SEJARAH DOGMA KRISTOLOGI
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Kristus Pada Umat Kristen

Dr. C. Groenen OFM

3. Yesus Kristus dalam tradisi Kristen-Yahudi

Sejauh masih dapat digali dari Perjanjian Baru, khususnya ketiga Injil sinoptik yang memanfaatkan tradisi lebih tua, umat Kristen Yahudi semula melihat Yesus, yang tadinya mati tersalib, sebagai Anak Manusia yang tidak lama lagi sebagai Juru Selamat dan Hakim akan tampak untuk menyelesaikan apa yang selagi hidup di dunia sudah diwartakan dan dimulai, yaitu Kerajaan Allah. Dengan hangat-hangat kedatangan Yesus itu dinantikan dan diharapkan. Gagasan "Anak Manusia" memang sudah tersedia dalam tradisi Yahudi, meskipun tidak banyak dipakai; gagasan itu sebenarnya berpangkal pada kitab Daniel (7:13-14), suatu kitab dari aliran apokaliptis. Mungkin sekali Yesus dalam pewartaan-Nya juga pernah memakai gagasan itu. Anak Manusia dipikirkan sebagai tokoh surgawi yang menjelang akhir zaman sebagai wakil dan kuasa Allah datang untuk menjalankan penghakiman Allah dan menyelamatkan orang benar. Umat Kristen Yahudi atas dasar pengalaman paska, yang membenarkan Yesus, memahami bahwa Yesus sendirilah Anak Manusia (Luk 10:21-22; Mat 28:18), yang oleh Allah dilantik sebagai Anak Manusia. Gelar "Anak Manusia" hampir saja terdapat dalam keempat Injil melulu (kecuali Kis 7:56; Why 1:13; 14:14) dan selalu Yesus sendirilah yang berbicara tentang "Anak Manusia" itu (Mat 8:20; 9:6; 10:23; 11:19; 12:8,32,40; 13:37; 16:13,27,28; 17:9, 12, 22; 19:28; 20:28; 24:27, 30, 44; 26:64; Mrk 8:31; Luk 6:22; 12:8; 17:22; 18:8; 19:10; 21:36; 22:48; Yoh 1:51; 3:13, 14; 5:27; 6:27, 53; 9:35; 12:23; 13:31). Yang paling asli mungkin ucapan Yesus dalam Mrk 8:38; Luk 12:8-9. Yesus sendiri rupanya tidak pernah menyamakan diri dengan "Anak Manusia." Umat Kristen keturunan Yahudi berbuat demikian. Yesus akan mewartakan Kerajaan Allah yang dekat, bahkan sudah menembus ke dunia ini tapi masih mesti diselesaikan nanti, Yesus oleh Allah dibangkitkan dari antara orang mati. Tetapi kebangkitan orang mati ialah awal akhir zaman dan awal penyelesaian Kerajaan Allah. Maka Yesuslah terbukti sebagai utusan Allah yang terakhir, yang sudah mulai menyelesaikan semuanya. Dan awal penyelesaian itu - seperti diberitakan Yesus - akan disusul penghakiman. Dan semuanya itu cocok, dengan apa yang dipikirkan tentang "anak Manusia" dan peranan-Nya. Maka Yesus, yang tadinya mati terbunuh, nyatanya Anak Manusia yang secara pribadi sudah mewujudkan akhir zaman yang dimulai. Dan oleh karena waktunya pendek, maka perlulah pewartaan Yesus diteruskan, sehingga sebanyak mungkin orang percaya kepada Injil-Nya itu, bertobat (Kis 3:17-19; 5:31) dan menjadi selamat di akhir melalui penghakiman yang mendekat.

Rupanya mula-mula umat Kristen Yahudi meneruskan saja pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah (Luk 10:3-11). Kebangkitan membuktikan benarnya pewartaan Yesus. Maka tidak lama lagi semuanya akan selesai dan berakhir (Luk 10: 2, 9; 11:49-52). Dan Yesus yang dibangkitkan akan menyelesaikan semua, selaku wakil dan kuasa Allah, sebagai Anak Manusia. Tetapi agak segera disadari bahwa dengan diri Yesus penyelesaian sudah terwujud dan akhir zaman sudah dimulai; kebangkitan Yesus menjadi awal kebangkitan umum (Mat 27:51-53; Kis 4:2; 26:23).

Dalam rangka ini nasib malang Yesus di salib dapat dipahami juga. Dengan membangkitkan Yesus Allah membenarkan Yesus sendiri serta pewartaan-Nya. Maka nyatalah Yesus seorang "benar" (Luk 23:47; Kis 3:14; 22:14; IPtr 3:18) dan malah utusan Allah, bahkan utusan Allah yang terakhir (Luk 13:34; 11:49-52). Dalam tradisi Yahudi ditemukan pikiran bahwa orang benar, khususnya menjelang akhir zaman akan menderita banyak kesusahan (Dan 11:33-35; 12:1) dan seorang nabi mesti mengalami nasib malang (Neh 9:26) dengan dibunuh oleh bangsa-Nya sendiri (Luk 13:33-34). Yesus memang seorang "benar" dan mirip seorang nabi. Maka kematian-Nya di salib tidak berlawanan dengan kedudukan dan peranan-Nya dalam rencana penyelamatan Allah (Kis 2:23; 3:18). Ia mengalami nasib orang benar menjelang akhir zaman dan sebagai seorang nabi Ia dibunuh oleh bangsa-Nya sendiri (1Tes2:15). Dalam tradisi Yahudi di luar Palestina juga tersedia gagasan bahwa kematian orang benar berguna untuk orang lain, orang benar mengganti umat yang berdosa (4Mak 6:28-29; 17:22). Maka orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani di Palestina dapat memahami kematian Yesus sebagai sesuatu yang berguna untuk mereka yang berdosa (Mrk 10:45). Dan karena itu malah bangsa Yahudi yang menolak Yesus masih juga dapat bertobat dan ikut diselamatkan pada waktu Yesus sebagai Anak Manusia datang (Luk 21:27-28).

Yesus yang melalui kebangkitan-Nya dinyatakan sebagai utusan Allah dan Anak Manusia nanti, menjadi pelaksana rencana penyelamatan Allah. Dalam tradisi Yahudi Peranjian Lama penciptaan dan penyelamatan Allah dikaitkan dengan hikmat kebijaksanaan Allah. Hikmat kebijaksanaan itu tidak lain kecuali "rencana" penciptaan dan penyelamatan Allah. Kalau boleh dilihat sebagai pelaksana penyelamatan Allah, maka Yesus sebenarnya pelaksana hikmat kebijaksanaan Allah. Hikmat kebijaksanaan itu dalam tradisi Yahudi (Ams 8; Sir 24; Bar 3) sudah diperorangkan, dipikirkan sebagai semacam "tokoh" ilahi. Sebagai pelaksana rencana penyelamatan Allah Yesus dapat dipahami sebagai utusan hikmat kebijaksanaan-Nya (Luk 11:49; Mat 11:28-30). Bahkan dalam Yesus hikmat kebijaksanaan itu sendiri "tampil" di muka bumi itu. Secara dinamis Yesus boleh disamakan dengan hikmat kebijaksanaan Allah itu. Dengan Yesus hikmat kebijaksanaan Allah tampil dalam sejarah dan Dia itu sebagai Anak Manusia nanti menyelesaikan apa yang sudah dimulai sesuai dengan rencana penyelamatan Allah (Mat 28:20).

Dalam tradisi Yahudi di zaman Perjanjian Baru terdapat suatu gagasan lain yang tersebar luas dan jauh lebih penting daripada gagasan Anak Manusia. Gagasan itu ialah "Mesias." "Orang Yang (sebagai raja ataupun imam) Diurapi" oleh Allah sebagai wakil dan kuasa-Nya. Mesias yang juga diberi gelar "Anak Daud," keturunan Daud (Mat 12:23; 12:30; Mrk 12:35), biasanya dipikirkan sebagai "Raja" dengan ciri politik-nasional yang cukup menyolok. Tentu saja dalam tradisi Yahudi gagasan "Mesias" itu agak kabur juga dan Mesias tidak selalu dipikirkan secara sama. Tetapi gagasan itu cukup populer. Pada awal tarikh Masehi pada bangsa Yahudi lebih kurang secara teratur tampil tokoh-tokoh yang menyatakan diri sebagai "Mesias" atau pun dinilai demikian oleh orang. Yesus dieksekusi sebagai "Raja" orang Yahudi (Mrk 15:26), berarti: Mesias gadungan (Mrk 15:32). Boleh jadi oleh sementara orang Yesus benar-benar dinilai sebagai "Mesias" (politik-nasional) (Mrk 11:9-10). Bila Yesus oleh Allah dibenarkan melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati, maka terbukti pula bahwa Yesus bukan Mesias gadungan, melainkan Mesias sejati. Begitu Ia dinyatakan dan serentak "dilantik" oleh Allah sebagai Mesias atau - Yunaninya - Kristus dalam kebangkitan-Nya (Kis 2:36; 4:26). Maka mereka yang percaya kepada Yesus dan kebangkitan-Nya boleh mengakui Yesus sebagai Mesias dari Allah, kuasa dan wakil-Nya (Mrk 8:29; Luk 9:20; Kis 5:42; 8:5; 9:22).

Hanya nasib malang Yesus disalib, khususnya bahwa ditolak oleh bangsa-Nya sendiri, oleh umat Allah, menjadi soal besar. Bagaimana kematian itu dapat digabungkan dengan Yesus yang diakui sebagai "Mesias"? Dalam tradisi Yahudi memang tidak ada pikiran bahwa Mesias akan menderita dan ditolak oleh bangsa-Nya sendiri. Kalau dibunuh oleh musuh, tewas dalam pertempuran, masih dapat dihormati sebagai pahlawan nasional dan toh diakui sebagai orang "Yang Diurapi" oleh Allah. Yesus tidak dibunuh oleh musuh (orang Roma), tetapi ditolak oleh para pemimpin bangsa Yahudi sendiri. Bagaimana Yesus itu masih bisa diakui dan dipuja sebagai Mesias? Kematian Yesus jelas bagi umat Kristen keturunan Yahudi menjadi suatu problem besar yang mereka gumuli (Mat 16:22; Mrk 9:32). Toh mereka berusaha dan sedikit banyak berhasil memecahkan masalah itu dan memahami kematian Yesus di salib. Allah kini jelas menyatakan Yesus sebagai Mesias. Maka penderitaan dan kematian Yesus tidak dapat tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Allah (Kis 4:28; 3:18; 17:3; 26:23). Justru penderitaan dan kematian itulah yang bagi Yesus menjadi jalan menuju kemuliaan-Nya sekarang sebagai Mesias (Luk 24:26). Maka Yesus kini menjadi Mesias bukanlah kendati penderitaan dan kematian-Nya, melainkan justru berkat nasib malang-Nya di dunia. Maka kematian Yesus tidak hanya mempunyai arti negatif (pembunuhan atas orang benar, nabi dan bakal Mesias), tetapi makna positif kristologis.

Tradisi Yahudi masih menyediakan gagasan lain yang dapat menjelaskan fenomena Yesus. Seorang raja dan juga seorang nabi dilengkapi dengan daya kekuatan Allah sendiri, ialah Roh Kudus, untuk menunaikan tugas-Nya (Yes 11:2; 61:7). Dan baik seorang raja (Kis 4:25) maupun seorang nabi (Yer 7:25) diberi gelar Hamba Allah. Tentu saja baru melalui kebangkitan Yesus dilantik sebagai Mesias. Tapi untuk itu sejak awal Ia ditentukan oleh Allah (Kis 3:20). Mengingat kehidupan Yesus, pewartaan dan tindakan-Nya, khususnya kesetiaan-Nya sampai akhir, maka Yesus dahulu sekarang dapat dipahami. Sejak awal penampilan-Nya Yesus dilengkapi dengan Roh ilahi (Mrk 1:10) dan berkat Roh itulah Ia menunaikan tugas-Nya (Luk 4:18; Kis 10:38). Meskipun bakal Mesias, selagi hidup-Nya Yesus menunaikan tugas seorang nabi, didorong dan dibimbing oleh Roh ilahi (Mat 12:18). Maka Yesus bakal raja Mesias dahulu menunaikan tugas sebagai Hamba Allah, nabi yang setia hingga akhir.

Mudah saja dalam tradisi Yahudi Yesus diberi gelar "Anak" atau "Anak Allah." Tradisi itu sudah biasa menggunakan gelar itu untuk menyebut orang istimewa yang mempunyai hubungan khusus dengan Allah. Seluruh umat pilihan Allah boleh disebut Anak-Nya atau pun anak sulung-Nya (Kel 4:22; Yer 31:9), berarti: Anak yang terkasih, Anak dengan segala hak istimewa seorang anak sulung, entahlah masih ada anak lain atau tidak. Seorang raja yang dianggap wakil dan kuasa Allah boleh diberi gelar "Anak Allah" (Mzm 89:28), yang pada hari penobatannya "diperanakkan" oleh Allah (Mzm 2:7). Dan malah semua orang benar boleh digelari "anak Allah" (Keb 2:13,18). Di mana ada "anak" di situ pun ada "ayah." Maka wajar sekali Allah disebut Bapa umat Israel (Ul 32:6), Bapa seorang raja (2Sam 7:14), Bapa orang benar (Sir 23:1). Meskipun belum terbukti bahwa tradisi Yahudi pernah menyebut Mesias sebagai "Anak Allah," pasti tidak ada seorang pun Yahudi yang mempunyai keberatan fundamental terhadap penggelaran semacam itu. Gelar "Anak" bagi Mesias sesuai sama sekali dengan tradisi Yahudi.

Jemaah Kristen keturunan Yahudi yang menghormati dan mengakui Yesus yang dibangkitkan sebagai Mesias dan karena itu pun sebagai anak (keturunan) Daud hampir saja terpaksa menyebut-Nya juga sebagai Anak Allah. Apalagi jika Yesus juga dipahami sebagai orang benar dan mirip seorang nabi, bahkan mirip nabi yang unggul. Dan tentu saja Yesus dapat dipahami sebagai Anak Allah tidak hanya kini, setelah dilantik sebagai Mesias (Kis 13:33; Rm 1:3), tetapi juga dahulu waktu sebagai orang benar dan utusan Allah menunaikan tugas-Nya. Cocok sekali dengan diri-Nya sebagai Anak Allah bahwa Yesus taat kepada Bapa-Nya sampai akhir. Dan Yesus bukan Anak Allah seperti lain-lain orang yang sudah lazim. Bekas pengikut-pengikut Yesus masih ingat bahwa Yesus selagi hidup selalu tampak sebagai seseorang yang mempunyai dan menghayati relasi khusus dengan Allah. Bukankah Yesus biasa menyapa Allah sebagai "abba" (Mrk 14:36)? Sapaan "abba" itu dipakai anak yang secara mesra dan akrab menyapa ayahnya. Sejauh diketahui hanya Yesus sajalah yang berani memakai sapaan takzim itu. Dan itulah sebabnya mengapa sapaan dalam bahasa Aram itu terpelihara dalam tradisi Kristen sampai tercantum dalam Perjanjian Baru (Rm 8:15; Gal 4:6). Kecuali itu Yesus dahulu selalu berbicara dengan wewenang yang melebihi wewenang siapa pun, bertindak seolah-olah memperagakan Allah sendiri. Dan seolah-olah dengan kekuasaan-Nya sendiri Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh jahat. Kini disadari bahwa dahulu sungguh-sungguh kuasa penyelamatan Allah sendiri, Kerajaan-Nya, menjadi nyata dalam diri Yesus dan tindakan-Nya. Maka kalau Yesus diberi gelar Anak Allah, maka gelar tradisional itu oleh jemaah Kristen diberi isi baru, isi jauh lebih mendalam dan padat daripada yang sudah menjadi biasa. Secara khusus dan sempurna Yesus mewujudkan gagasan Anak Allah. Dan itulah sebabnya mengapa akhirnya muncul gelar (Anak) Tunggal Allah (Yoh 1:14; 3:16) dan "Anak Sulung" (Rm 8:29; Ibr 1:6). Yesus adalah Anak Allah dengan lain cara daripada semua anak Allah yang lain. Dan Yesus Kristus yang melalui kebangkitan-Nya oleh Allah dinyatakan sebagai Mesias dan Anak Allah (Rm 1:4; Kis 13:33), sebenarnya sejak awal hidup-Nya sudah demikian. Maka jemaah-jemaah tertentu mulai berceritera tentang Kelahiran Yesus. Dengan ceritera-ceritera itu jemaah-jemaah mengungkapkan keyakinannya bahwa sejak awal hidup-Nya Yesus sudah Anak Daud, Mesias, Tuhan, Anak dari Yang Mahatinggi, Anak Allah (Luk 1:32.35; 2:11). Sejak awal Ia dilengkapi dengan Roh Kudus, bahkan oleh roh itu Ia dijadikan Anak Allah (Luk 1:35).

Tidak terlalu maju, jika jemaah Kristen yang mengakui Yesus yang dibangkitkan sebagai Mesias dan Anak Allah secara khusus, juga menyebut-Nya dan menyapa Dia "Tuhan." Agak segera setelah Yesus diakui sebagai Anak Manusia (dan Mesias), Ia pun dipanggil dengan sebutan dalam bahasa Aram, yaitu "Maran." Seruan yang agaknya berlatar belakang ibadat jemaah yang berbahasa Aram itu malah sampai tercantum dalam Perjanjian Baru yang berbahasa Yunani (1Kor 16:22). Dan sebutan itu secara wajar diterjemahkan dengan "Kyrios" (Tuhan) (Why 22:20). Umat amat tertolong oleh Mzm 110:1, di mana Tuhan (Allah) berkata kepada Tuhan (Raja). Mazmur itu oleh tradisi Yahudi dihubungkan dengan Mesias. Melalui kebangkitan-Nya Yesus menjadi Tuhan (Kis 2:36), tetapi agak segera jemaah juga menyebutnya "Tuhan" selagi hidup dahulu (Mat 17:4; Luk 7:13; 11:1; 17:5). Sebab Yesus memang tetap sama. Hanyalah Yesus yang sekarang menjadi Tuhan dahulu "bakal Tuhan".

Sama seperti gelar Anak Allah, demikian pun gelar Tuhan pada diri-Nya kabur sekali, baik dalam bahasa Ibrani (adonai), bahasa Aram (mare, maran) dan bahasa Yunani (kyrios). Terjemahan yang paling tepat ialah terjemahan ke dalam bahasa Jawa, yakni "Gusti." Sebab gelar "kyrios," sama seperti gelar gusti, dipakai untuk menyebut dan menyapa: Allah, dewa/dewi, raja, orang terkemuka dan istimewa dan akhirnya malah menjadi sapaan sopan santun (Kis 16:30) antara orang yang terdidik baik. Maka pada dirinya gelar itu hanya menyatakan bahwa orang yang disapa dan disebut demikian dianggap dan diakui sebagai "lebih" daripada yang menyebut dan menyapanya demikian. Gelar itu paling cocok dengan raja dan Allah (dewa/dewi). Sebab raja dan Allah sungguh lebih, terutama lebih berkuasa. Kuasa itu mau diakui, juga secara praktis, oleh mereka yang menyapa Allah, raja sebagai "Tuhannya".

Maka, jika Yesus dianggap dan dipuja orang Kristen sebagai Mesias ialah Raja, wakil dan kuasa Allah, kalau disebut sebagai Anak Allah secara istimewa, wajar sekali Yesus disapa dan diakui sebagai Tuhan jemaah, apalagi bila diakui bahwa dalam Yesus kuasa Allah penyelamat menjadi nyata (Luk 5:17).

Tetapi kalau yang terakhir diyakini dan diakui, maka gelar tradisional dan serba kabur itu mendapat isi yang jelas dan padat sekali. Yesus diakui dan disapa sebagai Tuhan, oleh karena pada diri-Nya dan karya-Nya dilihat suatu segi ilahi. Baiklah diingat bahwa nama diri Ayahnya Israel, yaitu Yahwe, dialihbahasakan oleh orang Yahudi yang berbahasa Yunani justru dengan gelar "Tuhan" (kyrios) itu. Adapun "Yahwe" tidak begitu saja dapat disamakan dengan Allah (Ibraninya elohim, Yunani: theos). Yahwe ialah Allah yang secara khusus menghubungi umat-Nya dan oleh umat itu secara khusus diakui dan dipuja sebagai berkuasa atas dirinya, sebagai "Raja" umat. Yahwe ialah Allah perjanjian, yang hadir, melindungi, mendukung, tetapi juga dapat menghakimi dan menghukum umat-Nya yang tidak setia. Maka dalam rangka itu, dalam tradisi Yahudi yang berbahasa Yunani, gelar "kyrios" mendapat ciri ilahi. Jika umat Kristen menjadi yakin bahwa kuasa penyelamatan (dan penghakiman) Allah menjadi nyata dan terwujud dalam Yesus, baik sekarang maupun dahulu, maka gelar Kyrios yang diberikan kepada Yesus mendapat isi yang mirip dengan isi gelar Kyrios yang diberikan kepada Allahnya Israel, Yahwe. Maka oleh jemaah Kristen keturunan Yahudi akhirnya Yesus diakui dan disapa serta dipuja sebagai Dia yang menjadi penyataan kuasa Allah penyelamat dan hakim jemaah Kristen. Malah Yesus diakui sebagai "hakim orang hidup dan mati" (Kis 10:42). Memang Allah tetap "Tuhan langit dan bumi" (Mat 11:25), tetapi kepada Yesus yang dibangkitkan juga diberikan "kuasa atas langit dan bumi" (Mat 28:18). Maka Yesus dalam hal kekuasaan amat dekat dengan Allah dan layak disapa sebagai Tuhan. Dan itulah sebabnya mengapa ayat yang dalam Perjanjian Lama mengenai Tuhan Yahwe, begitu saja dipindahkan kepada Tuhan Yesus (Kis 2:21).

Jemaah Kristen keturunan Yahudi terus bergumul dengan nasib malang yang nyatanya dialami Yesus yang kini diakui dan dipuja sebagai Anak Allah, Mesias yang jaya dan sebagai Tuhan jemaah, Kalau sudah ditemukan dan dipahami bahwa penderitaan dan kematian Yesus merupakan pembunuhan atas orang benar dan seorang nabi, bila nasib Yesus sesuai dengan rencana, maksud dan kehendak Allah dan menjadi jalan menuju kemuliaan Yesus sekarang, maka tetap tinggal masalah: mengapa harus terjadi demikian dan untuk apa terjadi demikian. Ini soal yang paling pelik dan hanya lama-kelamaan jemaah sampai memahaminya.

Dalam menggumuli masalah itu dan memahami kematian Yesus di salib, umat amat tertolong oleh sebuah nas Perjanjian Lama, yaitu Yes 52:13 - 53:12. Dalam nas itu tampil seorang tokoh yang cukup misterius. Ia diberi gelar "Hamba Tuhan" dan mirip seorang nabi. Tokoh itu sangat dihina lain orang dan akhirnya dibunuh. Namun oleh Allah toh dimuliakan dan ditinggikan. Penderitaan dan kematian Hamba Tuhan itu dihubungkan dengan dosa-dosa lain orang. Hamba itu memikul dosa orang itu dan mengalami kematian dengan rela demi dosa-dosa lain orang. Ia mati untuk orang banyak dan kematian diartikan sebagai suatu korban penebus salah. Nas Yes itu memang sukar dipahami dan tradisi Yahudi sudah lama bergumul dengan nas itu, tetapi tidak berhasil dengan tuntas mengartikannya. Jemaah Kristen keturunan Yahudi tentu saja mengenal nas itu. Dan pada latar belakang nubuat Yes itu kematian ngeri Yesus dapat dipahami. Dosa-dosa manusialah yang menyebabkan kematian itu (Rm 4:25; 2Kor 5:21; Gal 3:13). Tetapi sekaligus kematian itu berguna untuk manusia, orang banyak, justru sehubungan dengan dosa-dosa mereka (Mrk 10:45; 14:24; 1Kor 15:3; 11:24). Yesus memikul dosa-dosa orang banyak, menderita bagi mereka dan sebagai pengganti mereka dan dengan kematian-Nya justru membenarkan orang yang tidak benar. Kematian Yesus menghapus dosa orang banyak, sehingga tidak lagi menjadi halangan bagi tindakan penyelamatan Allah. Bahkan tindakan penyelamatan Allah itu justru berwujud kematian Yesus di salib. Allah sendiri menyerahkan Yesus kepada penderitaan dan kematian (Rm 4:25; 1Kor 11:23), dan sebagai Hamba dan Anak yang taat Yesus turut menyerahkan diri-Nya (Rm 8:32; Gal 2:20) demi untuk manusia (Gal 1:4; 2:20; Rm 5:6-8).

Dengan jalan demikian jemaah Kristen berhasil memahami kematian Yesus di salib sebagai suatu peristiwa penyelamatan. Dan dengan menerapkan Yes 52:13 - 53:12 pada Yesus yang mati di salib jemaah menghubungkan dua gagasan yang belum pernah digabungkan, yaitu gagasan Mesias dan gagasan penderitaan bagi dosa-dosa orang lain. Tradisi Yahudi tidak dapat menerima seorang Mesias yang direndahkan, dihina dan menderita secara ngeri seperti diketahui Yesus menderita dan mati. Baiklah diingat apa artinya dalam masyarakat di zaman itu: Mati tersalib. Mesias yang mati dengan cara demikian memang menjadi "batu sandungan" (1Kor 1:23). Jemaah Kristen mengakui Yesus yang mengalami nasib itu sebagai Mesias yang oleh Allah dimuliakan (Kis 3:13) dan ditinggikan (Kis 2:33; 5:31). Dan justru gagasan itulah yang tercantum dalam Lagu Hamba Tuhan yang mati secara terhina. Dan begitu masalah yang tidak dapat tidak menjadi tekanan batin bagi jemaah Kristen semula, dapat diatasi dan salib Yesus dipahami. Tetapi tentu tidak terlepas dari kebangkitan Yesus. Kebangkitan itulah yang akhirnya juga menerangi salib sebagai peristiwa penyelamatan.

Dan pemahaman itu malah dapat berpangkal sedikit pada pemahaman Yesus sendiri tentang kematian-Nya. Memang tidak dapat dibuktikan dengan tuntas bahwa Yesus sudah menghubungkan nasib malang-Nya dengan Hamba Tuhan yang digambarkan Yes 52:13 - 53:12. Tetapi, seperti sudah dijelaskan di muka, Yesus menjelang akhir hidup-Nya melihat kematian yang mungkin mesti dialami-Nya sebagai akibat dan konsekuensi dari kesetiaan-Nya kepada Allah dan tugas panggilan-Nya sebagai pewarta Kerajaan Allah. Maka kematian tidak berlawanan dengan kehendak Allah. Dan justru itulah yang dijelaskan nubuat Yes tersebut. Hamba yang setia mengalami nasib malang sesuai dengan kehendak Allah yang menyelamatkan. Dan kesetiaan Hamba itulah sebabnya mengapa Ia oleh Allah dimuliakan, seperti Yesus dimuliakan dalam kebangkitan. Maka pengartian jemaah Kristen atas kematian Yesus tidak berlawanan dengan pemahaman Yesus sendiri, tetapi melanjutkan dan menjernihkan pemahaman itu lebih jauh.

Apakah Yesus (dan Hamba Tuhan) yang mati untuk dosa-dosa orang lain semacam "kambing hitam" yang dibebani dengan dosa orang, supaya mereka sendiri dapat menganggap dirinya tidak bersalah? Dalam masyarakat memang ada suatu gejala yang tersebar luas. Gejala itu ialah sebagai berikut: Kalau ada suatu bencana atau malapetaka yang menimpa masyarakat, maka orang condong mencari sebabnya. Dan mereka mempersalahkan orang atau golongan tertentu sebagai biang keladi. Orang atau golongan itu menjadi sasaran kebencian dan kemarahan. Boleh jadi mereka, yang dengan cara demikian dipersalahkan, dianiaya dan dibunuh. Itulah "kambing hitam." Boleh jadi sebagai pengganti "kambing hitam real," dicari pengganti, yang secara ritual dikorbankan sebagai "kambing hitam." "Kambing hitam" sebenarnya tidak bersalah sama sekali, tetapi oleh mereka yang salah dijadikan korban, dianggap bersalah. Kesalahan mereka sendiri dipindahkan kepada yang tidak bersalah, yang dikorbankan saja untuk mencuci tangan. Sudah barang tentu dalam tradisi Yahudi ada seekor kambing yang tampaknya sebagai "kambing hitam" macam itu. Dalam kitab Im 16 disajikan sebuah upacara "pendamaian" atau pentahiran, yang setahun sekali dirayakan untuk memulihkan dosa umat Israel. Dalam upacara itu ada seekor kambing yang secara ritual dibebani dengan dosa-dosa umat, lalu diusir ke gurun (Im 16:10.21-22). Tetapi "kambing hitam itu" tidaklah sama dengan apa yang dalam sosiologi dikatakan "kambing hitam." Sekali-sekali tidak dikatakan bahwa kambing itulah yang menyebabkan "kemurkaan Allah." Israel tidak menganggap diri tidak bersalah. Sebaliknya mereka justru mengakui kesalahannya dan mengharapkan pengampunan dari Allah dan pendamaian dari Tuhan. Kambing hitam itu tidak dianggap sebuah "korban penghapus dosa." Sebaliknya. Dalam upacara itu masih ada kambing lain (Im 16:9.15). Dan justru kambing lain itulah yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai korban penghapus dosa.

Bagaimana kematian Hamba Tuhan dan Yesus dilihat? Kematian ngeri Hamba Tuhan dianggap "korban penebus salah" lain orang dan Hamba itu menjadi pengganti orang-orang durhaka. Demikian pun Yesus dianggap pengganti orang berdosa dari kematian-Nya di salib dinilai sebagai korban penghapus dosa (Rm 3:25-26) yang" disediakan Allah. Surat kepada orang-orang. Ibr - sebuah karangan Yahudi-Yunani - menjajarkan kematian Yesus dengan upacara pendamaian yang tercantum dalam Im 16. Hamba Tuhan dan Yesus memang disingkirkan masyarakat, oleh karena dianggap pengacau masyarakat dan suatu ancaman. Jadi, Hamba Tuhan dan Yesus benar-benar "kambing hitam"? Bila duduk perkaranya dalam Kitab Suci dilihat dengan saksama, maka jelaslah Hamba Tuhan dan Yesus bukan "kambing hitam." Mereka yang menciptakan Yes 52:13 - 53:12 dan umat Kristen yang dengan pertolongan nas itu mengartikan kematian Yesus sebagai "korban," justru menyatakan lain-lain orang berdosa. Hamba Tuhan dan Yesus dengan rela menempuh nasib malangnya sebagai pengganti orang berdosa. Begitulah menurut mereka yang menilai kematian Hamba dan Yesus sebagai korban (lYoh 2:2; 4:10; Ef 5:2). Mereka yang melakukan pembunuhan itu sekali-sekali tidak dilihat sebagai "tak bersalah." Sebaliknya. Jadi, jika mereka yang nyatanya membunuh Hamba Tuhan dan Yesus, masih boleh dikatakan bahwa memperlakukan Hamba Tuhan dan Yesus sebagai "kambing hitam," maka umat yang percaya tidak berbuat demikian. Bagi mereka Yesus bukan "kambing hitam" yang dipakai untuk mencuci tangan. Sebaliknya: umat yang percaya mengakui dirinya sebagai berdosa dan bersalah.

Jadi, Yesus yang mati bukanlah "kambing hitam," tetapi kematian-Nya memang diartikan sebagai "korban penebus salah." Cara bicara dan pemahaman yang berdasarkan Yes 53:10 tentu saja bahasa kiasan. Kematian Yesus bukanlah "korban" berarti "upacara." Tetapi apa yang mau dicapai oleh korban penghapus dosa, yakni pendamaian orang berdosa dengan Allah, memang menurut pengartian Kristen tercapai melalui kematian sukarela Yesus di salib. Bukan demikian duduk perkaranya seolah-olah Allah yang murka diperdamaikan oleh "korban" kematian Yesus. Sebaliknya: Kuasa penyelamatan Allah yang mendapat wujud Yesus Kristus mendamaikan manusia berdosa dengan diri-Nya (2Kor 5:18-19; Rm 5:10). Dalam hal ini Yesus ada di pihak Allah. Sebagai utusan Allah, wakil dan kuasa-Nya, Yesus memang datang untuk "menyelamatkan orang berdosa," meskipun itu berarti: mati tersalib.

Dan dengan demikian, kematian Yesus pun dapat diartikan dan dipahami sebagai "korban peneguh perjanjian." Gagasan perjanjian memang sesuatu yang penting sekali dalam tradisi Yahudi. Dengan istilah sosio-politis itu mau diungkapkan bahwa antara Allah dan umat Israel terjalin hubungan luar biasa dan istimewa. Dan prakarsa datang dari Allah, yang menawarkan ikatan khusus itu yang oleh umat diterima dan diamini. Ikatan khusus dan peneguhannya diperagakan dalam sebuah korban, seperti diceritakan Kel 24:5-8. Adapun Yesus Ia setia kepada Allah dan tugas panggilan-Nya sampai mati. Yesus secara bulat menerima tawaran yang melalui dirinya disampaikan Allah penyelamat kepada umat. Kematian-Nya di salib menjadi tanda bukti kesetiaan Yesus dan pengaminan-Nya terhadap tawaran Allah. Dan dalam pemahaman jemaah Kristen Yesus menjadi wakil manusia, umat yang berdosa, seperti ditegaskan Yes 53:4,6,10,12 tentang Hamba Tuhan. Maka kematian Yesus, yang meneguhkan secara definitif ikatan Allah dengan umat, perjanjian antara Allah dan manusia, boleh dibandingkan dengan dan dilihat sebagai "korban peneguhan perjanjian," sekaligus korban penghapus dosa dan penyilih (Mrk 14:24; 1Kor 11:25; Mat 26:28). Dan tidak dapat tidak jemaah yang tahu Alkitab teringat akan Yer 31:31-33 yang berkata tentang "Perjanjian Baru" yang melanjutkan sekaligus melampaui dan mengganti perjanjian yang lama, yang pelaksanaannya terhalang oleh ketidaksetiaan, dosa-dosa umat. Dengan demikian kematian Yesus di salib diartikan sebagai korban, artinya: sarana peneguh Perjanjian Baru antara Allah dan umat dengan sekaligus menyilih dosa dan pelanggaran yang menjadi halangan pelaksanaan perjanjian itu.

(sebelum, sesudah)


SEJARAH DOGMA KRISTOLOGI
Perkembangan Pemikiran Tentang Yesus Kristus Pada Umat Kristen
PENERBIT KANISIUS (Anggota IKAPI)
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Telepon (0274) 588783, 565996, Fax (0274) 563349
E-Mail: office@kanisiusmedia.com
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakarta 55011
Sumbangan Salib Bening [salib.bening@gmail.com]

Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.