ANCAMAN ISLAM
Mitos atau Realitas

oleh John L. Esposito

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
| Indeks Antar Agama | Indeks Artikel | Tentang Pengarang |

 

KERAJAAN UTSMANIYAH: MUSUH EROPA                       (2/2)
 
Kata-kata yang kasar dan propaganda dipopulerkan oleh  karya
terlaris  Bartholomew  Gregevich  dari Kroasia, Miseries and
Tribulations of the Christians Held in Tribute  and  Slavery
by  the  Turks.[5] Turki yang  bermusuhan, yang lebih banyak
diinformasikan dengan  hawa  nafsu  daripada  dengan  nalar,
mengalahkan  kalangan  suara  minoritas diplomat dan ilmuwan
yang benar-benar melihat Turki atau mempelajari Turki dengan
adil  dan,  seperti  ahli  filsafat  politik  Perancis, Jean
Bodin, yang dapat mencatat:
 
Raja Turki yang memerintah sebagian besar  Eropa  melindungi
ritus  agama  dan  para  pangeran  di  dunia  ini. Dia tidak
memaksa seorang pun, tetapi justu  mengizinkan  orang  untuk
hidup  sesuai  dengan  panggilan  jiwanya.  Lebih  lagi,  di
istananya di Pera ia mengizinkan praktek empat macam  agama,
Yahudi,  Kristen  menurut  ritus  Roma,  dan  menurut  ritus
Yunani, serta Islam.[6]
 
Ancaman Utsmaniyah memberikan kontribusi  pada  perkembangan
"Eropa" sebagai pusat identitas dari ikatan bersama di dalam
Kristen Eropa yang terpecah-pecah sebagai akibat  reformasi.
Karena itu,  "Erasmus  mendesak  bangsa  Eropa    tidak lagi
menyebutnya  sebagai  kekuatan  Kristen-   untuk   memerangi
Turki."[7]
 
Kekuasaan    dan   keagungan   Utsmaniyah   terjadi   berkat
perkembangan sistem pelatihan para pemuda dalam  kemiliteran
dan administrasi. Hal itu menghasilkan birokrasi dan militer
kelas satu yang  benar-benar  bertumpu  pada  para  ulamanya
serta  satuan  pejabat  dan  tentara  budak  elite, Janisari
(salah satu  bagian  invanteri  Turki  -  penerjemah).  Para
pemuda   Kristen   diambil   dari   penduduk   Balkan   yang
ditaklukkan, dan setelah itu  dari  Anatolia,  mereka  masuk
Islam dan dikirim ke sekolah-sekolah khusus yang melatih dan
menghasilkan   bergenerasi-generasi   pejabat    Utsmaniyah.
Gabungan  pejabat  yang  berkualitas tinggi dan militer yang
terlatih dan berdisiplin dan mampu memantaatkan serbuk mesiu
menjadikan  Utsmaniyah  dapat menaklukkan wilayah besar Arab
dan Eropa: "Disiplin dan daya tembak tentara inilah (tentara
Utsmaniyah  menggunakan artileri dan senjata tangan...) yang
menciptakan citra keperkasaan  dan  kekuatan  Utsmaniyah  di
Eropa.[8] Kira-kira  delapan  ratus  tahun  setelah  ancaman
pertama Arab ke Eropa, Islam, yang  kini  berada  di  tangan
Turki,  tampak  lebih  mengancam.  Setelah menguasai Balkan,
tampaknva mereka siap menguasai Eropa Barat. Sejak abad  ke-
15 hingga 17 pasukan Utsmaniyah tampaknya terlalu kuat untuk
kaum Kristen Eropa. Namun kekalahan angkatan laut Utsmaniyah
di  Lepanto  pada  tahun  1571  merupakan  titik  balik yang
dianggap sebagai kemenangan  Kristen  Eropa  melawan  Muslim
Turki,  dan  keberhasilan  pertahanan  Wina  pada tahun 1683
memperkuat  runtuhnya  ancaman  Utsmaniyah  dan   pergeseran
kekuasaan  ke  tangan  Eropa  yang  kini  percaya  diri  dan
memperoleh kekuatannya  kembali.  "Bencana  Kristen"  segera
menjadi "orang sakit Eropa."[9]
 
Perang Salib dan kerajaan Utsmaniyah jelas menunjukkan bahwa
walaupun akar teologis Kristen dan Islam  sama,  kepentingan
politik  dan  agama yang terus bersaing menghasilkan sejarah
konfrontasi  dan  peperangan  dimana  Eropa  Kristen  selama
berabad-abad  sering  bertahan terhadap tentara Muslim, yang
tampaknya kadangkala bertempur demi eksistensinya.
 
Catatan kaki:
[5]: Ibid., hlm. 147.
[6]: Ibid., hlm. 151.
[7]: Ibid., hlm. 148.
[8]:
Bosworth, "Historical Background," hlm. 25.
[9]: Ibid., hlm. 139.


ANCAMAN ISLAM Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or reality?) John L. Esposito Penerbit Mizan Jln. Yodkali 16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038


| Indeks Antar Agama | Indeks Artikel | Tentang Pengarang |
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team