Diplomasi Munafik ala Yahudi
Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel

Paul Findley
(mantan anggota Kongres AS)

DUA PULUH ENAM
GANJARAN MERUGIKAN YANG LAIN DARI ISRAEL

Kerugian AS akibat mendukung Israel sangat besar dan beragam. Jumlah itu tidak hanya berupa mengalirnya dollar dari perbendaharaan AS dan nilai moral yang harus dibayar masyarakat Amerika sebagai akibat kolusi kita dalam represi Israel atas hak-hak asasi manusia. Kerugian-kerugian lainnya bagi negara kita berasal dari tindakan-tindakan langsung dan disengaja oleh para penguasa Israel. Ini termasuk pembunuhan dan pelecehan terhadap personil militer AS, korupsi spionase skala-luas dan berbahaya dari lembaga-lembaga pemerintah kita, dan tekanan-tekanan politik yang menguras ekonomi kita hingga bermilyar-milyar dollar. Kerugian-kerugian lain --termasuk pembunuhan-pembunuhan terhadap para penduduk sipil AS-- ditimpakan oleh musuh-musuh Israel yang mendendam terhadap Amerika karena sikapnya yang pro-Israel.


OMONG KOSONG

"Kepentingan diri sendiri Amerika telah dipenuhi oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan Timur Tengah kita." --Hyman Bookbinder, mantan wakil Komite Yahudi Amerika, 19871

FAKTA

Amerika Serikat telah mengalami kerugian besar akibat hubungan dekatnya dengan Israel. Dikarenakan adanya hubungan ini, orang-orang Amerika dijadikan sasaran logis oleh musuh-musuh Israel. Para diplomat Amerika dari Italia hingga Lebanon dan Sudan telah terbunuh, dan orang-orang Amerika yang sedang dalam perjalanan telah ditempatkan dalam bahaya, dibunuh, atau dilukai dalam pembajakan-pembajakan serta tindakan-tindakan teror lainnya.

Di Amerika Serikat, seorang Palestina, Sirhan Sirhan, menyatakan dirinya telah membunuh Senator Robert Kennedy sebab dia sangat mendendam dengan dukungan Kennedy pada Israel.2 Seorang Arab-Amerika, Alex Odeh, direktur wilayah barat dari Komite Anti-Diskriminasi Arab-Amerika, dibunuh pada 1985 dengan sebuah bom yang ditanamkan di kantornya di Santa Ana, California, dan dicurigai sebagai korban dari para anggota Liga Pertahanan Yahudi.3

Para wartawan dan akademisi Amerika ditahan selama bertahun-tahun sebagai sandera di Lebanon oleh kelompok-kelompok yang memprotes dukungan Amerika kepada Israel, dan 263 orang marinir dan personil pelayanan AS dibunuh dan 151 orang dilukai ketika mereka sedang bekerja di Lebanon pada 1982-1984 untuk mendesak pasukan-pasukan Israel dan Syria ditarik mundur dari wilayah Lebanon4 Dalam kenyataannya, kemarahan kaum Muslim terhadap dukungan Amerika untuk Israel mengakibatkan terusirnya hampir semua orang Amerika sepanjang setengah dasawarsa terakhir 1980-an dari Lebanon, sebuah negara di mana orang-orang Amerika mereguk kemakmuran selama satu abad sebelumnya.

Israel sendiri bahkan telah mengancam keselamatan para warga negara AS. Ada beberapa kejadian yang terdokumentasi di mana Israel dengan sengaja merusak properti AS dan melukai atau bahkan membunuh orang-orang Amerika, di antaranya adalah dalam "Lavon Affair" yang terkenal pada 1954 ketika agen-agen Israel menyerang instalasi-instalasi Amerika di Mesir dalam usaha merusak hubungan AS-Mesir.5

Contoh-contoh lainnya adalah serangan Israel pada 1967 atas USS Liberty yang membunuh 34 orang Amerika dan melukai 171 lainnya6 dan pola sistematis pelecehan Israel terhadap pasukan marinir penjaga perdamaian AS di Lebanon pada 1983-1984.

Perilaku Israel di Lebanon menjadi demikian provokatif sehingga Komandan Marinir jenderal R.H. Barrow mengeluh mengenai hal itu dalam sebuah surat terbuka untuk Menteri Pertahanan Caspar Weinberger: "Jelas bagi saya, dan menurut pendapat para komandan AS di laut maupun di darat, bahwa insiden-insiden antara Marinir dan IDF [Pasukan Pertahanan Israel] diatur, disusun, dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan politik bodoh Israel." Barrow mengemukakan secara rinci delapan kejadian dalam bentrok antara Marinir-IDF yang dicirikannya sebagai "situasi yang mengancam nyawa, sarat dengan penghinaan verbal terhadap para perwira, kesatuan, dan negara mereka." Dalam suratnya ditambahkan: "Tidak habis pikir saya mengapa orang-orang Amerika --yang tengah membaktikan diri mereka untuk menjaga perdamaian-- mesti dilecehkan dan terancam bahaya oleh seorang sekutu."7


OMONG KOSONG

"Kita tidak boleh lupa bahwa Israel tetap menjadi sahabat yang kuat, dapat dipercaya, dan sekutu yang stabil dan strategis." --Bill Clinton, kandidat presiden Demokrat,19928

FAKTA

Di luar peristiwa mata-mata Jonathan Pollard, yang diekspos pada 1985, ada sejumlah kasus yang tidak begitu banyak dipublikasikan di mana orang-orang Israel dan para pendukung mereka telah melakukan tindakan-tindakan ilegal melawan kepentingan-kepentingan AS.

Kasus-kasus yang melibatkan Israel termasuk penahanan para tersangka dengan ikatan-ikatan pada negara Yahudi itu karena usaha mereka menjual peralatan militer senilai $2,5 milyar kepada Iran; pengapalan ilegal sarana-sarana untuk meledakkan bom-bom nuklir ke Israel; upaya untuk mendapatkan teknologi yang menghasilkan laras-laras meriam tank dan bom-bom cluster; dan suatu tindak penggelapan besar-besaran yang melibatkan General Electric serta seorang jenderal angkatan udara Israel dalam penyalahgunaan lebih dari $40 juta dalam bentuk bantuan militer untuk Israel.9

Dalam rencana GE itu, Brigadir Jenderal Israel Rami Dotan dihukum tiga belas tahun penjara, dan pada 22 Juli 1992, GE mengaku bersalah di Pengadilan Federal Distrik Cincinnati telah melakukan penggelapan, pemutihan uang, dan praktek-praktek bisnis yang korup. Ia setuju untuk membayar denda dan penalti sebesar $69 juta.10 Kasus penggelapan besar-besaran ini melibatkan sejumlah perusahaan lain dan mencakup penyelidikan terhadap Pratt & Whitney, Textron Lycoming, General Motors, dan Allison serta sebuah perusahaan dagang Swiss yang misterius, Ellis A.G. Yang juga diperiksa adalah Harold Katz, seorang warga negara ganda AS-Israel yang mempunyai kaitan erat dengan Ellis A.G. dan seorang pria yang apartemennya di Washington digunakan oleh mata-mata Pollard pada pertengahan 1980-an untuk menyalin dokumen-dokumen rahasia AS. Kasus itu bahkan melibatkan dugaan bahwa Dotan membayar $50.000 di Amerika Serikat pada seorang pembunuh bayaran untuk menakut-nakuti atau membunuh salah seorang saksi yang akan memberatkannya.11

Pemerintah Israel telah menolak untuk bekerja sama dengan komite pengawas DPR yang ada di bawah Komite DPR mengenai Energi dan Perdagangan yang diketuai oleh Wakil Demokrat John D. Dingell dari Michigan, dan juga menolak untuk mengizinkan Amerika Serikat menanyai Katz. Dingell mengeluh secara terbuka bahwa Israel "telah bertindak sangat tidak kooperatif."12 Dingell menambahkan: "Di sini kita memberi mereka mesin-mesin, kita memberi mereka bantuan teknis, kita mempunyai program yang sangat luas untuk memberi mereka dana-dana penunjang, dan mereka mengatakan bahwa keamanan nasional mereka mencegah kita untuk menyelidiki sesuatu yang sudah mereka akui sebagai kejahatan."13

Korupsi itu bahkan telah menyusup ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi di Pentagon. Pada 1991 mantan Asisten Sekretaris Angkatan Laut Melvyn R. Paisley mengaku bersalah di Pengadilan Federal Distrik Alexandria (Virginia) telah melakukan penggelapan besar-besaran termasuk memberikan kontrak-kontrak pertahanan kepada perusahaan Israel, Israeli Mazlat Ltd., dan firma-firma AS, Sperry Corporation dan Martin Marietta Corporation. Paisley mengakui dia bergabung dengan persekongkolan untuk membantu Mazlat memenangkan beberapa kontrak pertahanan untuk membuat "lebah-lebah jantan" tanpa pilot untuk pengintaian medan tempur sebagai pertukaran bagi janji suap $2 juta. Menurut mantan mata-mata Mossad Israel, Victor Ostrovsky, Mazlat adalah satu cabang dari Industri Aeronatika Israel dan Tadiran, dan riset untuk "lebah-lebah jantan" Mazlat telah dicuri Mossad dari firma-firma AS.14 Pada 18 Oktober Paisley dihukum empat tahun penjara dan dua tahun hukuman percobaan serta denda $50.000.15

Di samping itu, terjadi skandal Iran-Contra di mana Israel mendorong pemerintah Reagan untuk menjual persenjataan ke Iran dengan harapan dapat membebaskan sandera-sandera Amerika di Lebanon dan sebagai suatu jalan untuk mendapatkan keuntungan ganda membantu dana pemberontak Contra di Nikaragua yang bertentangan dengan keputusan Kongres. Senator David F. Durenberger, ketua Komite Intelijen Senat, di kemudian hari menyimpulkan bahwa pemerintah telah dimanfaatkan oleh "kebijaksanaan luar negeri orang lain dan ketamakan dari para pedagang senjata."16 Sementara penilaian itu tidak berhasil membagi secara adil kesalahan tingkat tinggi yang disandang pemerintah, namun ia dapat menunjukkan secara jelas betapa pentingnya peranan Israel dalam rencana itu.


OMONG KOSONG

"Lebih dari 80 persen bantuan militer AS dibelanjakan di Amerika Serikat. Ini menciptakan lapangan kerja dan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan Amerika." --AIPAC, 199217

FAKTA

"Buy America Act" mensyaratkan pada semua pemerintah asing untuk membelanjakan di Amerika Serikat paling sedikit 80 persen dari bantuan militer yang mereka terima dari para pembayar pajak AS. Tetapi aturan 80 persen itu tidak lagi berlaku untuk Israel. Dalam suatu pengecualian yang diberikan khusus untuk Israel, "Buy America Act" telah dikesampingkan. Israel diperbolehkan untuk membelajakan $475 juta --26 persen dari dana tahunan AS sebanyak $1,8 juta untuk tujuan-tujuan militer-- untuk menciptakan "lapangan kerja dan keuntungari" di Israel, bukan di Amerika Serikat.18

Namun kerugian akibat bias Washington terhadap Israel belum berakhir di sini. Para pendukung Israel secara teratur menekan Kongres untuk menghalangi penjualan peralatan militer bahkan kepada negara-negara Arab moderat yang siap membayar tunai untuk menerima persenjataan bagi pertahanan mereka sendiri. Pada 1985, Saudi Arabia mengungkapkan minatnya untuk membeli dalam partai besar pesawat-pesawat perang F-15 dari Amerika Serikat, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika lima puluh satu senator --suatu jumlah mayoritas dari semua anggota--menandatangani sebuah surat untuk Presiden Reagan yang isinya menentang penjualan itu, maka Saudi berpaling pada Inggris. Penjualan itu bernilai lebih dari $7 juta dan pada akhirnya akan mencapai $30 milyar, suatu perjanjian jual beli senjata paling besar dalam sejarah.19

Kerugian dari penjualan semacam itu menyebabkan Menteri Pertahanan Frank C. Carlucci pada 1988 mengecam "berbagai kelompok kepentingan dan banyak pihak di Kongres" yang menentang penjualan senjata ke negara-negara Arab. Dia mengatakan bahwa tentangan itu menyebabkan Amerika Serikat menderita kekalahan dalam bentuk pengaruh politik di dunia Arab dari negara-negara lain seperti Uni Soviet, Inggris, Cina, dan Prancis. Tambah Carlucci: "Pendapat bahwa kerja sama pertahanan AS dengan negara-negara Arab moderat akan membahayakan Israel tidak mempunyai dasar kuat dan tidak benar."20

Perkataan Carlucci meningkatkan aspek-aspek yang mengganggu dari tentangan Israel terhadap penjualan persenjataan AS ke negara-negara Arab. Itu menyangkut masalah motif-motif Israel. Israel secara konsisten menyatakan ia menentang penjualan semacam itu atas dasar keamanan. Namun kenyataannya ia terus menentang penjualan-penjualan ke Saudi Arabia bahkan ketika Washington memberlakukan batasan-batasan ketat pada penentuan posisi senjata-senjata tersebut. Misalnya, dalam kasus F-15 ke Saudi Arabia, orang-orang Saudi setuju bahwa pesawat-pesawat perang itu tidak akan ditempatkan di mana pun di dekat Israel.21 Ketika mereka akhirnya membeli dari Inggris, tidak ada batasan-batasan seperti itu.

Kecurigaan yang timbul adalah bahwa Israel tidak begitu memikirkan tentang keamanannya dalam kasus-kasus ini melainkan ia ingin menunjukkan pada negara-negara Arab bahwa Israel dapat mendikte kebijaksanaan AS.22


OMONG KOSONG

"Hubungan kami dengan Israel adalah demi kepentingan timbal balik." --Presiden Ronald Reagan, 198823

FAKTA

Suatu contoh mencolok tentang bagaimana Israel mengambil keuntungan dari bantuan AS untuk mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan-kepentingan AS adalah proyek pesawat terbang Lavi pada 1980-an. Proyek yang sangat mahal ini dibiayai oleh pemerintah Reagan untuk menyediakan bagi Israel pesawat-pesawat perangnya sendiri, yang dirancang dan diproduksi di Israel, dengan AS membayar 90 persen pembiayaan dan setengah dari teknologi majunya. Sebagai balasan, Israel berjanji tidak akan menggunakan Lavi untuk bersaing dengan ekspor pesawat terbang AS di Dunia Ketiga, suatu pretensi yang dipertahankan para pendukung Israel hingga hari ini. Kata AIPAC pada 1992: "Lavi tidak pernah dimaksudkan untuk menyaingi pesawat buatan Amerika."24 Namun Washington Post mendapati bahwa Industri Pesawat Terbang Israel, perusahaan milik pemerintah yang dikontrak untuk membuat Lavi, membagikan sebuah brosur pemasaran di awal masa pembuatan proyek yang diberi judul "Lavi: Pesawat Tempur Kuat." Brosur itu memproyeksikan bahwa Israel akan menjual sebanyak 407 jet tersebut ke luar negeri.25

Ini akan menyebabkan Amerika Serikat berada dalam posisi ganjil dengan membiayai dan mendukung teknologi sebuah pesawat tempur asing yang akan bersaing langsung dengan pabrik-pabrik AS, yang menerima begitu banyak tunjangan. Pada akhirnya, pabrik-pabrik AS diselamatkan oleh kecanggungan Israel. Meskipun telah mendapat segala bantuan dari AS, Israel terbukti tidak mampu memproduksi pesawat itu, dan proyek tersebut ditangguhkan karena membumbungnya biaya. Amerika Serikat menghabiskan $1,5 milyar dengan sia-sia untuk Lavi.26

Pengawas Keuangan Negara Israel Yaacov Maltz mengeluarkan sebuah kritik yang sangat menghina: "Banyak sekali keputusan penting dan menentukan dibuat dengan informasi yang tidak berdasar, tidak memadai, tendensius, dan tidak menunjukkan pemahaman akan perkiraan biaya yang layak." Maltz melaporkan, dalam parafrase dari Jerusalem Post, bahwa para pejabat Israel tidak "mempertimbangkan tujuan pesawat itu, ukuran atau biayanya... pun mereka tidak mempunyai rincian mengenai biaya, potensi ekspor, dan aspek-aspek lain dari program tersebut."27

Sekalipun demikian, setelah penundaan Lavi, Menteri Luar Negeri George Shultz mengizinkan Israel untuk menggunakan $450 juta dari bantuan militernya untuk membayar tuntutan pembatalan kontrak; menyetujui kelanjutan dari praktek-praktek "ganti rugi" Israel di mana perusahaan-perusahaan AS harus membeli hingga $150 juta produk-produk Israel sebagai pengganti diterimanya kontrak-kontrak Israel, yang dibayar dengan bantuan Amerika; dan mengizinkan sebanyak $400 juta bantuan AS dibelanjakan setiap tahun di Israel.28

Banyak teknisi Israel yang diberhentikan dari pekerjaannya dalam proyek Lavi pindah ke Afrika Selatan.29 Pemindahan teknologi AS yang demikian canggih terjadi di tengah embargo terhadap perdagangan dengan Afrika Selatan. Pada Agustus 1988 Afrika Selatan memamerkan pesawat perangnya yang baru, Cheetah-E, yang mempunyai banyak ciri yang sama dengan pesawat-pesawat yang diproduksi sebelumnya di Israel.30


OMONG KOSONG

"Kisah yang sesungguhnya adalah siapakah individu-individu tak bernama yang menyebarkan desas-desus jahat [mengenai tindakan Israel mengekspor-kembali teknologi AS]?" --Moshe Arens, menteri pertahanan Israel, 199231

FAKTA

Pada Maret 1992, The Wall Street Journal melaporkan bahwa tidak ada "keraguan di kalangan masyarakat intelijen AS bahwa Israel telah berulang kali terlibat dalam rencana-rencana pengalihan."32 Pada 1 April 1992, inspektur jenderal Kementerian Luar Negeri menuduh bahwa Israel, yang dalam laporan itu dikatakan sebagai "penerima utama" bantuan militer AS, terlibat dalam suatu "pola sistematis dan berkembang" untuk menjual teknologi rahasia AS yang melanggar hukum AS. Laporan itu mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran Israel dimulai kira-kira pada 1983 dan bahwa Israel berusaha untuk menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu.33

Salah satu tuduhan utama terhadap Israel adalah bahwa ia tengah menjual rahasia-rahasia dari misil antimisil Patriot Amerika ke Cina.34 Sebuah tim AS beranggota tujuh belas orang yang dikirim ke Israel tidak berhasil menemukan bukti pemindahan Patriot atau teknologinya.35 Lepas dari itu, Menteri Pertahanan Dick Cheney berkata: "Kami mempunyai alasan yang kuat untuk percaya bahwa telah terjadi pengalihan atas misil-misil Patriot."36

Tuduhan-tuduhan itu mendatangkan gelombang kejutan ke Israel. Penjualan senjata sekitar $1,5 milyar setiap tahun berarti 40 persen dari ekspor Israel dan didasarkan hampir sepenuhnya pada teknologi AS.37 Masalah tindakan Israel mengambil keuntungan dari teknologi rahasia AS diselidiki secara rinci oleh para wartawan Andrew dan Leslie Cockburn pada 1991 dalam buku mereka yang membukakan pikiran kita; Dangerous Liaison. Setahun sebelumnya, Los Angeles Times melaporkan bahwa Israel telah menjadi "pintu belakang" yang dapat menyediakan bagi Cina teknologi persenjataan AS.38

Pemindahan teknologi Amerika ke Israel dimulai pada 1970 dengan ditandatanganinya Persetujuan Pertukaran Data Perkembangan Pertahanan Induk yang berjangkauan jauh, yang memungkinkan terjadinya pemindahan teknologi paling besar ke Israel atau negara lain yang terlibat.39 Masukan teknologi yang begitu banyak telah menjadi anugerah bagi ekonomi Israel. Pada 1981 Israel bangkit dari sebuah negara pengimpor senjata yang secara teknologis terbelakang menjadi pengekspor ketujuh terbesar senjata-senjata militer di dunia dengan penjualan luar negeri sebesar $1,3 milyar.40

Seorang ahli sejarah Israel mengatakan, "Orang-orang Amerika sesungguhnya telah membuat seluruh persenjataan dan teknologi paling canggih yang berarti pesawat tempur, misil, radar, baju baja, dan artileri terbaik-terbuka bagi Israel. Israel, pada gilirannya, telah memanfaatkan pengetahuan ini, dengan mengadaptasi peralatan Amerika untuk meningkatkan kecanggihan teknologinya sendiri, yang terlihat nyata dalam pameran pertahanan Israel."41


OMONG KOSONG

"Saudi Arabia semakin tergantung pada Amerika Serikat daripada Amerika Serikat pada Saudi Arabia." --AIPAC,199242

FAKTA

Setelah Saudi Arabia menjatuhkan embargo minyaknya yang melumpuhkan pada 1973, Menteri Luar Negeri Henry Kissinger mengakui setelah terlambat: "Saya telah membuat kesalahan."43

Embargo minyak Arab pada 1973-1974 muncul karena Presiden Nixon mengabaikan peringatan berulang-ulang dari negara-negara penghasil minyak bahwa Amerika Serikat hendaknya mempertahankan posisi tidak memihak dalam perang Arab-Israel pada 1973.44 Namun, atas desakan Kissinger, Nixon mengesampingkan permintaan Saudi Arabia dan secara terbuka mengirimkan persenjataan militer ke Israel di tengah perang Oktober.45

Raja Faisal dari Saudi Arabia dan para pemimpin Arab lainnya telah meminta Washington tidak lebih dari apa yang telah dituntut oleh Dewan Keamanan PBB enam tahun sebelumnya bahwa Israel kembali ke batas-batas gencatan senjata pada 1967.46 Raja Faisal telah berulang kali menyampaikan pesan ini ke Washington sejak musim semi tetapi tidak ada hasilnya.47

Sebaliknya, Nixon, yang telah sangat lemah akibat skandal Watergate, memberi Israel $2,2 milyar dalam bentuk bantuan darurat pada 19 Oktober.48 Hari berikutnya Saudi Arabia mengumumkan embargo minyak total terhadap Amerika Serikat sebagai balasan bagi dukungannya pada Israel. Negara-negara minyak lainnya segera mengikuti 49

Catatan kaki:

1 Bookbinder dan Abourezk, Through Different Eyes, 7.

2 United Press International, New York Times, 26 September 1980.

3 New York Times, 12 Oktober 1985. Juga lihat Robert I. Friedman, "Who Killed Alex Odeh?" Village Voice, 24 November 1987; Kementerian Energi AS, Terrorism in the United States and the Potential Threat to Nuclear Facilities, R-3351-DOE, Januari 1986, 11F-16, dikutip dalam Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 863.

4 Frank, U.S. Marines in Lebanon, 140, Lampiran F.

5 Neff, Warriors at Suez, 56-62.

6 Ennes, Assault on the Liberty, Lampiran O.

7 New York Times, 18 Maret 1983. Untuk tinjauan rinci mengenai bentrok-bentrok ini, lihat Green, Living by the Sword, 177-92. Di samping surat Barrow, lihat Clyde Mark, "The Multinational Force in Lebanon," Pelayanan Riset Kongres,19 Mei 1983, yang memuat banyak contoh tentang pelecehan IDF terhadap pasukan AS. Juga lihat Frank, U.S. Marines in Lebanon, yang cenderung meremehkan situasi itu.

8 AIPAC, Near East Report, 13 Juli 1992.

9 Lihat Jeff Gerth, New York Times, 2 Agustus 1985; Mary Thornton, Washington Post, 23 April 1986; William Claiborne, Washington Post, 16 Mei 1986; Robert F. Howe, Washington Post, 15 Juni 1991,19 Oktober 1991; Edward T. Pound dan David Rogers, Wall Street Journal, 20 Januari 1992.

10 Steven Pearlstein, Washington Post, 23 Juli 1992.

11 Pernyataan pembuka dari ketua John D. Dingell (D-Mich) dalam dengar-pendapat dengan komite kekeliruan DPR dari Komite DPR mengenai Energi dan Perdagangan menyangkut kasus Dolan, 29 Juli 1992; diterbitkan dalam Washington Report on Middle East Affairs, Agustus/September 1992.

12 Frank Collins, "House Subcommitte Protests Stonewalling of U.S. Investigation;" The Washington Report on the Middle East, Agustus/September 1992.

13 Allison Kaplan, Jerusalem Post International Edition, 8 Agustus 1992.

14 Ostrovsky dan Hoy, By Way of Deception, 270.

15 Robert F. Howe, Washington Post, 15 Juni 1991, 19 Oktober 1991.

16 Jelaslah bahwa yang dimaksud "orang lain" adalah Israel; lihat New York Times, 7 Januari 1987. Meskipun komite penyelidikan kongres cenderung mengabaikan keterlibatan Israel dalam peristiwa itu, Para pejabat Israel memainkan peranan menentukan dalam hubungan pemerintah Reagan dengan Iran sejak sebelum pemilihan tahun 1980. Untuk suatu penelitian menarik mengenai peranan Israel dalam mempengaruhi hubungan AS dengan Iran, lihat Jane Hunter, "The Shadow Government;" The Link, Oktober-November 1987. Dalam jalur yang sama, lihat juga Christopher Hitchens, "Minority Report;" The Nation, 24 Oktober 1987, 21 November 1987.

17 Bard dan Himelfarb, Myths and Facts, 246-47.

18 Robert Byrd, Congressional Record, 1 April 1992.

19 John Newhouse, "Politics and Weapon Sales;" The NewYorker, 9 Juni 1986, 41-61. Juga lihat Briget Bloom dan Richard Johns, Financial Times (London), 19 Februari 1986; Molly Moore dan David B. Ottaway, Washington Post, 22 Oktober 1988; A. Craig Murphy, "Congressional Opposition to Arsms Sales to Saudi Arabia;" American-Arab Affairs, Musim Semi 1988,108.

20 Molly Moore dan David B. Ottaway, Washington Post, 22 Oktober 1988. Teks itu terdapat pada Kantor Asisten Menteri Pertahanan (Urusan Publik), No. 525-88, 21 Oktober 1988. Juga lihat Donald Neff, "The Backlash against Israel's Washington Lobby," Middle East International, 18 November 1988.

21 A. Craig Murphy, "Congressional Opposition to Arms Sales to Saudi Arabia;" American-Arab Affairs, Musim Semi 1988, 111.

22 Rurenberg, Israel and the American National Interest, 350-51.

23 Davis, Myths and Facts, 1989, 229.

24 Ibid., 234.

25 Charles R Babcock, Washington Post, 6 Agustus 1986.

26 New York Times, 3 September 1987. Juga lihat Ball, The Passionate Attachment, 264-68; Cockburn, Dangerous Liaison, 191; Clyde Mark, "Israel: U.S. Foreign Assistance Facts;" Divisi Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Nasional, Pelayanan Riset Kongres, diperbarui 5 Juli 1991; Kantor Akunting Umurn AS, "Foreign Assistance: Analysis of Cost Estimates for Israel's Lavi Aircraft;" Januari 1987.

27 Joshua Brilliant, Jerusalem Post International Edition, 11 Juli 1987.

28 Charles R. Babcock, Washington Post, 11 September 1987.

29 Cockburn, Dangerous Liaison, 191.

30 Ibid.

31 Thomas L. Friedman, New York Times,15 Maret 1992.

32 Edward T. Pound, Wall Street Journal, 13 Maret 1992. Juga lihat David Hoffman dan R Jeffrey Smith, Washington Post, 14 Maret 1992.

33 David Hoffman, Washington Post, 2 April 1992.

34 Bill Gertz dan Rowan Scarborough, Washington Times, 12-13 Maret 1992. Untuk suatu survei tentang dukungan AS pada industri senjata Israel, lihat Bishara A. Bahbah, "The US Role in Israel's Arms Industry;" The Link, Desember 1987.

35 David Hoffman, Washington Post, 3 April 1992.

36 Bill Gertz, Washington Times, 9 April 1992. Juga lihat Richard H. Curtiss, Washington Report on Middle East Affairs, April/Mei 1992.

37 Cockburn, Dangerous Liaison, 7.

38 United Press International, #0543, 13 Juni 1990. Juga lihat David B. Ottaway, Washington Post, 23 Mei 1988,19 Desember 1988; C.L. Sulzberger, New York Times, 30 April 1971; Beit-Hallahmi, The Israeli Connection, 108-74; Robert D. Shuey, et al., "Missile Proliferation: Survey of Emerging Missile Forces;" Pusat riset Kongres, 3 Oktober 1988.

39 Lihat Kantor Akunting AS, "US Assistance to the State of Israel, Report by the Comptroller General of the United States;" GAO/ID-83-51,24 Juni 1983,43. Laporan tersebut pada waktu itu merupakan survei paling lengkap yang pernah dibuat mengenai pengaturan-pengaturan khusus luar biasa yang diberikan untuk Israel. Ketika dirilis, laporan itu telah banyak sekali disensor, namun versi yang tidak disensor dengan segera bocor ke organisasi-organisasi seperti Komite Anti-Diskriminasi Arab- Amerika. Konsep awal yang tidak disensor dari laporan itu dapat ditemukan dalam El-Khawas dan Abed-Rabbo, American Aid to Israel, 114-91.

40 Drew Middleton, New York Times, 15 Maret 1981. Untuk laporan mengenai keadaan industri Israel pada 1986, lihat Thomas L. Friedman, New York Times, 7 Desember 1986.

41 Klieman, Israel's Global Reach, 175.

42 Davis, Myths and Facts 1989, 248.

43 Sheehan, The Arabs, Israelis, and Kissinger, 69.

44 Ball, The Passionate Attachment, 269-72; Kelly, Arabia, the Gulf, and the West, 396.

45 Kissinger, Years of Upheaval, 515; Nixon, Memoirs, 927.

46 Kelly, Arabia, the Gulf, and the West, 39.

47 Neff, Warriors against Israel, 112-14; Sheehan, The Arabs, Israelis, and Kissinger, 67.

48 Lacey, The Kingdom, 413; Nixon, Memoirs, 932.

49 Lacey, The Kingdom, 413; Gugus Tugas Timur Tengah Kementerian Luar Negeri, Laporan Situasi #51, 21 Oktober 1973 (rahasia, dibukakan 31 Desember 1981). Juga lihat Neff, Warriors against Israel, 260.


Diplomasi Munafik ala Yahudi -
Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel oleh Paul Findley
Judul Asli: Deliberate Deceptions:
Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship by Paul Findley
Terbitan Lawrence Hill Brooks, Brooklyn, New York 1993
Penterjemah: Rahmani Astuti, Penyunting: Yuliani L.
Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 1, Dzulhijjah 1415/Mei 1995
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038
 
Indeks artikel kelompok ini | Disclaimer
ISNET Homepage | Pustaka Online Media

Dirancang oleh MEDIA, 1997-2001.
Hak cipta © dicadangkan.