Kumpulan Artikel
Mengenai Peristiwa Ambon

ISNET Homepage | MEDIA Homepage
Program Kerja | Koleksi | Anggota | Indeks Artikel

 

Panglima Laskar Jihad: Yang dilakukan di Maluku untuk membelas kehormatan Agama, Bangsa dan Negara

Selasa, 18 Juli 2000, 15:07 WIB
http://www.berpolitik.com/article.pl?sid=100/07/18/157254

Jakarta -- Kerusuhan yang kini bergejolak di Maluku merupakan bentuk makar terhadap negara Republik Indonesia. Hal itu hanya dapat diredamkan bila tokoh-tokoh yang melancarkan makar tersebut ditangkap dan diadili. Demikian diungkapkan Panglima Laskar Jihad, Ustad Ja'far Umar Thalib dalam jumpa pers bersama KISDI di Masjid Al Furqon, Jakarta siang ini. Tokoh-tokoh makar yang dimaksud diantaranya Ketua Sinode Gereja Maluku, Semi Titalay yang sekarang berada di Belanda dan Diki Watimena bekas Walikota Ambon. Menurut Ja'far mereka adalah orang-orang yang mendapat perlindungan dari konspirasi internasional sehingga pemerintah tidak berani bertindak tegas terhadap tokoh-tokoh tersebut. Selain itu Panglima Laskar Jihad ini juga menyesalkan pernyataan Presiden Gus Dur yang menantang Umat Islam Indonesia, khususnya Umat Islam Maluku untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tetapi ketika tantangan itu dijawab Umat Islam, pemerintah Gus Dur malah kebingungan sendiri karena terus-menerus mendapat hardikan dan tekanan dari Amerika dan sekutunya.

Karena itu, Gus Dur dianggap Ja'far gagal dalam mengatasi masalah Maluku. Kegagalan pemerintahan Gus Dur untuk mengatasi problem Maluku itu, tambah Ja'far, ditutupi dengan retorika politik murahan, gaya lama dengan melemparkan kesalahan kepada Laskar Jihad Ahli Sunnah wal Jamaah.

Kedatangan Laskar Jihad ke Maluku, menurutnya merupakan hak dan kewajiban untuk membela dan melindungi rakyat Indonesia yang sedang dijadikan bulan-bulanan oleh para pemberontak RMS dan Gereja Protestan Maluku.

Apa yang dilakukan Laskar Jihad dan kaum muslimin di Maluku sampai hari ini adalah sebagai pihak yang membela diri dan sekaligus membela agama, negara dan bangsanya yang terinjak-injak oleh para penjahat perang tersebut. Perang yang dilancarkan kaum muslimin Maluku adalah ofensif balasan atau defensif aktif untuk menghancurkan seluruh potensi ancaman terhadap keamanan dan kesatuan negara Indonesia serta kehormatan kaum muslimin, jelas Ja'far memberi alasan.

Karena itu Ja'far berharap, agar pemerintah, khususnya aparat TNI atau Polri dan Anggota DPR agar tidak terpengaruh dengan rekayasa dan manuver politik yang dilancarkan oleh para pemberontak di Maluku beserta konspirasi internasional. Kemudian para wakil rakyat di DPR hendaknya lebih arif menyikapi permasalah kasus Maluku dan menyadari bahwa Maluku merupakan kasus yang bermuara kepada disintegrasi bangsa.***(num/zam)

ISNET Homepage | MEDIA Homepage
Program Kerja | Koleksi | Anggota | Indeks Artikel

Please direct any suggestion to Media Team