Kebebasan Wanita

oleh Abdul Halim Abu Syuqqah

Indeks Islam | Indeks Wanita | Indeks Artikel | Tentang Pengarang


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

6. Cerdas dan Penuh Tawakkal kepada Allah

Anas bin Malik berkata bahwa Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim: "Aku mendengar suara Rasulullah saw. demikian lemah. Aku tahu beliau lapar. Apakah engkau mempunyai sesuatu?" Ummu Sulaim menjawab: "Ya." Lalu Ummu Sulaim mengeluarkan beberapa potong roti dari gandum. Kemudian dia mengambil kerudungnya dan membungkus roti dengan sebagian kerudung itu, lalu dia sisipkan di bawah bajuku, sedangkan sebagian kerudung dia selendangkan ke kepalaku. Kemudian dia menyuruhku pergi ke tempat Rasulullah saw." Anas berkata: "Lalu aku pergi membawa roti tersebut. Aku temukan Rasulullah saw. sedang duduk di masjid bersama orang banyak. Aku menghampiri mereka. Rasulullah saw. bertanya kepadaku: 'Apakah Abu Thalhah menyuruhmu?'Aku jawab: 'Ya, benar.' Rasulullah saw. bertanya lagi: 'Membawa makanan?' Aku menjawab: 'Ya.' Lalu Rasulullah saw. berkata kepada orang-orang yang bersama beliau: 'Bangunlah kalian semua!' Lalu Rasulullah saw. berangkat bersama mereka, sementara aku berada di hadapan mereka untuk segera memberitahu Abu Thalhah. Maka berkatalah Abu Thalhah: 'Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah saw. telah datang bersama orang banyak, tetapi kita tidak mempunyai makanan yang cukup untuk dihidangkan kepada mereka.' Ummu Sulaim berkata: 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Lalu Abu Thalhah menyongsong Rasulullah saw. Rasulullah saw. datang dan masuk bersama Abu Thalhah. Rasulullah saw. berkata: 'Bawa ke sini apa yang ada padamu, wahai Ummu Sulaim!' Ummu Sulaim datang memberi roti tersebut. Lalu memeras minyak saminnya untuk lauk pauk roti. Kemudian Rasulullah saw. mendoakan makanan itu. Setelah itu beliau berkata: 'Persilakanlah sepuluh orang masuk!' Setelah diizinkan masuk mereka makan sampai kenyang, kemudian keluar. Setelah itu Rasulullah saw. berkata kembali: 'Persilakan masuk sepuluh orang lagi.' Setelah diizinkan, mereka pun masuk dan makan sampai kenyang, kemudian pergi. Setelah itu Rasulullah saw. kembali memerintahkan: 'Persilakan masuk sepuluh orang lagi.' Setelah diizinkan, mereka pun masuk dan makan sampai kenyang. Semua orang makan sampai kenyang hingga jumlah mereka mencapai tujuh puluh atau delapan puluh orang.' Dan menurut riwayat Muslim366: "Kemudian Rasulullah saw. makan bersama Abu Thalhah, Ummu Sulaim, dan Anas bin Malik. Ternyata masih tersisa, maka kami memberikannya kepada tetangga-tetangga kami." (HR Bukhari dan Muslim)367

7. Ikut Berbai'at dan Menepati Janji

Ummu Athiyyah r.a. berkata: "Ketika melakukan bai'at, Nabi saw. menuntut kami untuk tidak meratap. Tidak ada wanita yang menepati bai'at (janji)nya kecuali lima orang saja, yaitu: Ummu Sulaim, Ummu al-'Ala', putri Abu Sabrah, istri Mu'adz, dan dua orang wanita lagi." (HR Bukhari dan Muslim)368

8. Memiliki Sifat Malu yang Positif

Ummu Salamah berkata bahwa Ummu Sulaim datang kepada Nabi saw., lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila dia mimpi (bersetubuh)?" Nabi saw. menjawab: "Apabila wanita itu melihat air (mani)." (HR Bukhari dan Muslim)369

Benar sekali Aisyah, Ummul Mukminin, yang berkata: "Sebaik-baik kaum wanita adalah kaum wanita Anshar. Mereka tidak dihalangi oleh rasa malu dalam mendalami masalah agama." (HR Muslim)370

9. Ikut Serta dalam Berjihad

Anas r.a. berkata: "Ketika terjadi Perang Uhud, banyak pasukan Islam yang lari meninggalkan Nabi saw. Aku melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim sibuk sekali melayani pasukan. Mereka menyingsingkan pakaian sehingga kelihatan olehku gelang-gelang kaki mereka. Dengan langkah cepat mereka mengangkat girbah air di atas punggung mereka untuk memberi minum pasukan Islam. Kemudian pergi lagi mengisi girbah air tersebut, lalu datang lagi untuk memberi minum pasukan sampai isi girbah itu kosong." (HR Bukhari dan Muslim)371

Anas bin Malik berkata: "Pernah Rasulullah saw. berperang dengan mengajak Ummu Sulaim. Bahkan, beberapa wanita Anshar juga pernah ikut berperang bersama beliau. Tugas wanita-wanita Anshar itu adalah memberi minum dan mengobati pasukan yang terluka (di antara peperangan yang diikuti oleh Ummu Sulaim adalah Perang Khaibar.)372 (HR Muslim)373

Anas mengatakan bahwa pada Perang Hunain, Ummu Sulaim terlihat membawa sebilah parang. Ketika Abu Thalhah melihatnya, dia melaporkan hal itu kepada Rasulullah saw.: "Wahai Rasulullah, lihat Ummu Sulaim itu. Dia membawa sebilah parang." Rasulullah saw. lalu bertanya kepada Ummu Sulaim: "Untuk apa parang itu?" Ummu Sulaim menjawab: "Untuk aku gunakan sebagai alat berperang. Begitu ada salah seorang pasukan musyrik yang mendekatiku, akan aku tikam perutnya." Mendengar jawaban Ummu Sulaim itu Rasulullah saw. tersenyum. Ummu Sulaim lalu berkata: "Wahai Rasulullah, bunuhlah orang-orang Thulaqa' (Thulaqa' adalah penduduk Mekah yang masuk Islam setelah penaklukan kota Mekah. Dinamakan thulaqa' atau orang-orang bebas karena Nabi saw. membebaskan mereka dengan mengatakan: antumuth thulaqa'. Ketika peristiwa ini terjadi, Islam mereka masih lemah, sehingga Ummu Sulaim menduga mereka orang-orang munafik yang pantas dibunuh, karena mereka lari dari peperangan) yang setelah kamu bebaskan, kini mereka lari darimu." Rasulullah saw. berkata: "Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya Allah telah berlaku cukup dan berbuat baik." (HR Muslim)374

I. ASMA BINTI ABU BAKAR PEMlLIK DUA IKAT PINGGANG

1. Sejak Kecil Peduli terhadap Masalah Umum

Asma binti Abu Bakar r.a. berkata: "Aku melihat Zaid bin Amru bin Nufail sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke Ka'bah. Dia berkata: 'Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalian yang memeluk agama Ibrahim selain diriku. Zaid bin Amru menyelamatkan bayi-bayi perempuan yang biasanya dikubur hidup-hidup.' Dia berkata kepada orang yang hendak membunuh anak perempuannya: 'Janganlah kamu bunuh dia. Biarlah aku yang akan mengasuhnya.' Lalu dia mengambil anak perempuan itu. Setelah anak perempuan itu tumbuh remaja, Zaid bin Amru berkata kepada ayah perempuan itu: 'Kalau kamu mau, akan aku serahkan putrimu ini kepadamu, dan kalau kamu ingin aku terus mengasuhnya maka akan aku lakukan.'" (HR Bukhari)375

2. Berkembang dengan Baik

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa di dalam satu hadits Asma binti Abu Bakar menurut ath-Thabrani disebutkan: "Adalah Nabi saw. datang mengunjungi kami sewaktu berada di Mekah dua kali setiap hari, yaitu pada waktu pagi dan sore hari."376

3. Perkawinan Asma dengan Pendukung Setia Rasulullah saw.

Asma binti Abu Bakar berkata: "Az-Zubair mengawiniku ..." (HR Bukhari dan Muslim)377 Dari Jabir, dia berkata: "Nabi saw. bertanya: 'Siapakah yang akan membawa berita kaum itu kepadaku (pada hari Ahzab ini)?' Zubair menjawab: 'Saya, wahai Rasulullah.' Kemudian beliau kembali bertanya: 'Siapakah yang akan membawa berita kaum itu kepadaku?' Az-Zubair pun kembali menjawab: 'Saya.' Setelah itu Nabi saw. bersabda: 'Sesungguhnya setiap nabi itu mempunyai seorang pendukung yang setia, dan pendukung setiaku adalah az-Zubair.'" Dalam riwayat dari Abdullah ibnu Zubair,378 Zubair berkata: "Lalu aku berangkat. Ketika aku kembali Rasulullah saw. telah mengumpulkan untukku kedua orang tuanya." Lalu az-Zubair berkata: "Tebusanmu adalah ayah dan ibuku." (HR Bukhari dan Muslim)379

4. Hijrah dan Melahirkan Anak Pertama bagi Kaum Muhajirin

Asma r.a. mengatakan bahwa ketika mengandung Abdullah ibnu Zubair, dia: "Aku pergi pada saat sudah dekat waktu melahirkan. Sesampainya di Madinah, aku singgah di Quba' dan melahirkan di sana. Kemudian aku membawa bayiku itu kepada Rasulullah saw. Beliau mengambilnya dan meletakkannya di pangkuan beliau. Kemudian beliau minta kurma, lalu kurma itu beliau kunyah, kemudian beliau ludahkan ke dalam mulut bayiku, sehingga yang pertama sekali masuk ke dalam perut bayiku adalah air liur Rasulullah saw. Selanjutnya beliau menggosokkan kurma tadi ke tenggorokan bayiku. Kemudian beliau mendoakan dan memberkatinya. Itulah bayi pertama yang dilahirkan dalam Islam (di Madinah dari kaum Muhajirin)." (HR Bukhari dan Muslim)380

5. Penuh Perhatian terhadap Rumah Tangga

Asma binti Abu Bakar r.a. berkata: "Az-Zubair mengawiniku, sementara di dunia ini dia tidak memiliki harta, hamba, atau sesuatu pun selain seekor unta pengangkut air dan seekor kuda. Akulah yang memberi makan kudanya, menimba air, menjahit girbah air yang terbuat dari kulit, dan membuat adonan roti. Tetapi aku tidak bisa membuat roti dengan baik. Yang biasanya membuatkan roti untukku adalah tetangga-tetanggaku, wanita Anshar. Mereka adalah wanita-wanita yang jujur dan tulus. Aku sudah biasa mengangkut biji kurma dari lahan milik az-Zubair --pemberian Rasulullah saw.-- di atas kepalaku. Jarak tanah az-Zubair itu dari tempatku dua pertiga farsakh (1 farsakh = 3 mil atau 5 km)." (HR Bukhari dan Muslim)381

6. Bergaul Harmonis dengan Suami

Asma binti Abu Bakar r.a. berkata: "Pada suatu hari aku datang dengan biji kurma di atas kepalaku. Lalu aku bertemu dengan Rasulullah saw. yang diiringi beberapa orang sahabat beliau dari kalangan Anshar. Beliau memanggilku lalu mengucapkan: 'Ikh ... ikh ... (ucapan untuk membuat unta menderum).' Beliau bermaksud memboncengkan aku di belakang beliau. Aku merasa malu berjalan bersama kaum laki-laki, dan aku teringat az-Zubair dan sifat cemburunya. Dia adalah orang yang paling cemburu. Rupanya Rasulullah saw. tahu bahwa aku merasa malu, sehingga beliau berlalu meninggalkanku. Lalu aku datang kepada az-Zubair. Aku berkata: 'Rasulullah saw. menemuiku, sementara di atas kepalaku ada biji kurma. Dan bersama beliau ada beberapa orang sahabatnya. Beliau menderumkan untanya untuk aku tunggangi, tetapi aku merasa malu kepada beliau dan aku juga tabu sifat cemburumu.' Mendengar penuturan Asma itu az-Zubair berkata: 'Demi Allah, engkau mengangkat biji kurma di atas kepalamu itu lebih berat bagiku daripada kamu menunggang kendaraan bersama beliau.'"

Asma berkata: "Sesudah peristiwa itu Abu Bakar mengirimkan seorang pelayan untukku, sehingga aku tidak repot-repot lagi mengurusi kuda dan seakan-akan Abu Bakar telah membebaskan aku dari berbagai macam urusan." (HR Bukhari dan Muslim)382

Asma berkata: "Seorang laki-laki datang kepadaku, lalu berkata: 'Wahai Ummu Abdillah, aku adalah seorang yang miskin. Aku ingin berjualan di bawah naungan rumahmu ini.' Asma berkata: 'Kalau aku izinkan kepadamu, aku khawatir az-Zubair menolaknya. Karena itu ikutilah aku dan ajukanlah permintaanmu itu kepadaku di hadapan az-Zubair.' Orang itu mengikuti kata-kata Asma. (Di hadapan az-Zubair) orang itu berkata: 'Wahai Ummu Abdullah, aku adalah seseorang yang miskin Aku ingin berjualan di bawah naungan rumahmu ini.' Asma berkata: 'Apakah kamu tidak menemukan rumah lain di Madinah ini selain rumahku?' Mendengar pertanyaanAsma itu, az-Zubair berkata kepada Asma: 'Mengapa kamu melarang orang miskin berjualan?' Akhirnya orang itu berjualan (di tempat Asma) sehingga dia memperoleh keuntungan ..." (HR Muslim)383

7. Sifat Wara' dan Keinginannya untuk Melaksanakan Syari'at Allah

Asma r.a. berkata: "Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta selain apa yang diberikan az-Zubair kepadaku. Apakah aku boleh menyedekahkannya?'" Nabi saw. bersabda: "Bersedekahlah kamu kikir dan menyimpan harta dalam wadah sehingga Allah pun tidak mau memberikan tambahan karunia rezeki-Nya kepadamu." (HR Bukhari dan Muslim)384

Asma binti Abu Bakar r.a. berkata: "Ibuku datang kepadaku, padahal dia masih dalam keadaan musyrik pada masa Rasulullah saw. Lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah saw. mengenai masalah ini. Aku bertanya: '(Wahai Rasulullah), ibuku datang kepadaku menginginkan (aku berbuat baik kepadanya), apakah aku boleh berhubungan dengannya?' Rasulullah saw. berkata: 'Ya, jalinlah hubungan dengannya!'" (HR Bukhari dan Muslim)385

8. Pengorbanan Asma pada Jalan Allah

Asma berkata: "Seorang laki-laki datang kepadaku, lalu berkata: 'Wahai Ummu Abdillah, aku adalah seorang yang miskin. Aku ingin berjualan di bawah naungan rumahmu.' ... Akhirnya orang itu berjualan sehingga dia mendapatkan keuntungan. Lalu aku menjual seorang budak perempuan kepadanya. Ketika az-Zubair masuk menemuiku, uang penjualan budak perempuan itu ada di tanganku. Maka az-Zubair berkata kepadaku: 'Berikanlah uang itu kepadaku.' Asma berkata: 'Sesungguhnya aku telah menyedekahkan uang itu.'" (HR Muslim)386

9. Rajin Beribadah dan Menuntut Ilmu

Asma binti Abu Bakar berkata: "Aku datang menemui Aisyah dan kebetulan dia sedang shalat. Lalu aku bertanya: 'Ada apa dengan orang-orang?' Aisyah memberi isyarat ke arah langit --rupanya orang-orang sedang melakukan shalat-- lalu dia berkata; 'Subhanallah!' Aku bertanya: 'Apakah itu tanda kebesaran Allah?' Aisyah kembali memberi isyarat dengan kepalanya yang maksudnya 'Ya.' Akhirnya aku pun ikut berdiri (shalat) sampai aku hampir jatuh pingsan.' Menurut riwayat387 Muslim dari Jabir: 'Pada suatu hari yang sangat panas, Rasulullah saw. mengerjakan shalat bersama para sahabat. Beliau berdiri lama sekali, sehingga banyak yang jatuh (karena lemah) ... Lalu aku menyiramkan air ke atas kepalaku.' Menurut riwayat Muslim yang lain388 dari Asma: 'Beliau berdiri sangat lama, sampai-sampai terpikir olehku untuk duduk saja. Kemudian aku menoleh ke arah seorang perempuan yang sangat lemah. Aku berkata dalam hati: "Wanita ini lebih lemah daripadaku." Akhirnya aku memutuskan untuk terus berdiri. Kemudian Rasulullah saw. ruku dan ruku lama sekali. Setelah itu beliau mengangkat kepala dan kembali berdiri lama, sehingga jika ada orang yang datang, pasti dia menyangka bahwa Rasulullah saw. belum ruku'. Selanjutnya seusai shalat Rasulullah saw. berkotbah, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kemudian berkata: 'Tidak satu pun yang pernah aku lihat sebelumnya kecuali telah diperlihatkan kepadaku di tempat ini, sampai surga dan neraka. Telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan menerima cobaan di dalam kubur seperti -atau hampir-seperti cobaan Almasih ad-Dajjal.' Kepadanya akan dikatakan: 'Apa yang kamu ketahui mengenai laki-laki ini?' Seorang yang beriman atau yang berkeyakinan (memiliki akidah) akan menjawab: 'Dia adalah Muhammad, Rasulullah yang datang membawa keterangan-keterangan dan petunjuk, lalu kami memenuhi panggilan Muhammad dan mematuhi perintahnya.' (Jawaban ini dia ulang tiga kali). Kemudian dikatakan kepadanya: 'Tidurlah kamu dengan tenang, wahai orang saleh. Kami memang sudah tahu bahwa kamu yakin (beriman) kepadanya.' Sementara orang munafik ragu-ragu akan menjawab: 'Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku ikut pula mengatakan.'" (HR Bukhari dan Muslim)389

10. Ilmu dan Kealiman Asma

Muslim al-Qurri, dia berkata: "Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas r.a. mengenai masalah mut'ah ketika orang tengah menunaikan ibadah haji. Tenyata Ibnu Abbas r.a. memperbolehkannya, padahal Ibnu Zubair pernah melarangnya. Karena itu, Ibnu Abbas berkata: 'Ibunya Ibnu Zubair sendiri yang bercerita bahwa sesungguhnya Rasullullah saw. memperbolehkannya. Karena itu temuilah ibu Ibnu Zubair dan tanyakanlah masalah ini kepadanya!' Muslim al-Qurri berkata: 'Akhirnya kami pergi menemui ibu Ibnu Zubair. Ternyata dia adalah seorang wanita yang berbadan gemuk dan buta matanya.' Dia berkata: 'Rasulullah saw. memang memperbolehkan.'" (HR Muslim)390

Abdullah, budak Asma binti Abu Bakar dan dia adalah paman anak Atha, berkata: "Asma menyuruhku menemui Abdullah bin Umar untuk menyampaikan pesan beliau: 'Telah sampai kepadaku berita bahwa kamu mengharamkan tiga perkara: lukisan pada kain (sulaman sutera), bantal bewarna ungu, dan puasa bulan Rajab seluruhnya.' Abdullah bin Umar berkata kepadaku: 'Adapun mengenai puasa bulan Rajab, maka bagaimana dengan seorang yang puasa sepanjang masa. Adapun lukisan pada kain, aku pernah mendengar Umar ibnul Khattab berkata: "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa sesungguhnya yang memakai sutera itu hanyalah orang yang tidak akan mendapat bagian kebaikan kelak di surga." Jadi aku kawatir lukisan pada kain itu termasuk daripadanya. Sedangkan bantal bewarna merah tua, coba lihat ini bantal Abdullah.' Ternyata bantal itu bewarna merah tua. Setelah itu kembali menemuia Asma, lalu aku menceritakan jawaban Abdullah bin Umar. Setelah mendengarkan penjelasanku itu Asma berkata: 'Ini jubah Rasulullah saw.,' seraya mengeluarkan dan menunjukkan kepadaku jubah kekaisaran bewarna hijau yang berkerah (leher baju) sutera. Kedua sisi jubah itu disulami dengan benang sutera.' Asma berkata: 'Jubah ini dahulunya berada di tangan Aisyah sampai dia meninggal dunia. Setelah meninggal dunia, aku mengambilnya. Dan dulu Nabi saw. sering memakainya. Kami mencucinya untuk orang sakit dan menjadikannya sebagai alat penyembuh baginya.'" (HR Muslim)391

11. Keberanian dan Ketegasan Asma dalam Memberikan Penjelasan

Abu Naufal berkata: "Suatu hari aku melihat Abdullah bin Zubair berada di jalan masuk kota Mekah dalam keadaan disalib." Abu Naufah berkata: "Tiba-tiba beberapa orang Quraisy dan lainnya lewat di situ dan berkata: 'Keselamatan atasmu, wahai Abu Khubaib. Keselamatan atasmu, wahai Abu Khubaib. Demi Allah, aku telah melarangmu dari ini, demi Allah, aku telah melarangmu dari ini, demi Allah, aku telah melarangmu dari ini. Demi Allah, jika dugaanku ternyata benar bahwa kamu adalah orang yang sangat rajin berpuasa, sangat rajin shalat malam, dan suka melakukan silaturrahim, demi Allah sungguh suatu umat di mana engkau adalah yang terburuk dari suatu umat yang terbaik.' Setelah itu Abdullah bin Umar berlalu. Sikap dan ucapan Abdullah bin Umar itu terdengar oleh Hajjaj. Lantas Hajjaj mengirim seseorang kepada Abdullah bin Zubair untuk menurunkannya dari tiang gantungan dan melemparkannya ke tempat pemakaman orang-orang Yahudi. Setelah itu Hajjaj mengutus seseorang untuk menjemput ibunya, Asma binti Abu Bakar. Tetapi Asma tidak mau menemui Hajjaj. Al-Hajjaj kembali mengutus pembantunya sambil disertai ancaman: 'Kamu datang menghadapku atau akan aku perintahkan seseorang untuk menyeret rambutmu.' Tetapi Asma tetap saja tidak mau menemuinya. Dia berkata: 'Demi Allah, aku tidak akan datang menghadapmu. Silakan kamu menyuruh orang-orangmu untuk menyeret rambutku.' Mendengar jawaban Asma itu Hajjaj berkata: 'Bawa ke sini sandalku.' Hajjaj mengenakan sandalnya lalu berangkat bergegas sampai bertemu dengan Asma. Dia berkata kepada Asma: 'Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang telah aku lakukan terhadap musuh Allah?' Asma berkata: 'Aku berpendapat bahwa kamu telah merusak dunianya, sementara dia telah menghancurkan akhiratmu. Telah sampai berita kepadaku bahwa kamu berkata kepadanya: "Wahai putra wanita empunya dua ikat pinggang," saya, demi Allah, memang mempunyai dua ikat pinggang. Salah satunya aku pergunakan untuk mengikat makanan Rasulullah saw. dan Abu Bakar ke kendaraan mereka. Yang satu lagi aku gunakan sebagai ikat pinggang yang tidak mungkin lepas dari seorang wanita. Kemudian, Rasulullah saw. pernah menceritakan kepada kami bahwa ada seorang pendusta dan seorang perusak. Adapun yang beliau katakan 'si pendusta' (yang beliau maksud si pendusta itu adalah Mukhtar bin Abu Ubaid ats-Tsaqafi yang mengaku sebagai nabi) telah kami lihat orangnya. Sementara si 'perusak/pembunuh' aku kira tidak ada orang lain selain engkau.' Abu Naufal berkata: 'Mendengar jawaban Asma itu Hajjaj segera pergi meninggalkannya tanpa mengemukakan bantahan.'" (HR Muslim)392

(sebelum, sesudah)


Kebebasan Wanita (Tahrirul-Ma'rah fi 'Ashrir-Risalah)
Abdul Halim Abu Syuqqah
Penerjemah: Drs. As'ad Yasin
Juni 1998
Penerbit Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740
Telp. (021) 7984391-7984392-7988593
Fax. (021) 7984388

Indeks Islam | Indeks Wanita | Indeks Artikel | Tentang Pengarang
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team

page | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team