Hikayat-hikayat Mistis

oleh Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS
Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
 
PENERBIT MIZAN
KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM, September 1992
Jln. Yodkali 16, Telp. 700931 (dua saluran)
Bandung 40124
 
VII. Bahasa Semut
 
Bab 6: Bunglon dan Kelelawar
 
(10) Suatu kali pernah timbul pertentangan  antara  beberapa
ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka
sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu  sudah
melampaui  batas.  Para  kelelawar  setuju  bahwa  jika saat
petang  menjelang  malam  telah   menyebar   melalui   ceruk
lingkaran  langit,  dan  matahari  telah  turun  di  hadapan
bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari,  mereka
akan   bersama-sama   menyerang   si  bunglon  dan,  setelah
menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka  hati  dan
melampiaskan  dendam.  Ketika  saat  yang  dinantikan  tiba,
mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama
menyeret  bunglon  yang  malang dan tak berdaya itu ke dalam
sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.
 
Ketika fajar tiba, mereka  bertanya-tanya  apakah  sebaiknya
bunglon  itu  disiksa  saja.  Mereka  semua setuju bahwa dia
harus dibunuh, tetapi mereka  masih  merencanakan  bagaimana
cara  terbaik  untuk  melaksanakan pembunuhan  itu. Akhirnya
mereka memutuskan  bahwa  siksaan  yang  paling  menyakitkan
adalah  dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri
tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan,  selain
berada  dekat  dengan  matahari; dan, dengan membuat analogi
dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam  supaya  dia
memandang   matahari.   Bunglon   itu,  sudah  pasti,  tidak
mengharapkan yang lebih baik lagi. 'Penghukuman' semacam itu
persis  seperti  yang  diinginkannya,  sebagaimana dikatakan
oleh Husayn Manshur,
 
Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan
terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada
dalam  kematianku, dan kematianku ada dalam
hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat
dalam Al-Hallaj, 14.1)
 
Maka  ketika  matahari terbit, mereka membawanya keluar dari
rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh  cahaya
matahari,   siksaan   yang   sesungguhnya   merupakan  jalan
keselamatan baginya.
 
Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur
dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak!
Bahkan mereka hidup. Mereka  mendapat rizki dan
Tuhannya. (QS 3:169)
 
Kalau  saja  para  kelelawar  itu  tahu  betapa  murah  hati
tindakan  mereka  terhadap  bunglon  itu,  dan betapa mereka
telah  berbuat  keliru,  karena  mereka  justru   memberinya
kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani
berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka
telah  mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka
pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia
'Aththar, Tadzkirah, hal. 282)

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team