SEJARAH DOGMA KRISTOLOGI
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Kristus Pada Umat Kristen

Dr. C. Groenen OFM

2. Yesus Kristus pada kekristenan Yahudi

Tentang kekristenan Yahudi selama abad II-III tidak amat banyak diketahui dengan pasti. Nyatanya kekristenan itu semakin mundur dan akhirnya hilang lenyap dari panggung sejarah. Itu antara lain disebabkan oleh dihancurkannya pusat kekristenan itu, yaitu Yerusalem, oleh tentara Roma sampai dua kali, yakni pada tahun 70 dan tahun 135. Ada berita bahwa menjelang tahun 70 jemaah Yerusalem melarikan diri ke Pela, sebuah kota di seberang sungai Yordan di wilayah Dekapolis. Kemudian jemaah itu kembali. Tetapi sejak tahun 135 orang-orang Yahudi dilarang menetap di Yerusalem. Maka jemaah Kristen di sana menjadi jemaah Yunani. Kekristenan Yahudi di Diaspora kehilangan pusatnya. Mereka masih cukup lama dapat mempertahankan diri, khususnya di Siria dan Mesir, tetapi pengaruhnya semakin lemah. Mereka pun jauh dari seragam dan semakin terpecah-belah.

Kekristenan Yahudi terutama menggabungkan diri dengan Petrus, Yohanes dan teristimewa dengan Yakobus, saudara Tuhan. Yakobus itu menjadi pemimpin jemaah di Yerusalem, setelah Yakobus bin Zebedeus dibunuh oleh Raja Herodes Antipas (th 43/44) (Gal 1:18-19; 2:7, 9, 12; Kis 12:17; 15:13; 21:18; 1Kor15:7). Jemaah-jemaah Kristen keturunan Yahudi tetap setia dan semakin ketat setia kepada adat kebiasaan Yahudi, termasuk hukum Taurat, ibadat dan sunat (Mat 5:17-19; 6:16; 5:23; 23:2-3, 23; Kis 2:46; 3:1; 10:9; 21:20-24, 26; 16:1-3). Mereka mengakui Yesus, orang Nazareth, sebagai Mesias (Kis 5:42; 8:5; 9:22) dan begitu membedakan diri dengan kelompok-kelompoknya Yahudi yang lain (Kis 24:5, 14; 28:22). Juga setelah pada tahun ± 90 M dikeluarkan dari masyarakat keagamaan Yahudi (Yoh 9:22, 34; 12:42; 16:2), mereka tetap setia dan menganggap dirinya lanjutan Israel sejati, mirip dengan kelompok-kelompok Yahudi yang sebelum tahun 70 menetap di Qumran. Tidak mustahil sebagian dari jemaah Qumram itu masuk Kristen dan membawa serta semangat dan alam pikirannya. Itu menjelaskan mengapa (sebagian dari) jemaah-jemaah Kristen-Yahudi itu menolak ibadat korban di Yerusalem.

Jemaah-jemaah Kristen keturunan Yahudi itu menghasilkan sejumlah karangan (antara lain Didakhe, Pastor, karangan Hermas, Surat para Rasul, sejumlah "Apokalips," yang dikemudian hari dinilai "gadungan," apokrip). Mereka pun mengolah beberapa karangan Yahudi yang sudah tersedia (Misalnya: Kenaikan Yesaya, 4Ezra, 2Henokh, Wasiat XII Bapa Bangsa, Oracula Sibyllarum). Mereka pun menyusun Injil-injilnya sendiri, seperti Injil menurut orang-orang Ibrani, sama dengan Injil orang Nasrani.

Sejak awal jemaah-jemaah Kristen keturunan Yahudi gemar akan jenis sastra dan alam pikiran yang diistilahkan sebagai "Apokaliptik." Kegemaran itu sudah terasa dalam Perjanjian Baru yang memuat juga Kitab Wahyu (apokalipsi) Yohanes, Mrk 13; 2Tes; 2Ptr; Yud. Ini warisan dari aliran tertentu dalam agama Yahudi yang tentu saja diadaptasikan pada kepercayaan Kristen yang secara mendasar berbeda dengan kepercayaan yang menjiwai para apokaliptisi Yahudi. Jenis sastra apokaliptis suka akan macam-macam gambar dan lambang yang bagi kita terasa aneh; akan rahasia-rahasia jagat raya yang terdiri atas pelbagai tingkat: Dari langit tertinggi (boleh jadi yang ketujuh, yaitu "surga" bandingkan dengan 2Kor 12:2-4) sampai tingkat terbawah, yaitu dunia orang mati di bawah keping bumi. Astronomi/astrologi berperan besar seperti juga malaikat-malaikat yang ada berbagai tingkatnya dan roh-roh jahat. Malaikat-malaikat dan roh-roh jahat itu seolah-olah membentuk semacam dunia sendiri, masing-masing dengan kepalanya, dan menghuni tingkat-tingkat jagat raya antara langit tertinggi dan bumi. Bagi kita alam pikiran Yahudi-apokaliptis dengan bahasanya yang khas memang ganjil rasanya dan amat fantastis. Namun demikian, cara berpikir dan cara berbicara itu pun legitim dan tidak boleh begitu saja ditolak sebagai kekanak-kanakan, prailmiah, primitif dan sebagainya. Hanya bagi kita sedikit sukar memahami apa yang persis dimaksudkan, lalu memindahkannya ke dalam alam pikiran lain, alam pikiran kita. Tetapi kesulitan yang sama kita hadapi, bila mau memahami alam pikiran dan bahasa seperti misalnya laku di kalangan kebatinan Jawa.

Maka wajar sekali kekristenan Yahudi itu mengungkapkan kepercayaannya dengan menggunakan alam pikiran dan bahasa Yahudi-apokaliptis itu. Dalam rangka pemikiran itu pun mereka berusaha mengungkapkan siapa sebenarnya Yesus Kristus bagi mereka, mana peranan dan kedudukan-Nya dalam karya penyelamatan Allah. Tetap mesti diingat bahwa, kendati pengaruh Yunani, alam pikiran Yahudi itu tetap alam pikiran dinamis, bukan alam pikiran statis, esensial ala Yunani.

Seorang cendekiawan-filsuf Kristen, Yustinus, sekitar tahun 155 memberitahukan bahkan pada masa itu masih ada sekelompok orang Kristen keturunan Yahudi yang meneruskan pandangan terhadap Yesus Kristus seperti pada awal ada. Mereka mengerti Yesus, orang Nazareth, sebagai seorang manusia yang suci dan kudus. Oleh Allah Ia dipilih dan diangkat menjadi Mesias, Kristus. Mereka belum memahami bahwa orang itu sudah ada, entah bagaimana, sebelum tampil di muka bumi, seperti diyakini oleh Yustinus sendiri. Namun demikian, Yustinus tidak mencap mereka sebagai "bidaah," tersesat dari iman sejati. Jelaslah, kelompok Kristen-Yahudi itu tidak mengikuti perkembangan yang tercantum dalam karangan-karangan Perjanjian Baru, yang menyamakan Yesus dengan hikmat kebijaksanaan Allah, Firman Allah dan Anak Allah yang sejak kekal ada dan pada saat tertentu tampil di bumi.

Tetapi rupanya pandangan tersebut yang boleh dikatakan "primitif" tidak menjadi pandangan umum pada jemaah-jemaah Kristen-Yahudi di masa itu. Pada abad II tersebar sebuah karangan lain, Kerygmata Petrou, yang sekarang tercantum dalam sebuah karya yang diistilahkan sebagai "Pseudo-Clementina." Dalam karangan itu Yesus Kristus ditampilkan sebagai seorang Guru (Rabbi) dan terutama sebagai Nabi sejati. "Nabi sejati" itu sebenarnya sejak kekal sudah ada. Dahulu sudah tampak dalam Adam, Musa, dan sebagainya. Nabi sejati itu ialah Roh Kudus, Roh Besar kenabian. Roh itu terus-menerus mengganti nama dan rupa sepanjang sejarah (bandingkan dengan Keb 7:27). Ia misalnya merasuki Adam dan Musa. Tetapi pada saatnya Roh Kudus itu mendapat tempat istirahat tetap pada Yesus, setelah Roh itu karena jasanya oleh Allah diurapi (menjadi Kristus). Maka nabi Yesus serentak Kristus, Mesias sejati, melebihi Musa dan lain-lain nabi. Dalam pandangan itu Yesus menjadi semacam "tempat kediaman" Roh Kudus, Kristus surgawi. Caranya Roh itu digambarkan menyatakan bahwa Ia mirip hikmat kebijaksanaan dari Perjanjian Lama. Yesus menjadi tempat kediaman, penampilan tetap hikmat kebijaksanaan. Seperti sudah dijelaskan, benih pandangan macam itu (Yesus disamakan dengan hikmat kebijaksanaan) ditemukan dalam karangan-karangan Perjanjian Baru juga. Dan Perjanjian Lama (Keb 9:17; 1:4-5) sudah menyamakan hikmat kebijaksanaan dengan Roh (dan Firman) Allah.

Dengan caranya sendiri Kerygmata Petrou tersebut berusaha mengungkapkan iman kepercayaannya terhadap Yesus. Di satu pihak dipertahankan bahwa Ia seorang manusia, seorang nabi yang melanjutkan rangkaian nabi dahulu. Di lain pihak Yesus melampaui ukuran manusia, melampaui ukuran nabi terbesar, Musa. Sebelum tampil di bumi sudah ada di pihak Allah dan mempunyai ciri ilahi. Dengan demikian, Yesus menjadi Kristus ilahi yang menggenapi semua harapan para nabi dahulu. Ia juga sudah aktif dahulu serta "menjiwai," menginspirasikan para nabi. Pikiran serupa juga terdapat dalam 1 Ptr 1:11; Yud 5 (Tuhan Yesus menyelamatkan umat dari Mesir).

Pandangan yang sama diperkembangkan dalam sebuah karya lain, Anabathmoi Iakobou, yang juga tercantum dalam Pseudo-Clementina itu. Yesus dipahami sebagai nabi dan Kristus kekal. Dan Kristus kekal itu tidak lain kecuali Roh Kudus. Roh itu sejak kekal ada dan selalu menyertai orang takwa. Pernah Ia tampak pada Abraham dan Musa (theophania). Tetapi Ia kembali ke tahta surgawi-Nya. Akhirnya Ia tampil di bumi dalam Yesus. Maka Yesus lebih besar daripada Musa dan Yohanes pembaptis. Sebab Yesus baik Nabi maupun Kristus (Roh Kudus).

Dalam "Injil menurut orang-orang Ibrani," ialah "Injil orang Nasrani," Roh Kudus disebut sebagai Ibu Kristus. Dalam bahasa Ibrani "roh" (ritah) memang berjenis perempuan. Maria merupakan nama suatu kekuatan surgawi. Waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes "Sumber Roh Kudus" (berarti: roh kudus sepenuh-penuhnya) turun atas Yesus dan beristirahat (tetap tinggal) pada-Nya. Roh itu menyapa Yesus sebagai berikut, "Anakku, dalam semua nabi aku menantikan engkau sampai engkau datang. Dan aku beristirahat dalam dirimu. Sebab engkau peristirahatanku. Engkaulah anak sulungku, yang akan berkuasa untuk selama-lamanya." Kembali Roh Kudus yang tinggal pada Yesus mirip hikmat kebijaksanaan ilahi. Dan Yesus yang jelas mempunyai dimensi ilahi melebihi semua nabi lain oleh karena sebagai Anak sulung (= Mesias) berkuasa untuk selamanya.

Pendekatan serupa ditemukan dalam karya Pastor, karangan Hermas (± th. 150). Karangan itu amat laku pada jemaah-jemaah Kristen selama abad II-III dan kadang kala dianggap lebih kurang setingkat dengan Kitab Suci. Dalam penjelasan atas perumpamaan V Roh Kudus disebut Anak Allah dan Yesus digelari "Hamba Tuhan." Karena kesetiaan dan ketaatan-Nya Hamba itu akhirnya juga diangkat menjadi Anak Allah, sama waris dengan Anak Allah ialah Roh Kudus. Tetapi sebelumnya Roh Kudus itu sudah mendiami "daging" (Hamba itu). Oleh karena "daging" itu dengan baik melayani Roh Kudus dan, sambil hidup dengan baik dan murni, bekerja sama dengan Roh itu, maka "daging" itu (Yesus, Hamba Tuhan) dipilih menjadi kawan Roh Kudus (berarti: Anak Allah). Jadi, sebelum diangkat Yesus sudah didiami Allah (Roh Kudus) dan akhirnya juga menjadi Anak Allah.

Kristologi yang tampil dalam karangan-karangan tersebut boleh diistilahkan sebagai "Kristologi pneumatologis" (roh kudus). Jelas ada usaha untuk menggabungkan "kristologi dari bawah" (seperti ada pada kelompok yang disebut Yustinus) dengan "kristologi dari atas" (yang mengandaikan kepra-adaan, prae-existensi) Kristus. Pada Yesus ada sesuatu, Roh Kudus, kekuatan ilahi, yang sudah ada sejak kekal. Dengan Yesus - sejak dibaptis oleh Yohanes - Roh, Kekuatan ilahi yang diperorangkan, secara definitif tampil di muka bumi dengan memuncak dalam kebangkitan Yesus. Roh ilahi itu sedikit banyak "menjelma" dalam diri Yesus. Maka pada Yesus Kristus - entah sejak kapan - ada suatu dimensi yang melampaui dimensi manusiawi. Boleh dikatakan bahwa dalam pendekatan itu dimensi, ciri manusiawi Yesus semakin disingkirkan sebagai sesuatu yang relevan. Namun terus juga Yesus dianggap sebagai, "manusia," paling tidak sampai mulai "didiami" Roh Kudus.

Kristologi "pneumatologis" tersebut memang sangat mendekati kristologi yang (di kemudian hari) diistilahkan sebagai "adoptianisme." Yesus (hanya) Anak angkat Allah. Adoptianisme itu memang tampil dalam sebuah karangan yang disebut sebagai "Injil kaum Ebyonim." "Kaum "Ebyonim" itu sekelompok orang Kristen-Yahudi yang menamakan diri demikian (kaum miskin), mirip dengan jemaah "orang miskin" di Qumran dahulu. Pujangga Gereja Ireneus (± th. 200) membicarakan orang itu dan menilainya sebagai "bidaah" (haeresis) gnostis. Menurut mereka Yesus seorang manusia, anak wajar Yosef dan Maria. Tetapi secara luar biasa Ia dianugerahi oleh Allah. Waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes maka Kristus surgawi turun kepada-Nya. Rupanya Kristus itu tidak lain dari Roh Kudus yang dengannya Yesus diurapi menjadi Kristus (dan Anak Allah). Tetapi Kristus itu meninggalkan Yesus lagi waktu disalibkan. Jadi, waktu Yesus dibaptis ia "kerasukan" Roh Kudus/Kristus surgawi." Dan pada saat itu sebuah suara surgawi berkata kepadanya, "Hari ini engkau Kuperanakkan." Maka pada saat itu Yesus menjadi Anak Allah (dan Mesias), tetapi tidak untuk selamanya. Pandangan itu disebarluaskan juga oleh seorang tokoh yang bernama Kerintus (sekitar th. 100). Menurutnya Kristus surgawi turun atas Yesus, anak Yosef dan Maria, dan memberinya kuasa gaib. Sebelum meninggal di salib Yesus ditinggalkan Kristus itu. Yang mati dan bangkit hanyalah Yesus. Yesus bukan Kristus, sebab Kristus itu sesuatu yang rohani belaka.

Kalaupun pandangan "kaum Ebyonim" dan terutama Kerintus boleh disebutkan "adoptianisme" murni, yang pada dasarnya menyangkal dimensi ilahi pada Yesus, namun boleh ditanyakan apakah pandangan yang memang kelihatannya mirip dan yang ditemukan dalam karangan-karangan lain itu pun sudah suatu "adoptianisme." Kerintus (dan kaum Ebyonim?) jelas terpengaruh oleh alam pikiran Yunani, sehingga dengan kata yang sama dimaksudkan sesuatu yang lain. Soalnya terletak dalam pandangan "kaum Ebyonim" dan Kerintus bahwa Yesus ditinggalkan Kristus waktu menderita dan mati di salib. Itu memang mengimplikasikan bahwa manusia Yesus tidak "memiliki" ciri ilahi. Hanya ditempelkan padanya untuk sementara waktu. Sebaliknya pandangan Kristen Yahudi lain itu tidak berkata demikian. Pemikiran mereka terlebih suatu usaha untuk memahami dan menjelaskan kedudukan dan peranan tetap Yesus dalam data penyelamatan. Dan kalau dilihat secara "dinamis" Yesus baru mulai berperan demikian waktu tampil di depan umum (dengan dibaptis oleh Yohanes). Pandangan itu tidak mengimplikasikan bahwa, dalam pendekatan esensial dan statis, Yesus sejak awal eksistensi-Nya di dunia tidak memiliki dimensi ilahi itu.

Di samping (dan tumpang tindih dengan) kristologi "pneumatologis" di kalangan jemaah-jemaah Kristen keturunan Yahudi berkembanglah pula suatu kristologi yang boleh disebutkan "angelis." Itu berarti bahwa peranan dan kedudukan Yesus diungkapkan dengan pertolongan gagasan, gambar dan istilah yang dipinjam dari pemikiran tentang malaikat-malaikat.

Sekitar awal tarikh Masehi di kalangan orang Yahudi, khususnya yang berhaluan apokaliptis (bandingkan dengan Kis 23:8), "angelologi" dan "demonologi" amat berkembang. Dan Perjanjian Baru membuktikan bahwa umat Kristen meneruskan pemikiran itu. Maka tidak mengherankan bahwa orang Kristen keturunan Yahudi yang berhaluan apokaliptis berusaha mengungkapkan iman kepercayaannya kepada Yesus Kristus dengan pertolongan pikiran mereka sekitar malaikat-malaikat (dan roh-roh jahat).

Malaikat-malaikat dalam alam pikiran Yahudi - yang sudah ada dalam Perjanjian Lama (Dan, Za, Yeh) - ialah "utusan" Allah yang berdekatan dengan Allah dan hampir saja tidak dibedakan dengan Allah dalam pengurusan dunia, bangsa-bangsa, umat Allah dan tiap-tiap orang. Malaikat-malaikat itu memang diperorangkan, tetapi dalam pendekatan dinamis. Berhadapan dengan malaikat-malaikat yang membentuk semacam "dunia" surgawi sekitar Allah, ada "roh-roh jahat" yang juga membentuk suatu dunia tersendiri di bawah pimpinan "Iblis" (Setan dan macam-macam nama lain lagi). Biasanya "dunia roh-roh jahat" itu ditempatkan antara "dunia Allah" (tingkat paling atas) dan dunia manusia. Roh-roh jahat menguasi jagat dan dunia manusia. Kadang-kadang di "dunia orang mati" juga terdapat "roh jahat" atau Malaikat Maut sebagai pengurus dan kepalanya. Pikiran-pikiran semacam itu memang sudah terdapat dalam Perjanjian Baru (Luk 10:18; Why 12:8-9; Ef 6:12; 2Kor 6:15; Why 9:11). Kadang-kadang perjanjian Baru mendekatkan Yesus Kristus (yang memang juga utusan Allah, Ibr 3:1) pada malaikat-malaikat (Mrk 1:13; Yoh 1:51; Mat 16:27; 25:31; Ibr 1:4; 2Tes 1:7).

Untuk mengungkapkan kedudukan dan peranan Yesus Kristus, khususnya dalam kepraadaan-Nya, umat Kristen keturunan Yahudi tidak segan memakai lambang malaikat. Dengannya ditekankan bahwa Yesus Kristus melampaui manusia dan ada di pihak Allah dalam hubungan Allah dengan dunia.

Dalam karya karangan Hennas, yaitu Pastor, berulang kali tampil "Malaikat mutabir," "Malaikat kudus," "Malaikat mulia," yang perawakannya raksasa (Vis V:2; Mand V:l. 7; Sim V:4, 4; VII:l-3; IX:1, 3; VIII:1,1-2). Dan Malaikat itu lidak lain kecuali Anak Allah (Sim IX:12, 7). Malaikat-Anak Allah itu melebihi semua malaikat lain dan setingkat dengan Tuhan sendiri. Malaikat-Anak Allah itu dinamai "Mikhael" (Sim VII:3, 3). Itu berarti bahwa Ia adalah kepala semua malaikat, mana pun tingkatnya. Dalam karangan-karangan Kristen-Yahudi lain pun Yesus Kristus digambarkan sebagai malaikat yang melampaui segenap barisan malaikat (seperti dalam Ibr 1:4). Dalam "Surat para Rasul" (± th. 140/170) misalnya dikatakan oleh Kristus sendiri bahwa berupa malaikat Gabriel Ia tampak oleh perawan Maria. Kristus dalam kepraadaan-Nya sebagai Firman Allah masuk ke dalam rahim perawan Maria. Pikiran yang sama ditemukan dalam Oracula Sibyllarum (VIII:456-461). Menarik perhatian sedikit bahwa tidak mulai dengan baptisan, tetapi sejak awal eksistensi-Nya segi ilahi Kristus sudah ditonjolkan.

Sesuai benar dengan pendekatan tersebut bila dikatakan bahwa, waktu tampil di muka bumi Firman dan Anak Allah (yang dipikirkan mirip dengan malaikat) turun dari Bapa dengan melintasi segala tingkat jagat raya dengan penghuninya (ialah barisan para malaikat dan roh jahat). Ditambah bahwa malaikat-malaikat itu tidak mengenal Firman Allah waktu turun. Dalam karangan "Kenaikan Yesaya" (X:7-12) misalnya terbaca sebagai berikut: "Maka Juru Selamat kita, ialah singa rohani, diutus oleh Bapa. Tetapi jejak-jejak rohani-Nya, yaitu keilahian-Nya, disembunyikan-Nya. Dengan malaikat Ia malaikat, dengan Tahta Ia Tahta, dengan Kuasa Ia Kuasa dan dengan manusia Ia manusia selama Ia turun. Ia kan turun ke dalam rahim Maria untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia. Maka mereka tidak mengenal-Nya waktu Ia turun dari atas." Prae-eksistensi Yesus Kristus jelas, tetapi apa yang menarik perhatian sedikit ialah: Kristus tampaknya mengambil macam-macam rupa dan penyelamatan dikaitkan dengan turun-Nya Kristus, berarti dalam peristilahan lain: dengan inkarnasi. Apa persis maksudnya? Mungkin mau dikatakan bahwa karya penyelamatan Yesus Kristus menyangkut juga "dunia atas" dan tidak hanya dunia manusia. Pikiran yang serupa juga ditemukan dalam Perjanjian Baru, yakni Yesus Kristus, Anak Allah, Firman Allah yang "turun," tentunya untuk nanti kembali (Ef 1:21; 4:9-10; 3:10-12; 1Kor2:8; Ibr 1:3-4; 4:14; Yoh 3:13; 6:62).

Sesudah mati dan bangkit Yesus Kristus turun sampai tingkat terbawah jagat raya, yaitu dunia orang-orang mati, Syeol, Hades. Dunia orang-orang mati ialah tempat di bawah keping bumi, di mana semua orang mati dikumpulkan dalam keadaan tidak berdaya. Ungkapan Yesus "turun ke dunia orang mati" dapat berarti bahwa Ia benar-benar mati seperti orang lain, mengalami keadaan orang mati, tidak berdaya sama sekali. Itulah yang dimaksudkan Kis 2:24-31. Tetapi bukan demikianlah pikiran orang-orang Kristen keturunan Yahudi, kalau berkata tentang turunnya Yesus Kristus ke dalam dunia orang mati. Mereka mengembangkan pikiran yang tercantum dalam 1Ptr3:19-20; 4:o dan Mat 27:51b-53, sebagaimana mereka mengartikan nas-nas itu. Yesus turun di dunia orang mati untuk mewartakan kemenangan-Nya, mengalahkan "Malaikat Maut" dan membebaskan orang (benar) yang terkurung di sana. Bersama dengan Kristus mereka naik ke atas, kepada Allah, keadaan selamat. Pikiran tersebut, yang memang agak simpang siur dalam karangan-karangan jemaah Kristen-Yahudi, paling lengkap terungkap dalam "Odos (Madah) Salomo," 42 (± th. 150) sebagai berikut: "Dunia orang-orang mati telah melihat Aku (Yesus Kristus) dan Aku telah menang. Maut membiarkan Aku kembali dan banyak orang beserta dengan Aku. Beserta dengan Maut Aku telah turun ke dalam dunia orang mati sedalam-dalamnya. Aku mengadakan sidang bersama orang-orang hidup di tengah-tengah orang-orang mati. Dengan bibir suci Aku telah berbicara dengan mereka. Mereka yang tadinya mati datang berlari-lari kepada-Ku. Mereka telah berseru, katanya: Kasihanilah kami, hai Anak Allah; perlakukanlah kami sesuai dengan kasih karunia-Mu. Keluarkanlah kami dari kegelapan dan bukakanlah kami pintu gerbang. Sebab, Kami melihat bahwa kematian-Mu tidak berdekatan dengan kematian kami. Adapun Aku, Aku mendengarkan suara mereka dan menggariskan nama-Ku pada dahi mereka. Itulah sebabnya maka mereka bebas dan menjadi kepunyaan-Ku".

Apa yang dengan gambaran dan bahasa apokaliptis-mitologis itu mau dikatakan cukup kentara. Yesus Kristus sebagai pemenang membebaskan orang mati dari keadaannya sebagai orang mati, keadaan yang paling memfrustrasikan eksistensi manusia dan akibat paling parah dosa dan kedosaan. Mereka dibawa kepada keselamatan. Yesus Kristus menjadi Juru Selamat juga bagi mereka yang mendahului tampil-Nya di bumi dan di dalam sejarah. Karya penyelamatan Yesus Kristus sungguh universal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, seperti juga disarankan Ibr 11:39-40.

Sama seperti Yesus Kristus "turun" demikian pun Ia "naik" dengan melintasi segala tingkat jagat raja. Pikiran itu juga tercantum dalam Perjanjian Baru (Kis 1:9-10; Mrk 16:19; Ef 4:9; Flp 2:5-10; Yoh 16:28). Tetapi benih itu sangat diperkembangkan dalam pemikiran jemaah-jemaah keturunan Yahudi. Tadi ditemukan pikiran bahwa waktu Yesus Kristus, Anak Allah, turun tidak dikenal oleh malaikat dan manusia. Sebaliknya waktu Ia naik ke atas lagi Ia dikenal, diakui, dipuji dan dipuja segala barisan malaikat. Dengan padat tapi lengkap gagasan itu disajikan karya "Kenaikan Yesaya" (XI:21-32). Terbaca: Aku (Yesaya) melihat juga bahwa sesudah tiga hari Ia bangkit dan masih tinggal beberapa hari. Maka malaikat yang mengantar aku berkata "Camkanlah, hai Yesaya,... Aku melihat bagaimana Ia naik sampai ke langit ketujuh dan semua orang benar dan segala malaikat memuji Dia. Maka aku melihat Dia duduk di sebelah kanan Kemuliaan Besar ... ." Duduknya Yesus Kristus di sebelah kanan Allah (lambang kuasa-Nya sebagai penyertaan dalam kekuasaan Allah) dalam Perjanjian Baru juga berulang kali diungkapkan (Ibr 1:3; Kis 7:55; Rm 8:34; Ef 1:20; Kol3:l; !Ptr3:22).

Pada umumnya jemaah-jemaah Kristen keturunan Yahudi tidak menyangkal bahwa Yesus benar-benar mati di salib. Hanya mereka yang amat terpengaruh oleh gnosis Yunani sampai menyangkal realitas kematian Yesus. Tetapi di lain pihak kristologi Kristen-Yahudi, yang jelas terutama "kristologi dari atas," condong menonjolkan ciri ilahi Yesus Kristus. Maka peristiwa kematian Yesus yang ngeri di salib sedikit sukar ditempatkan dalam rangka pikiran yang menekankan kemuliaan Yesus Kristus, kekuatan dan kemenangan-Nya. Kristologi itu jelas bukan "kristologi Salib" ala Paulus, melainkan kristologi kemuliaan, berdekatan dengan kristologi Injil Yohanes.

Maka segi negatif Salib Kristus sedikit banyak disembunyikan dan terlupa. Salib Yesus menjadi tanda dan lambang kekuatan dan kemenangan-Nya. Salib itu menyertai Yesus waktu bangkit dan naik ke surga. Nanti pada parousia Salib itu juga menyertai Tuhan yang jaya. Salib dengan palang-palang bersilang menjadi lambang Kristus yang merangkul seluruh jagat raya. Bumi dan surga, timur, barat, utara, dan selatan dipersatukan oleh Salib Kristus. Salib menjadi simbol penyelamatan universal dan kosmis yang dikerjakan Yesus Kristus.

Memanglah kematian Yesus dan kebangkitan Kristus yang menang tidak pernah dapat dipisahkan dalam kristologi mana pun. Tetapi dalam kristologi Kristen-Yahudi dipersatukan begitu rupa sehingga penderitaan dan kematian diserap oleh kebangkitan dan kemuliaan Yesus Kristus. Realitas historis peristiwa itu sangat dikurangi. Salib - penderitaan dan kematian Yesus - tidak dipahami terutama sebagai penyilih dosa manusia, melainkan sebagai pemulihan kosmis, pemulihan jagat raya yang dibebaskan dari kuasa-kuasa jahat yang menguasai dan mengacaukan jagat raya. Tentu saja benih pikiran itu ditemukan dalam Perjanjian Baru juga (Kol 1:16, 20; 2:15; Ef 2:15-16; 1:10, 21-22). Tetapi segi itu hampir saja secara eksklusif diperkembangkan dalam kristologi Kristen-Yahudi. Dalam pendekatan itu Salib bukan suatu batu sandungan lagi. Untuk memahami penderitaan dan kematian Yesus di salib jemaah Kristen-Yahudi meminjam suatu simbolik yang sebenarnya tidak Kristen. Sebelum kekristenan tampil dan di luar lingkup kekristenan Salib sudah dipakai sebagai lambang jagat raya berupa pohon kosmis yang tertanam di tengah dan merangkul segala sesuatu. Terlalu mudah salib Kristus, suatu kenyataan historis, disamakan saja dengan pohon kosmis dan metologis itu. Mudah kejadian historis menjadi peristiwa mitologis.

Kristologi sebagaimana berkembang pada jemaah-jemaah keturunan Yahudi boleh dikatakan kristologi kerakyatan. Pemikiran kurang sistematis, kurang teologis dan agak simpang siur. Dan pemikiran itu tidak memakai atau mengungkapkan diri dalam konsep dan gagasan rasional dan abstrak, melainkan dalam lambang-lambang dan gambar-gambar (apokaliptis) yang konkret dan bahasa figuratif, bahkan mitologis. Tetapi jelas pula bahwa jemaah-jemaah itu rajin memikirkan, tegasnya merenungkan fenomena Yesus, memperdalam dan menyelaminya guna mengungkapkan relevansi dan maknanya. Dalam renungan itu daya khayal berperan besar.

Pada umumnya - sudah ditunjuk kekecualian - pendekatan jemaah-jemaah Kristen-Yahudi itu pendekatan dari atas, bertitik tolak pada Allah yang peranan dan kedudukan-Nya tidak terganggu gugat. Pendekatan itu mengakibatkan bahwa segi transenden, segi ilahi Yesus Kristus ditonjolkan. Segi historis dan segi manusiawi Yesus kurang mendapat perhatian. Tendensi itu malah terlalu meresap ke dalam "Injil-injil" yang disusun jemaah-jemaah Kristen Yahudi, yang suka menggarisbawahi segi ajaib Yesus yang ditampilkan sebagai Guru ilahi. Ditinjau dari zaman kemudian pemikiran Kristen Yahudi mesti dinilai sebagai condong untuk bersesat, tidak mempertahankan kesinambungan dalam identitas iman kepercayaan Kristen, menjurus ke bidaah. Tetapi baiklah diingat bahwa pada abad II-III belum ada "ajaran umum dan resmi," belum ada "orthodoxia." Semuanya masih berupa usaha dan percobaan. Seperti nanti akan menjadi kentara, tidak hanya umat Kristen-Yahudi yang masih mencari jalan untuk sebaik-baiknya memahami Yesus Kristus, kedudukan dan peran-Nya. Pemikiran umat Kristen pada umumnya masih simpang siur dan berbagai pendekatan berbentrokan satu sama lain. Baru di kemudian hari dari bentrokan itu keluarlah "orthodoxia," ajaran dan refleksi resmi tentang Yesus Kristus yang cukup seimbang dan utuh.

Selama abad II-III umat Kristen keturunan Yahudi hampir saja hilang dari lingkup umat Kristen. Namun, pengaruh pemikiran mereka (yang tercantum dalam sejumlah karangan) tidaklah hilang. Sebaliknya pengaruh pendekatan dan pandangan umat kristen keturunan Yahudi yang kadang-kadang cukup fantastis itu dalam abad-abad berikutnya sampai dengan hari ini besar sekali. Para pujangga Gereja dari lingkungan Yunani tidak sedikit terpengaruh olehnya, tetapi pengaruh itu terutama disalurkan melalui agama rakyat, pada umat Kristen di luar kalangan para "ahli." Banyak dari "devosi" rakyat berpangkal pada pemikiran umat Kristen-Yahudi; ikonografi (seni rupa) Kristen menyalurkan banyak motif yang berasal dari umat Kristen-Yahudi dan tidak sedikit dari unsur Kristen-Yahudi masuk ke dalam ibadat (liturgi).

Boleh disesalkan bahwa umat Kristen keturunan Yahudi hilang dari lingkup umat Kristen. Pemikirannya, juga sekitar Yesus Kristus, tidak sempat menjadi matang, utuh dan lengkap. Khususnya boleh disesalkan bahwa pemikiran umat Kristen-Yunani tidak lagi mendapat imbangannya dalam pemikiran Kristen-Yahudi. Bila pemikiran Kristen-Yahudi berat sebelah, maka juga pemikiran Yunani berat sebelah, antara lain dalam kristologinya.

(sebelum, sesudah)


SEJARAH DOGMA KRISTOLOGI
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Kristus Pada Umat Kristen
PENERBIT KANISIUS (Anggota IKAPI)
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Telepon (0274) 588783, 565996, Fax (0274) 563349
E-Mail: office@kanisiusmedia.com
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Sumbangan Salib Bening [salib.bening@gmail.com]

Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.