Kumpulan Artikel
Mengenai Peristiwa Ambon

ISNET Homepage | MEDIA Homepage
Program Kerja | Koleksi | Anggota | Indeks Artikel

 

Derita Ambon, Derita Pers, Derita Kita
 
Oleh Eep Saefulloh Fatah
 
Mengamati simpang siur lalu lintas pemberitaan tentang Ambon
beberapa hari ini, mau tak mau mengingatkan saya pada dua hal
sekaligus. Pertama, saya teringat kalimat pertama sebuah buku
tentang politik pers yang saya lupa judul dan penulisnya.
Kedua, saya teringat pada seorang anak baru gede (ABG) di
Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
 
Buku kumpulan tulisan yang saya pinjam dari perpustakaan
kampus beberapa tahun lampau itu, dimulai dengan kalimat yang
masih saya ingat. Tertulis di sana: "Jika sebatang pohon
tumbang di sebuah hutan tetapi tak ada pers yang meliputnya,
apakah Anda bisa yakin bahwa pohon itu benar-benar tumbang?"
 
Kalimat itu menegaskan sebuah fakta yang susah diingkari bahwa
kerapkali kita mendefinisikan kenyataan berdasarkan pada
realitas yang dirumuskan media. Begitulah saya kira kasus
Ambon, termasuk episode-episode menyedihkan pembantaian orang
Islam di Halmahera belakangan ini, kita pahami sekarang. Media
terlampau hemat bahkan cenderung menjadi pembohong dalam
pemberitaan mengenai soal itu. Maka kita pun seolah-olah
dipaksa menerima fakta bahwa di sana tak terjadi pembantaian
yang biadab itu; bahkan tak terjadi apa-apa.
 
Selain mengingat kalimat pembuka buku di atas, saya juga
teringat pada seorang ABG di kecamatan Taliwang, Sumbawa. Pada
20 Juni 1999, kebetulan saya sempat singgah di kecamatan di
ujung barat pulau Sumbawa itu. Ketika saya lewat di sepanjang
jalan yang bersisian dengan Danau Lebo -- sebuah danau yang
tidak terurus tapi ditawarkan di buku panduan wisata Sumbawa
-- saya bertemu dengan segerombolan ABG yang sedang
berjalan-jalan. Di punggung kaos salah seorang ABG itu
tertulis dengan jelas sebuah kalimat dengan nada sedikit
menggugat: "Mengapa Berita selalu Derita?"
 
Saya menduga, kaos oblong yang dipakai sang pemuda berasal
dari institusi yang memang mencermati pers pada waktu itu --
di tengah gegap gempita teriakan reformasi dan hilir mudik
berita-berita tentang derita dari berbagai daerah di Tanah Air
akibat krisis berlapis-lapis. Karena itu, keluarlah gugatan
terhadap pemberitaan media yang ternyata selalu mewartakan
penderitaan.
 
Menyangkut Ambon, belakangan memang ada sedikit media massa
yang dengan telanjang memberitakan pembantaian demi
pembantaian kemanusiaan dalam konflik Ambon dan belakangan
Halmahera. Membaca media yang jumlahnya sangat sedikit --
bahkan menyangkut koran, barangkali hanya Republika
satu-satunya (sayangnya, saya dengar di beberapa tempat
Republika diborong orang sehingga susah dicari) -- yang
mewartakan penderitaan kemanusiaan di Ambon, barangkali banyak
orang yang akan merasa 'terganggu' lantaran lagi-lagi yang
mereka baca adalah derita.
 
Lalu, bagaimanakah semestinya pers memperlakukan kasus konflik
dan pembunuhan kemanusiaan semacam Ambon-Halmahera? Dalam
kasus ini, saya tidak setuju dengan politik pers yang
menyembunyikan fakta untuk alasan apapun. Sejauh pers bisa
menjaga kredibilitas pemberitaannya, maka adalah kewajiban
mereka untuk mewartakan segala sesuatu secara faktual dan
aktual.
 
Dulu, dengan alasan stabilitas, pers memang kerap dipaksa
untuk menyembunyikan banyak fakta menyangkut konflik
sosial-politik horizontal (internal dalam masyarakat) maupun
vertikal (negara versus masyarakat). Seolah-olah dengan cara
ini konflik lebih mudah diresolusi dan masyarakat tetap hidup
aman tentram damai. Tetapi sejarah sudah membuktikan bahwa
hidup dalam timbunan kebohongan semacam itu ternyata hanya
menebar dan menanamkan bom-bom waktu yang meledak hari-hari
ini satu per satu.
 
Belajar dari sejarah yang gelap itu, maka sudah saatnya pers
tampil dengan penuh tanggung jawab. Saya terus terang kecewa
dengan pemberitaan umumnya media di Jakarta yang menutup mata
terhadap pembantaian demi pembantaian di Ambon-Halmahera
hari-hari ini. Kalau saja mereka benar-benar bekerja atas
dasar prinsip kemanusiaan yang mengatasi perbedaan agama,
politik, dan ideologi, semestinya mereka mewartakan
Ambon-Halmahera sebagaimana adanya.
 
Dengan cara itu saya kira kita perlahan-lahan bisa membangun
diri sebagai masyarakat yang semakin matang dan dewasa. Memang
derita demi derita barangkali akan kerap terhidang oleh pers
di depan mata kita. Tetapi justru dengan cara inilah kita
berusaha mencari jalan keluar secara tepat dan proporsional.
Dengan cara itu kita menjadikan derita Ambon sebagai derita
kita.
 
Justru pada titik itulah pemerintahan Abdurrahman Wahid dan
Megawati Sukarnoputri benar-benar mengecewakan. Di satu sisi,
Abdurrahman Wahid setiap kali selalu saja abai pada keharusan
untuk bersikap serius, sistematis, terencana, dan
terkoordinasi dengan pemerintahannya dalam menangani masalah
Ambon dan masalah-masalah lain. Saya melihat kecenderungan
pada Abdurrahman Wahid untuk percaya pada rekayasa fakta-fakta
dari orang-orang di sekelilingnya, dan sebaliknya mengabaikan
fakta-fakta sesungguhnya yang disampaikan langsung oleh orang
pertama atau korban. Terakhir, dengan mempercayai bahwa korban
Halmahera hanya lima orang, pemahaman Presiden Abdurrahman
terhadap masalah Ambon menjadi terasa menggelikan.
 
Megawati setali tiga uang. Dalam posisinya sebagai Wapres dan
pengemban tugas khusus menangani soal Ambon, Megawati bukan
saja terlihat tak memiliki inisiatif yang jelas, tapi juga
seperti orang yang kehabisan akal. Terlebih-lebih sejak awal
ia salah memahami kasus Ambon dengan membantah bahwa ada unsur
konflik agama di sana. Bagaimana mungkin kita berharap banyak
pada Mega untuk memfasilitasi penyelesaian masalah Ambon
sementara anatomi masalahnya saja ia pahami secara salah.
 
Pendeknya, sebagai warga negara saya cemas melihat pemerintah
sekarang yang tak saja lamban namun juga seperti kehilangan
kepekaan minimal terhadap masalah-masalah di sekelilingnya.
Tetapi, masih ada waktu untuk mengingatkan mereka. Dan jika
ternyata mereka -- pemerintah -- tak mau mendengar
peringatan-peringatan rakyat menyangkut kebenaran, kita layak
untuk semakin khawatir. Bukankah sejarah membuktikan bahwa
pemerintahan seperti itu sangat mudah untuk menjadi keropos;
atau tetap seolah-olah kuat tetapi dengan otoritarianisme
sebagai penopangnya.
 
Sebagai warga negara, saya tak mau punya pemerintahan semacam
itu. Saya berharap dengan segenap biaya transisi yang telah
kita keluarkan, kita setidaknya memiliki pemerintah yang mau
mendengar, punya rencana kerja yang jelas, dan tidak merasa
benar sendiri. Tanpa pemerintahan semacam ini, saya yakin
transisi demokrasi akan semakin terancam.
 
Buncit, 15 Januari 2000
 
 
TANGGAPAN DARI PEMBACA:
 
Sayang, Eep membuat analisis dari balik meja, tapi tidak turun
ke lapangan sehingga kurang memahami kesulitan wartawan di
lapangan.
 
Di Ambon, garis demarkasi antara Kristen dan Islam sudah
begitu parah, sehingga sulit bagi wartawan Muslim untuk
meliput/mewawancarai sumber Kristen di wilayah Kristen. Begitu
pula sebaliknya. Sulit bagi wartawan Kristen untuk meliput di
daerah Islam. Inilah yang saya dengar dari para wartawan yang
meliput langsung di Ambon.
 
Akibatnya, kita hanya memperoleh berita sepotong-sepotong dan
sepihak, baik yang Kristen maupun yang Islam.
 
Satrio
From: "Majalah D&R" <drnet@idola.net.id>
Date: Mon, 17 Jan 2000 23:40:44 +0700

ISNET Homepage | MEDIA Homepage
Program Kerja | Koleksi | Anggota | Indeks Artikel

Please direct any suggestion to Media Team