UGM - Universitas Perjuangan

dikumpulkan sebagian besar dari Bagian Arsip UGM
untuk mempercepat penyebaran informasi secara efisien
dan menambah percepatan kemajuan Indonesia tercinta ...

Tidak hanya kuliah, juga berjuang

Sebagai lembaga baru, UGM kemudian memantapkan posisi sebagai Universitas Pancasila. Pada fase ini, UGM meletakkan dasar-dasar pendidikan bagi bangsa Indonesia.

Ya Kuliah Ya Berjuang

Keadaan Indonesia pada tahun-tahun awal kemerdekaan masih belum stabil. Hal tersebut mendorong sivitas akademika Universitas Gadjah Mada berperan ganda. Mereka dituntut tidak hanya menimba ilmu di bangku kuliah, tetapi juga turut angkat senjata berjuang mempertahankan kemerdekaan. Mereka juga harus mencurahkan pikirannya dalam meletakkan dasar pendidikan bangsa.

Sampai ke Medan Perang

Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso lahir di lingkungan benteng Kraton Kasunanan Surakarta, pada 9 Mei 1932. Beliau merupakan saksi sekaligus pelaku perjuangan mahasiswa dalam mempertahankan kemerdekaan. Pengalaman tersebut dituangkan oleh dosen Teknik Sipil ini dalam sejumlah lukisan yang menjadi rekaman sejarah perjuangan bangsa Indonesia.


Ya Kuliah Ya
         Berjuang.

Menggambarkan para mahasiswa mengadakan serangan ke Jembatan Kemit Gombong

Ya Kuliah Ya
         Berjuang.

Menggambarkan para mahasiswa mengadakan serangan ke Jembatan Kemit Gombong, yang ikut dalam serangan antara lain: Sdr. Asiar, Sdr. Sumantri Brojonegoro (Mantan Menteri P & K) dan Sdr. Sunarso almarhum Jembatan Kemit kemudian menjadi titik pada garis demarkasi.


Foto Kali Kemit Gombong daerah Belanda

Foto Kali Kemit Gombong daerah Belanda.

Pada 8 Agustus 1948, sebuah foto bersejarah diambil di Gombong dan kini tersimpan di Nationaal Archief. Foto ini berasal dari koleksi Dienst voor Legercontacten (DLC), unit dokumentasi militer Belanda di masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Arsip itu merekam suasana menunggu kereta evakuasi yang membawa pengungsi dari wilayah Republik Indonesia menuju daerah yang dikuasai Belanda.

Dalam keterangan arsip disebutkan bahwa di daerah Kali Kemit, sekitar Gombong, para pengungsi telah beberapa bulan dipindahkan ke wilayah Belanda. Untuk menerima mereka dibentuk panitia khusus yang terdiri dari personel Palang Merah, dokter, dan unsur militer.

Dalam foto tampak sebuah kelompok dengan bendera putih sedang menanti datangnya kereta evakuasi. Foto ini menunjukkan bahwa perang kemerdekaan bukan hanya tentang pertempuran bersenjata, tetapi juga tentang perpindahan penduduk, krisis kemanusiaan, dan perebutan pengaruh politik. Di tengah konflik antara Republik Indonesia dan Belanda setelah Perjanjian Renville, banyak warga sipil berada dalam posisi sulit dan harus berpindah wilayah demi keamanan atau karena tekanan situasi perang.

Arsip seperti ini penting karena membantu generasi sekarang memahami kompleksitas sejarah Indonesia secara lebih utuh. Sebuah foto hitam-putih sederhana ternyata mampu merekam suasana tegang, harapan, sekaligus luka sosial pada masa Revolusi 1945–1949. Sejarah memang tidak selalu hitam-putih — kadang justru tersimpan dalam detail kecil di sebuah stasiun, bendera putih, dan kereta pengungsian.


(Alamat situs ini: http://luk.staff.ugm.ac.id/UGM/, http://luk.tsipil.ugm.ac.id/UGM/)