Dialog Sunnah-Syiah

Surat menyurat antara
A. Syarafuddin Al-Musawi dengan asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki

oleh
A. Syarafuddin Al-Musawi

PENDAHULUAN DAN PERSEMBAHAN

Halaman-halaman ini bukannya baru ditulis sekarang. Gagasan-gagasan yang dikandungnya bukan pula barang baru. Tetapi telah ada sejak lebih dari seperempat abad yang lalu. Hampir saja ia diterbitkan kala itu. Namun peristiwa-peristiwa dan musibah-musibah yang terjadi telah menghambat penerbitannya, dan memaksanya untuk tersimpan sekian lamanya. Dan akhirnya, ketika kesempatan baik tiba, ia pun menampakkan diri setelah persiapan yang lebih sempurna dan penambahan di sana-sini agar lebih menarik dan lebih memuaskan.

Memang pada kenyataannya, peristiwa-peristiwa yang tadinya merupakan penghalang itu, kini justru menjadi penyebab perbaikan dan penyempurnaannya.

Adapun ide-ide yang terkandung dalam buku ini, sebetulnya telah ada pada masa yang jauh sekali sebelum berlangsungnya dialog-dialog yang tercatat di sini. Seringkali terlintas dalam hati semenjak awal masa mudaku. Bergejolak dalam dadaku mencari-cari jalan keluar, untuk menemukan cara yang paling tepat guna menghentikan segala permusuhan dan pertikaian di antara kaum Muslimin yang selama ini telah menutup mata hati mereka. Kemudian mengajak mereka semua agar memandang hidup ini dari segi-seginya yang serius. Sambil kembali kepada pokok-pokok ajaran agama yang difardhukan atas mereka. Kemudian berjalan bersama sambil berpegang pada tali Allah seerat-eratnya. Dibawah naungan panji-panji kebenaran menuju ilmu dan ‘amal. Sebagai sesama saudara yang saling mencintai, saling mendukung dan saling bertolongan.

Tapi sungguh menyedihkan, kenyataan yang selalu tampak dari sesama saudara ini, yang dipersatukan oleh pendirian dan ‘aqidah yang sama; namun selalu terlibat dalam pertikaian yang sengit dan perdebatan yang berlarut-larut yang melampaui batas, dengan cara yang hanya patut dilakukan oleh orang orang jahil! Sedemikian rupa sehingga timbul anggapan bahwa berkelahi dan bercakaran adalah perilaku yang wajar dalam bertukar-fikiran membahas soal-soal yang ilmiah sifatnya! Bahkan hal-hal seperti itu termasuk cara berargumentasi untuk dapat mematikan lawan!

Itulah yang menimbulkan rasa sedih yang mendalam. Rasa kesal, sumpek dan kecewa. Kemudian mengundang diriku untuk berfikir dan bertanya. Bagaimana jalan keluarnya? Apa yang harus dikerjakan?

Keadaan seperti ini telah berjalan terus, beratus-ratus tahun lamanya! Inilah malapetaka yang mengurung kita, dari depan, belakang, kiri, dan dari kanan! Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pena para penulis yang telah mandul, yang hanya menulis dengan dorongan ambisi pribadi, fanatisme kepartaian ataupun emosi yang tak terkendalikan lagi! Di antara itu semua, kita menjadi bingung dan bimbang. Apa dan bagaimana kita harus bertindak …?!?

Dunia ini menjadi sempit dalam pandanganku. Dadaku serasa terhimpit oleh rasa sedih dan kesal. Maka kuputuskan segera mengunjungi Mesir (di akhir tahun 1329H). Dengan harapan semoga di sana aku akan berhasil memperoleh apa yang kucita-citakan.

Sejak semula memang aku mendapat firasat bahwa di sanalah apa yang kuinginkan selama ini mungkin akan kucapai. Dengan menghubungi kawan yang dapat kuajak berbincang-bincang, juga bertukar fikiran dengan tulus ikhlas. Yang mudah-mudahan akan menghasilkan kesimpulan yang berguna, sebagai obat mujarab penyembuh penyakit yang amat parah yang telah memecah-belah bahkan memporakporandakan persatuan dan kesatuan kaum Muslimin selama ini!

Alhamdulillah! Akhirnya aku merasa puas dengan perjumpaan itu. Dan ini tidak sangat mengherankan, sebab Mesir adalah tanah yang subur bagi pertumbuhan ilmu, yang membuahkan keikhlasan dan kepatuhan pada, kebenaran yang bertumpu atas dalil-dalil yang kuat. Dan itu pula salah satu sifat Mesir yang istimewa di antara keistimewaan-keistimewaan lain yang hanya khusus dimilikinya!

Dan di sanalah, dalam suasana yang penuh kebahagiaan dan ketenangan, kedamaian dan kesegaran jiwa, nasib mujur telah mempertemukan aku dengan seorang tokoh ulama besar di antara tokoh-tokoh yang terkenal di Mesir. Seorang yang jauh pandangannya. Lemah lembut perangainya. Terbuka jiwanya. Luas pengetahuannya. Tinggi kedudukannya.

Dan memang dialah orangnya yang pantas menduduki jabatan keagamaan yang tertinggi di negeri itu, dengan segala keahlian dan kemampuan yang dimilikinya!

Dan itulah sifat-sifat mulia yang patut menghiasi diri para ulama. Jiwa yang suci bersih. Ucapan-ucapan yang mendatangkan kepuasan para pendengarnya. Serta tingkah laku yang sesuai sebagaimana yang diajarkan para Nabi! Sekiranya setiap Ulama menyandang sifat-sifat seperti itu, niscaya ia benar-benar dalam keadaan yang penuh kebaikan dan kenikmatan. Orang-orang sekitarnya pun akan hidup penuh kedamaian dan kasih sayang. Kepadanya mereka tidak akan segan mengungkapkan rahasia hidup serta keluhan hati mereka masing-masing!

Demikian itulah tokoh pemuka Mesir dan Imam-nya!* Demikian pula telah berlangsung antara kita berdua pertemuan-pertemuan yang telah memberikan kepuasan kepada kami sepuas-puasnya dan untuk selama-lamanya …!

Aku berkeluh kesah padanya. Ia pun mengungkapkan kesedihan dan kekesalan hatinya!. Dan ternyata itu adalah saat-saat yang penuh berkah dan taufiq, yang mengilharni kami agar berbuat. sesuatu demi persatuan dan kesatuan ummat ini.

Di antara kesimpulan-kesimpulan yang kami capai bersama. ialah bahwa kedua kelompok --Syi’ah dan Sunnah--, adalah sama-sama Muslim yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam, yang lurus. Sama-sama mempercayai apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. Tiada perbedaan antara mereka dalam suatu dasar agama yang prinsipil dan berakibat merusak kepercayaan mereka pada dasar-dasar agama Islam yang mulia. Tiada pula perbedaan faham di antara mereka kecuali apa yang biasa terjadi di antara para mujtahidin dalam beberapa hukum agama, sebagai akibat dari perbedaan istimbath (penyimpulan hukum) yang berasal dari (pemahaman) al-Qur’an, atau sunnah Nabi, atau ijma’ para ulama, ataupun dari sumber dalil yang keempat. Hal seperti itu tidak selayaknya menyebabkan timbulnya jurang pemisah yang demikian curamnya, apalagi menimbulkan pertikaian-pertikaian yang sengit di antara mereka!

Jadi, sebab apakah yang telah mengobarkan api permusuhan yang menyala-nyala tiada hentinya; dan membakar kedua kelompok ini --Sunnah dan Syi’ah-- sepanjang masa?

Bila kita meneliti sejarah Islam dan menelusuri kepercayaan, faham-faham serta aliran-aliran yang berkembang di dalamnya, kita akin mengetahui bahwa sebab utama dari adanya perpecahan dan pertikaian ini, tidak lain adalah sebagai akibat timbulnya pergolakan demi suatu keyakinan, pembelaan terhadap suatu pendirian, ataupun pengelompokan sekitar suatu pendapat.

Dan tiada suatu penyebab perpecahan di antara ummat ini yang lebih hebat daripada perbedaan pendapat yang berhubungan dengan soal kepemimpman umum atau imamah. Tiada bentrokan dalam Islam demi suatu prinsip agama, yang lebih parah daripada yang telah terjadi sekitar persoalan ini. Dengan lain perkataan, soal imamah ini adalah penyebab utama yang secara langsung telah menimbulkan perpecahan selama ini. Generasi demi generasi yang mempertengkarkan soal imamah ini telah menjadi demikian gandrung dan terbiasa dengan sikap fanatik dalam kelompoknya masing-masing, tanpa mau mengkaji dengan kepala yang dingin.

Dan sekiranya masing-masing anggota kedua kelompok ini mau meneliti dan mempelajari dalil-dalil kelompok lainnya dengan cara yang dilakukan orang yang benar-benar ingin tahu, --dan bukan dengan cara seorang pembenci yang hanya ingin bertengkar-- niscaya fajar kebenaran akan segera menyingsing dan menyinari jiwa mereka semuanya!

Dalam hal ini, kami telah mewajibkan atas kedua diri kami, agar dengan sungguh-sungguh berdaya upaya mempelajari dalil, masing-masing kelompok, dan mendalaminya dengan cara yang tulus, dengan melepaskan perasaan kami dari segala ikatan lingkungan, adat dan kebiasaan, dan menjauhkannya dari segala sentimen dan ‘ashabiyyah yang melekat pada diri kami. Kami akan langsung menuju kebenaran yang hakiki melalui jalan dan cara yang telah disepakati bersama oleh kedua kelompok, kemudian membahasnya dengan seksama, sehingga mudah-mudahan akan berhasil mengundang perhatian kaum Muslimin pada umumnya, dan menimbulkan rasa tenteram dan damai dalam hati mereka, dengan adanya kepastian akan kebenaran yang kami capai dan kami sampaikan, insya Allah!.

Untuk itu, kami putuskan agar beliau mengajukan --secara tertulis-- soal-soal yang ingin ditanyakannya; kemudian aku akan menjawabnya secara tertulis pula; sesuai dengan persyaratan yang berlaku yang dikuatkan oleh pandangan secara akal maupun dengan menukilkan dalil-dalil agama yang diakui kebenarannya oleh kedua kelompok.

Demikianlah, dengan petunjuk dan taufiq Allah SWT, surat-menyurat yang berisi dialog-dialog antara kami telah berlangsung dengan lancar sekali. Tadinya kami bermaksud segera mencetaknya sebagai buku, agar kami bisa menikmatinya sebagai hasil karya yang didasari keikhlasan demi Allah SWT semata-mata. Tapi hari-hari yang kejam, dan taqdir yang memaksa, telah menghalau niat kami itu meskipun penundaan penerbitannya waktu itu, pada akhirnya justru telah membawa kebaikan yang lebih besar!

Harus diakui bahwa apa yang tercantum dalam keseluruhan buku ini bukanlah semata-mata apa yang telah tersusun secara lengkap di antara kami berdua pada waktu itu. Namun dengan tegas harus kunyatakan pula bahwa semua dialog-dialog ini telah kucatat dengan penaku. Pokok-pokok persoalan yang telah dibicarakan antara kami berdua, secara lengkap tercantum dalam halaman-halaman buku ini, dengan beberapa tambahan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan, dan didorong oleh rasa keikhlasan dan tanggung jawab. Semuanya itu tanpa melanggar apa-apa yang telah kami sepakati bersama.

Dan kini aku berharap, seperti apa yang kuharapkan di masa lampau; yaitu agar buku ini mampu mencetuskan perbaikan dan kebaikan di kalangan ummat. Jika ia berhasil merangsang perhatian mereka, dan mendorong mereka untuk menerima isinya, maka itu adalah karunia Allah SWT semata-mata. Dan hanya itu pula yang kuinginkan dari karyaku ini.

Sesungguhnya tiada aku menginginkan sesuatu kecuali perbaikan, sepanjang apa yang aku mampu mengerjakannya. Dan, tiada petunjuk ke arah itu kecuali yang datang dari Allah; kepada-Nya jua aku bertawakal, dan kepada-Nya pula aku kembali (dalam segala urusanku)**

Kupersembahkan buku ini kepada mereka yang mau menggunakan akal sehatnya; baik ia seorang sarjana yang ahli di bidang penelitian, dan berkecimpung dalam kehidupan ilmiah, serta gemar menguji kebenaran di dalamnya. Ataukah ia seorang ulama yang ahli dan dipercaya di bidang ilmu-ilmu agama. Ataukah ia seorang pemikir yang mahir dan menguasai ilmu kalam. Ataukah ia seorang di antara kaum muda kita, harapan masa depan nan cerah, yang dinamis jiwanya, luas pengetahuannya, bebas pikirannya dari berbagai macam ikatan dan belenggu.

Bila mereka semua itu bisa menerimanya dan bisa merasakan kegunaannya dalam diri mereka sendiri, maka itulah kebaikan dan kebahagiaan yang tiada taranya bagiku!

Sungguh aku telah bersusah-payah dalam menyusun buku ini. Dengan mengusahakan jawaban-jawaban dengan cara yang sesempurna mungkin dalam segala-galanya. Dengan itu aku bertujuan menyampaikan pikiran dan cita-rasa yang dikandungnya, kepada mereka yang mau berpikir secara jujur dan sportif. Jawaban jawaban itu diperkuat pula dengan dalil-dalil yang tiada keraguan padanya. Dan bukti-bukti yang tiada kebimbangan di dalamnya Dengan bersungguh-sungguh aku kumpulkan hadits-hadits yang shahih serta nash-nash yang jelas, sehingga menjadikan buku ini menyamai sebuah perpustakaan, yang lengkap dan sarat dengan buku-buku yang amat berharga di berbagai bidang ilmu kalam, hadits, sejarah dan lain-lainnya, yang semuanya berhubungan erat dengan pokok pembahasan yang amat penting ini. Dengan pemikiran yang moderat dan tulus setulusnya, serta dengan cara yang mengajak siapa saja --di antara orang-orang yang jujur dan sportif-- yang membacanya, untuk menyetujui isinya dan mengikutinya, mulai dari bagiannya yang pertama sampai dengan yang paling akhir.

Bila buku ini berhasil mendapatkan pembaca-pembaca seperti itu, maka itulah cita-cita yang amat kudambakan; dan --tentunya-- segala puji bagi Allah selalu kuucapkan.

Alhamdulillah! aku sungguh-sungguh puas dengan bukuku ini, puas akan hidupku setelah ini. Sebab ia adalah suatu karya yang pasti berhasil membantuku melupakan rasa muakku pada beban-beban hidup yang amat meletihkan; kesedihan-kesedihan yang menyesakkan, dan juga penderitaan-penderitaan yang ditimbulkan oleh rencana-rencana jahat musuh-musuhku, yang selama ini tidak kuadukan kecuali pada Allah SWT! Dan sudah barang tentu Allah SWT telah cukup bagiku sebagai hakim yang akan mengadili mereka. Demikian pula Muhammad saw. sebagai lawan mereka dalam peradilan itu.

Belum lagi cobaan-cobaan lainnya yang kualami secara beruntun, bagaikan banjir besar yang mengepungku dari segala penjuru, membawa serta berbagai macam kesedihan dan kekesalan yang menghimpit, menyebabkan hidup ini terasa begitu gelap dan menyusahkan.

Tapi di atas segalanya, hidupku yang diabadikan oleh buku ini adalah hidup yang penuh rahmat di dunia maupun di akhirat. Hatiku merasa puas karenanya. Jiwaku menjadi tenang dibuatnya. Oleh karena itu, aku berharap semoga Allah SWT berkenan menerima ‘amalku ini; mengampuni segala kesalahan dan kelalaianku, dan melimpahkan ganjaranNya bagiku, dalam bentuk manfaat dan petunjuk yang lurus yang bisa dirasakan oleh segenap kaum Mu’minin.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka disebabkan keimanannya. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. Do’a mereka didalamnya ialah “Subhanakallahumma” (maha suci Engkau, wahai Tuhan kami) dan salam penghonnatan mereka ialah “Salam” (sejahtera dan damai). Dan penutup do’a mereka adalah: “alhamdulillahi rabbil alamin.” (al-Qur’an, 10:10)

(Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi)

Catatan kaki:

* Yang dimaksud dengan tokoh ini ialah: Asy-Syaikh Salim al-Bisyri, Rektor al-Azhar, Kairo, pada masa itu. (pent.)

** Al-Qur’an, 11 : 88


Dialog Sunnah Syi'ah
Surat menyurat antara asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki Rektor al-Azhar di Kairo Mesir
dan as-Sayyid Syarafuddin al Musawi al Amili seorang - ulama besar Syi'ah
Syarafuddin al-Musawi
PENERBIT MIZAN BANDUNG
Edisi berbahasa Indonesia diterjemahkan dari buku aslinya yang berbahasa Arab al-Muraja'at yang disusun oleh
A. Syarafuddin al-Musawi
Penerjemah: Muhammad al-Baqir
Cetakan I, 1403H - 1983M
Hak terjemahan dilindungi undang-undang, Ali rights reserved
Diterbitkan oleh Penerbit MIZAN
Jl. Dipati Ukur 45, telp. 83196 Bandung

Indeks artikel kelompok ini | Tanggapan thd buku ini | Disclaimer
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.