Relief Kamadhatu (Terpendam) Candi Boroboedoer
Foto
Kassian Cephas periode 1890-1891

dikumpulkan dari berbagai sumber
terutama koleksi langka
Perpustakaan Pusat UGM
untuk mempercepat penyebaran informasi secara efisien
dan menambah percepatan kemajuan Indonesia tercinta ...

Pojok Sutra Karmawibhangga yang masih tampak

1. Penemuan Arkeologis dan Hipotesis Struktur

Secara historis, keberadaan relief ini tidak diketahui hingga tahun 1885, ketika J.W. Ijzerman menemukan adanya relief yang tersembunyi di balik kaki tambahan (encasement). Secara akademik, terdapat perdebatan mengenai alasan penutupan 160 panil relief ini:

  • Alasan Teknis (Struktural): Teori yang paling diterima secara luas adalah kegagalan struktural saat pembangunan. Borobudur dibangun di atas bukit tanah yang tidak stabil. Tekanan dari massa batu yang masif menyebabkan bagian dasar candi mengalami pergeseran atau "melebar" keluar (sliding). Untuk mencegah keruntuhan, arsitek Jawa kuno memutuskan untuk membangun "kaki tambahan" yang berfungsi sebagai tanggul penyangga (buttress).
  • Alasan Keagamaan/Simbolis: Beberapa sarjana berpendapat bahwa penutupan ini mungkin disengaja karena konten relief Karmawibhangga yang vulgar (menggambarkan pembunuhan, penyiksaan, dan nafsu) dianggap terlalu "duniawi" untuk dilihat secara terbuka pada bangunan suci, atau sebagai representasi simbolis dari "dunia yang tertutup" oleh ketidaktahuan (Avidya).

2. Dokumentasi Filologis dan Visual

Karena alasan keamanan struktur, kaki tambahan tersebut tidak mungkin dibongkar seluruhnya secara permanen. Oleh karena itu, pada tahun 1890-1891, dilakukan proyek pendokumentasian besar-besaran oleh Kassian Cephas.

Struktur kaki tambahan dibuka bagian demi bagian, difoto, lalu ditutup kembali. Koleksi foto Cephas ini menjadi satu-satunya sumber primer bagi para epigraf dan sejarawan seni untuk mempelajari keseluruhan narasi Karmawibhangga, karena saat ini 156 panil lainnya terkubur di balik berton-ton batu andesit.

3. Signifikansi Sudut Tenggara yang Terbuka

Pojokan yang tampak sekarang (di sudut Tenggara) sengaja dibiarkan terbuka oleh para pemugar (terutama pada masa Theodoor van Erp dan dilanjutkan pada pemugaran UNESCO) dengan tujuan didaktis-arkeologis:

  • Evidence of Construction: Memberikan bukti visual kepada publik dan peneliti tentang adanya fase pembangunan ganda dan perubahan desain mendadak pada masa lalu.
  • Representasi Kamadhatu: Sudut ini menjadi wakil dari tingkat Kamadhatu (alam keinginan). Dengan membiarkan satu sudut terbuka, pengunjung dapat memahami bahwa seluruh dasar candi sebenarnya adalah "perpustakaan batu" yang menceritakan hukum sebab-akibat.

4. Analisis Ikonografi Karmawibhangga

Secara akademik, relief Karmawibhangga di pojok tersebut mengikuti teks Mahakarmawibhangga. Pola narasinya mengikuti skema: Perbuatan (Sebab) Akibat.

  • Sisi kiri panil biasanya menggambarkan perbuatan manusia di dunia (misalnya: menyiksa binatang atau bergunjing).
  • Sisi kanan panil menggambarkan konsekuensi di alam baka atau reinkarnasi berikutnya (misalnya: dimasukkan ke kawah candradimuka atau lahir dalam kemiskinan).

Pahatan di pojok ini dianggap sebagai puncak seni relief periode Jawa Tengah karena detail naturalisnya yang tinggi—menggambarkan flora, fauna, serta busana masyarakat abad ke-8 hingga ke-9 Masehi dengan sangat akurat.

Kesimpulan

Sudut Karmawibhangga yang terbuka saat ini adalah kompromi antara pelestarian struktural (untuk menjaga candi agar tidak runtuh) dan kebutuhan edukasi (agar pesan moral dan sejarah teknik bangunan tetap dapat dipelajari). Ia berfungsi sebagai pengingat fisik bahwa di bawah kemegahan Borobudur, terdapat lapisan ajaran moral dasar mengenai perilaku manusia.

Catatan:

Di bawah ini disajikan beberapa citra Pojok Karmawibhangga, pengayaan hasil Kecerdasan Buatan (AI, Akal Imitasi). Penjelasan cara rekonstruksi dan restorasi relief dapat dibaca di sini dan sini.


Penjelasan cara rekonstruksi dan restorasi relief dapat dibaca di sini dan sini.
Pilihan relief: seluruh relief atau acak.


(Alamat situs ini: http://luk.staff.ugm.ac.id/Borobudur/relief/Cephas/, http://luk.tsipil.ugm.ac.id/Borobudur/relief/Cephas/)