memprihatinkan relevansi iman Kristen bagi "dunia" ialah J. Moltmann. Karya utamanya ialah: Theologie der Hoffnung (1966); Der gekreuzigte Gott. Das Kreuz Christi als grund und Kritik christilicher Theologie (1972) dan Trinität und Reich Gottes Zur Gottes lehre (1980). Sama seperti Pannenberg, demikian pun Moltmann peka terhadap kritik yang dilontarkan marksisme terhadap agama pada umumnya dan khususnya terhadap agama Kristen. Moltmann a. l. berdialog dengan neomarksis terkenal E. Bloch yang dalam karyanya "Das Prinzip Hoffnung (1967) menyajikan juga semacam "Yesuologi marksis".

Moltmann membalikkan kristologi Pannenberg dan pendekatannya. Kristologi Pannenberg suatu kristologi dari bawah, agak berat sebelah dan terlalu optimis. Pannenberg menonjolkan kebangkitan Yesus sebagai peristiwa yang memutuskan. Tetapi sebenarnya hanya sehubungan dengan pernyataan. Stbab kebangkitan hanya menyingkapkan apa yang sudah terkandung dalam Yesus di dunia. Kebangkitan bukanlah sesuatu yang serba baru, yang menambah sesuatu. Dengan tekanannya pada kebangkitan Pannenberg juga mengaburkan makna khusus kematian Yesus di salib. Kematian itu dalam pendekatan Pannenberg hanya suatu "peralihan," yang kalau tidak ada tidak berubah apa-apa.

Moltmann agak sehaluan dengan tradisi Reformasi dan pemikiran K. Barth. Dalam kristologi (dari alas) ditekankan segi soteriologis. Tentu saja soteriologi mengandaikan kristologi, tetapi minat Moltmann tertarik oleh yang pertama. Moltmann tidak menyusun kristologi/soteriologinya sekitar "Firman Allah," Yesus Kristus sebagai penyataan Allah (Barth, Pannenberg). Tekanan terletak pada kematian Yesus, yang sudah barang tentu tidak terlepas dart kebangkitan. Kedua ini menjadi satu peristiwa penyelamatan. Moltmann tidak terlalu merepotkan diri dengan masalah historisitas Yesus. Historisitas serta hal-ihwal Yesus dalam garis-garis besarnya diterima seperti diwartakan Perjanjian Baru. Itu menjadi prasyarat untuk pemikiran lebih lanjut. Pikiran Moltmann itu berpusatkan penderitaan dan kematian Yesus di salib. Itulah yang menjadi pokok inti iman Kristen. Dilihat dari sisi manusia Yesus dibunuh oleh karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat sosio-religius di zamannya. Dan semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus pun tidak pernah dapat menyesuaikan diri, berarti: mereka harus menderita sebagai pengikut Yesus dan menjadi dinamika yang mengubah masyarakat menuju ke akhir yang melampaui dunia, tetapi sekaligus diantisipasikan di dalam dunia yang berisikan penderitaan, kegagalan dan kematian.

Hanya yang menderita dan mati di salib itu bukanlah seorang manusia belaka, meskipun seorang manusia unggul sekali pun; bukan suatu "idea" atau doktrin. Yang menderita dan mati itu ialah Anak Allah yang sesungguhnya. Moltmann tetap mempertahankan ajaran tradisional bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah. Namun Moltmann seperti sekian banyak teolog berkeberatan terhadap rumus tentang adanya "dua kodrat" pada Yesus yang hanya satu. Sebab, menurut Moltmann, implikasi ajaran itu ialah: Yang menderita dan mati hanyalah kemanusiaan, sehingga Allah tidak tersentuh. Menurut Moltmann orang mesti berkata bahwa dalam manusia Yesus Allah sendiri menderita dan mati. Dan kematian Yesus dan kematian Allah sertanya benar-benar kematian mutlak. Yesus/Allah ditinggalkan Allah, ditolak Allah, mengalami neraka (seperti dalam tradisi Reformasi suka dikatakan). Dengan taat dan rela Yesus menyerahkan diri kepada Allah, tetapi oleh Allah ditolak. Dengan demikian Moltmann secara teologis menempatkan penderitaan dan kematian itu di dalam Allah sendiri. Allah menjadi suatu paradoks di dalam diri-Nya. Allah menjadi nyata sebagai Allah "sub contrario." Menurut Moltmann salib Yesus menyatakan Allah lain daripada Allah yang barangkali ditemukan filsafat dan Allah lain daripada Allah seperti lazimnya dipahami dalam tradisi Kristen. Allah filsafat dan Allah tradisi itu ialah: Allah yang tidak berubah, yang tetap sama, tidak dapat menderita, tidak dapat mati, Allah kekal tak terubah. Tetapi Allah menurut iman Kristen yang terungkap dalam Perjanjian Baru ialah Allah yang benar-benar menjadi senasib dengan manusia sampai akhir.

Moltmann sangat menekankan bahwa diri Yesus menjadi inti iman Kristen, bukan "die Sache Jesu" (Marxsen, apa yang diperjuangkan dan diajarkan Yesus, relasi dengan Yesus). Bersama dengan diri Yesus juga "die Sache Jesu" mengalami kegagalan total.

Tetapi tanpa kebangkitan penderitaan dan kematian Yesus tidak bermakna dan hanya menjadi kegagalan belaka. Di lain pihak kebangkitan itu tidak membatalkan penderitaan dan kematian. Itu tetap suatu realitas yang oleh kebangkitan seolah-olah diabadikan. Kebangkitan itu menyatakan siapa yang menderita dan mati di salib, memberi kematian di salib makna penyelamatan dan menjadikan peristiwa penyelamatan itu definitif. Dalam kebangkitan menjadi jelas bahwa kematian Yesus, kematian orang berdosa, nyatanya kematian untuk orang berdosa. Padahal kebangkitan Yesus menjadi kebangkitan manusia Yesus mendahului kebangkitan kita, manusia berdosa. Berkat kebangkitan kematian Yesus nyatanya mempunyai makna dan daya penyelamatan. Tetapi juga sebaliknya: berkat kematian Yesus kebangkitan-Nya mempunyai makna penyelamatan. Kedua peristiwa itu saling melengkapi dan saling membutuhkan. Kematian Yesus seolah-olah suatu kekeliruan dari pihak manusia yang membunuh Allah. Kekeliruan itu oleh Allah dibetulkan dengan membangkitkan Yesus. Sasaran utama iman Kristen ialah Yesus, Anak Allah, yang tetap Yesus yang disalibkan dan dibangkitkan.

Dan pokok iman itulah menjadi dasar pengharapan yang tak tergoncangkan. Eksistenisi manusia tidak dapat tidak mengalami kegagalan (kematian) dan dari dalam tidak mempunyai makna sama sekali (seperti juga dikatakan oleh eksistensialis ateis dari Francis, Sartre, Camus). Tetapi dalam eksistensi dan hal ihwal Yesus tersingkap mana makna dan bagaimana eksistensi manusia bermakna.

Dengan pendekatannya itu Moltmann mengangkat kembali dan dengan caranya sendiri mau memecahkan suatu masalah yang sejak abad III sudah ada. Soalnya sebagai berikut: Bagaimana dapat dipikirkan sekaligus: Allah (Anak Allah, Firman Allah yang sehakikat dengan Bapa) dan manusia (kemanusiaan) real dan historis, khususnya dalam penderitaan dan kematian real. Problem itu ialah masalah "kenosis" Allah (bandingkan dengan Flp 2:5-11).

Di kalangan Reformasi khususnya di Inggris, masalah itu hangat diperdebatkan selama abad XIX dan pada awal abad XX (Misalnya: A. Fairbairn, Chrisin modern Theology, 1893; Ch. Gore, Bampton Lecture, 1891; F. Westton, The One Christ, 1907). Di Jerman pun masalah "kenosis" itu hangat diperdebatkan, khususnya sehubungan dengan kritik D. F. Strauss. Tokoh penting dalam debat itu ialah G. Thomasius (± 1875). Menurutnya Anak Allah pra-existen (ialah kehendak Allah) dalam inkarnasi menjadi terbatas dalam ciri-ciri yang menyangkut dunia, sehingga misalnya tidak lagi menjadi pengantara penciptaan. W. F. Gess (± 1891) malah berkata bahwa Firman Allah meninggalkan semua ciri ilahi dan berubah menjadi rnanusiawi. Usaha untuk memecahkan soal itu sebenarnya kurang berhasil. Namun, perdebatan itu menyadarkan kembali masalah yang ada dan misteri dan tidak tertembus. Moltmann sekali lagi berusaha dan boleh dikatakan ia membuka jalan baru, justru dengan meninggalkan paham lama tentang Allah yang tidak berubah dan tidak terkena oleh penderitaan dan kematian Yesus di salib. Di lain pihak pendekatan Moltmann mendapat juga cukup banyak kritik, sehingga masalah belum juga dipecahkan. Nampaknya bahwa, menurut Moltmann, Allah sendiri menyalibkan Yesus. Dan bagaimana dapat dipertahankan dan dipikirkan bahwa diri ilahi pertama (Bapa) menolak diri ilahi yang kedua?

Kiranya bukan keterlaluan kalau dikatakan bahwa kristologi "modern" itu terutama digumuli di kalangan Reformasi yang berbahasa Jerman dengan sumbangan dari pihak Reformasi di negeri Inggris. Di luar Eropa umumnya hanya buah hasil pemikiran itu sedikit banyak disebar-luaskan. Tetapi akhir-akhir ini Reformasi di Amerika Serikat berusaha mengembangkan suatu pendekatan khusus. Tampil beberapa pemikir yang l. k. "otonom." Terpengaruh oleh filsafat A. Whitehead (± th, 1947) berkembanglah suatu "Process Theology" (sejalan dengan process philosophy). Dalam pendekatan itu seluruh realitas yang dapat diamati pada dasarnya merupakan suatu proses terus-menerus. Dalam filsafat Whitehead Allah merupakan suatu prasyarat proses itu, suatu prinsip perkembangan yang imanen pada realitas itu sendiri. Prinsip itu menjamin jalannya proses itu secara teratur dan merupakan kesinambungan dalam proses itu antara menjadi dan menghilang. Dengan demikian "Allah" terdiri atas dua "kutub." Ada sementara teolog yang berusaha memanfaatkan filsafat itu dan a. l. menerapkannya pada kristologi juga (Misalnya: N. Pittinger, Christology Reconsidered, 1970; J. Cobb, Christology in a pluralistic Age, 1975; D. Griffin-J. Cobb, Process Theology, 1976; Schubert Odgen, The Point of Christology, 1982).

Para teolog yang menempuh jalur pikiran itu tentu saja tidak sepakat. Tetapi mereka lebih kurang sepaham dengan apa itu Allah. Allah dilihat sebagai kemungkinan tak terbatas yang mendasarkan realitas yang sedang dalam proses. Kemungkinan itu diwujudkan terutama oleh manusia, sehingga manusialah yang menjadikan Allah suatu realitas. Dalam pendekatan itu Yesus Kristus menjadi "insanulkamil." Yesus seorang manusia yang pada hakikatnya tidak berbeda dengan manusia lain. Tetapi dalam Yesus kemanusiaan mencapai puncaknya, sehingga Yesus menjadi pola dan contoh bagi manusia yang sedang maju dalam pengrealisasian diri dalam kasih. Dibedakan antara Yesus (manusia) dan Kristus. Kristus ialah prinsip kasih yang tanggap menciptakan; kasih ini disamakan dengan Allah yang serentak imanen dan transenden. Sebab kasih (kosmik) itu terus secara dinamika melampaui dirinya. Yesus, manusia paling sempurna, membuka diri untuk "Kristus" itu. Dan dengan demikian dengan Yesus mulailah tahap sejarah (kosmis) yang paling jelas mengarahkan sejarah itu kepada tujuannya, ialah meleburnya segala sesuatu menjadi satu. Dalam Yesus yang membuka diri bagi "Kristus" persatuan sudah diantisipasikan sebab Dia itu Yesus Kristus. Dalam Yesus "Allah" mencapai puncaknya. Dalam Yesus Kristus "daya kosmis" itu berwujud, sehingga Yesus Kristus menjadi puncak dan pusat seluruh proses kosmis itu, yang dalam Yesus Kristus menjadi sadar diri secara sempurna (kurang sempurna pada manusia-manusia lain). Hakikat Yesus Kristus, ialah daya kosmis itu, disamakan dengan "logos" yang menjadi "manusia" dalam Yesus Kristus dengan tingkat teratas. Kalau ringkasan tersebut l. k. kena, maka "Process-Christology" itu mengingatkan kepada kristologi Hegel dan juga kepada logos-kristologi dari gnosis abadlll-IV.

Berdekatan dengan "Process Theology" tersebut ialah sejumlah teolog Amerika Utara yang menyatakan Allah "mati." Artinya: paham tentang Allah yang tradisional tidak lagi dapat dipakai dalam alam pikiran modern. Teolog itu juga melihat Yesus sebagai manusia unggul, contoh ulung peri kemanusiaan. Kekristenan bertugas melanjutkan apa yang dimulai Yesus: Kasih kepada sesama dan kasih kepada semesta alam, perwujudan kasih ilahi yang meresap seluruh jagat raja. Pikiran semacam itu dilontarkan misalnya oleh G. Vahanian 1961; P. M. v. Buren, 1965; Th. J. Altzier, 1966; W. Hamilton, 1966. Juga D. Sölle di Jerman mengemukakan kristologi yang serupa (Stellvertretung: Ein Kapitel Theologie nach dem Tot Gottes 1965). Dalam "teologi imajinasi," seperti dicobai oleh Ray Hart (Unfinished Man and Imagination, 1968), Gorden Kaufman (God the Problem, 1972, Essay on theological Method, 1972; The Theological Imagination, 1982; Sistematic Theology, 1968) semua ide religius menjadi buah hasil "imajinasi" manusia, termasuk Yesus Kristus yang diimani umat Kristen.

Sebagai tambahan, meskipun di luar kerangka "kristologi" yang sebenarnya, boleh dikatakan sepatah kata mengenai Yesus sebagaimana tampil di luar kerangka umat Kristen.

Selama abad XX ini orang Yahudi mulai menaruh perhatian kepada Yesus sebagai salah seorang tokoh bangsa mereka. Setelah berabad-abad lamanya Yesus sedikit banyak disingkirkan dari kesadaran bangsa Yahudi. Tetapi akhir-akhir ini Yesus tampil kembali. la diperkenalkan sebagai seorang Yahudi sejati, pahlawan nasional dan manusia Yahudi yang jitu. Muncullah di kalangan Yahudi "Riwayat hidup Yesus" (serentak teruntuk

bagi umat Kristen). Yang paling penting boleh disebutkan: H. Eisler Jesous basileus, ou basileusas. Gerakan kemerdekaan mesianis sejak tampilnya Yohanes Pembaptis sampai dengan pembunuhan Yakobus, orang benar (1929-1930). Pikiran Eisler dipopulerkan oleh buku (amat fantastis) karangan J. Carmichael, Riwayat hidup dan kematian Yesus dari Nazareth (1964). Lebih berbobot ialah J. Klausner, Yesus dari Nazareth. Zaman-Nya, hidup-Nya dan karya-Nya (1934). Secara religius Yesus digambarkan oleh M. Buber (Dua cara beriman, 1958) dan oleh Schalom Ben Chorin (Saudara Yesus. Orang Nazareth menurut pandangan Yahudi, 1970) D. Flusser (Yesus menurut kesaksian diri dan dokumen-dokumen bergambar, 1968) juga mendekati Yesus secara positif sebagai orang Yahudi sejati.

Para sastrawan modern pun mencoba menggambarkan Yesus seperti mereka milihat-Nya. Secara negatif Yesus ditampilkan oleh R. Augstein (Yesus Anak Manusia, 1972) dan secara positif (melawan apa yang dikatakan umat Kristen tentang Yesus) Yesus tampil dalam semacam roman, karangan J. Lehmann (Laporan tentang Yesus. Protokol suatu pemalsuan, 1970). Bahkan marksis yang ateis tidak dapat melupakan Yesus. Tidak hanya neomarksis E. Bloch, memberi perhatian kepada Yesus, tapi juga dalam rangka negara komunis Cekoslowakia seorang pemikir sepsrti M. Machovec menulis buku tebal (300 halaman !!!) yang berjudul: Yesus filr Atheisten (1972). Karena itu penulisnya dipecat dan dikeluarkan dai: partai. Penilaiannya terhadap Yesus dinilai terlalu positif.

Para pemuda Amerika Serikat dan kemudian pemuda di Eropa memproyeksikan frustrasi dan cita-citanya kepada Yesus. Tercetuslah gerakan "Jesus-people" dan "Children of God" pada tahun 1960 puluhan. Di kalangan pemuda itu Yesus menjadi semacam idola, ciptaan mereka sendiri tapi serentak menjadi pegangan bagi mereka yang kehilangan pegangan. Yesus, ciptaan kaum muda itu, jelas seorang tokoh religius, tetapi kurang sesuai dengan Yesus Kristus yang diwartakan umat Kristen.

(sebelum, sesudah)


SEJARAH DOGMA KRISTOLOGI
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Kristus Pada Umat Kristen
PENERBIT KANISIUS (Anggota IKAPI)
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Telepon (0274) 588783, 565996, Fax (0274) 563349
E-Mail: office@kanisiusmedia.com
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Sumbangan Salib Bening [salib.bening@gmail.com]

Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.